Malang, Radar Malang — Konten yang menampilkan keseharian seseorang, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur, semakin populer di media sosial. Banyak warganet menyukai konten seperti ini karena terasa dekat dan autentik.
Secara sederhana, A Day in My Life berarti “sehari dalam hidup saya”. Kreator biasanya merekam dan membagikan berbagai aktivitas yang dilakukan dalam satu hari. Video tersebut kemudian dilengkapi musik, transisi, atau narasi agar lebih menarik untuk ditonton.
Mengapa Orang Suka Membuat Konten A Day in My Life?
Setiap kreator memiliki tujuan yang berbeda ketika membuat konten A Day in My Life. Misalnya, membagikan pengalaman, memberikan hiburan, atau membangun interaksi dengan penonton.
Konten tersebut juga dapat digunakan untuk membangun personal branding. Aktivitas sehari-hari yang dibagikan membuat penonton mengenal kebiasaan, minat, dan gaya hidup kreator.
Namun, semakin banyak hal yang dibagikan kepada publik, semakin penting pula untuk memperhatikan batas privasi.
Baca Juga: Terlalu Sering Oversharing di Media Sosial? Kenali Tandanya Sebelum Terlambat!
Batas antara Sharing dan Oversharing
Keinginan untuk membagikan keseharian terkadang membuat seseorang lupa bahwa tidak semua hal perlu diketahui publik. Membagikan aktivitas sehari-hari secara berlebihan dapat membuat informasi pribadi ikut tersebar. Kebiasaan tersebut dikenal sebagai oversharing.
Oversharing adalah kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Misalnya, seseorang dapat membagikan aktivitasnya secara umum tanpa perlu mencantumkan alamat tempat tinggal secara rinci. Begitu pula dengan rencana kegiatan di hari berikutnya. Detail seperti lokasi dan waktu secara spesifik sebaiknya dipertimbangkan kembali sebelum dibagikan.
Hal lain yang kerap terlewat adalah informasi pada kendaraan. Pembuat konten sebaiknya mempertimbangkan untuk menutupi nomor polisi kendaraan yang terlihat dalam video agar informasi tersebut tidak mudah diketahui publik.
Dampak Oversharing
- Membahayakan privasi dan keamanan diri
Informasi yang terlalu detail dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Unggahan mengenai alamat tempat tinggal, rutinitas, lokasi, hingga orang-orang terdekat dapat memberikan gambaran mengenai kehidupan pribadi seseorang. -
Menimbulkan rasa malu, menyesal, atau cemas
Informasi yang sudah diunggah ke media sosial dapat tersebar lebih luas dari yang diperkirakan. Hal ini dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman ketika informasi tersebut diketahui oleh banyak orang. - Membuat batas privasi semakin kabur
Ketika membagikan informasi pribadi menjadi hal yang dianggap biasa, batas antara kehidupan pribadi dan kehidupan publik dapat semakin sulit dibedakan. Padahal, memiliki ruang pribadi tetap penting meskipun seseorang aktif di media sosial.
Baca Juga: “A Day in My Life” Versi Realistis, Saat Rutinitas Biasa Justru Jadi Konten
Pada akhirnya, membuat konten A Day in My Life bukan berarti harus membagikan seluruh aktivitas kepada publik. Kreator tetap dapat menunjukkan kesehariannya dengan memilih informasi yang aman untuk dibagikan dan menyimpan hal-hal yang bersifat pribadi.
Berbagi pengalaman di media sosial dapat menjadi cara untuk terhubung dengan orang lain. Namun, menjaga privasi juga menjadi bagian penting dari bagaimana seseorang menggunakan media sosial secara bijak.
Editor : Aditya NovrianSumber : alodokter.com, indonesiana.id, netralnews.com