RADAR MALANG - Salat yang bagaimanakah yang bisa menghadirkan ketenangan serta mencegah perbuatan buruk? Imam Abu Hamid Al Ghazali alias Imam Al Ghazali mempunyai jawaban. Yaitu, salat yang mampu menghadirkan hati selama mengerjakannya.
Untuk bisa menghadirkan hati selama melaksanakan salat, tentu saja harus memahami setiap bacaan dalam salat. Kemudian, begitu tangan terangkat dan mengucapkan takbiratul ihram, seluruh perhatian hanya terpusat kepada Allah. Lepaskan pikiran dari pekerjaan, rumah tangga, sekolah, atau urusan dunia lainnya.
Tidak mudah memang karena perhatian dan pikiran manusia gampang sekali berubah. Bahkan ketika sedang berkonsentrasi pada bacaan-bacaan salat. Begitu gampangnya pikiran dan perhatian itu berubah, Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin memiliki perumpamaan seperti gelembung-gelembung air ketika mendidih. Blukuthuk-blukuthuk. Muncul-tenggelam, muncul-tenggelam.
Karena itu, berkonsentrasi dan khusyuk harus diupayakan terus menerus selama salat. Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menasihatkan, yang pertama kali harus dibangun adalah kesadaran bahwa ketika salat sejatinya kita sedang berkomunikasi dengan Allah. Bercakap-cakap, berbincang dengan Allah.
Baca Juga: Ngaji Jumat Surat Al A’la: Biasa Dibaca Nabi saat Salat Jumat bersama Al Ghasyiyah
Selayaknya orang bercakap-cakap, maka pikiran tidak boleh ke mana-mana. Harus fokus kepada yang diajak berbicara. Akan percuma saja kita mengajak bicara orang lain, tapi pikiran kita ke mana-mana. Apalagi jika sama sekali tidak memahami apa yang kita ucapkan.
Mengutip QS Thaha ayat 14, Imam Al Ghazali mengatakan bahwa perintah salat itu datang agar kita mengingat-ingat Allah. “Wa aqiimish shalaata li dzikrii (Dan dirikanlah salat itu untuk mengingat-ingat kepada-Ku).”
Kemudian QS Al A’raf ayat 205: “Walaa takun-minal ghaafiliin (Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai).” Lalai di sini, seperti dikatakan Imam Al Ghazali, adalah pikiran yang ke mana-mana.
Lalu Imam Al Ghazali menyambung dengan QS An Nisa ayat 43: “Hattaa ta’lamuu maa ta’lamuun (Sehingga kamu semua mengetahui apa-apa yang kamu ucapkan).”
Baca Juga: Ngaji Jumat: Ini Dalil-Dalil Kemudahan Berislam, tapi Bukan Berarti Bisa Seenaknya
Salat pada hakikatnya berdzikir, mengingat Allah. Berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Perkasa. Tuhan Yang Memenuhi Setiap Kebutuhan Manusia. Dzat Yang Maha Tinggi. Raja Diraja seluruh alam. Maka, sebagaimana mestinya berkomunikasi kepada Raja Diraja, hendaknya kita merendahkan diri selama salat.
Ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW sebagaimana dikutip Imam Al Ghazali dalam ringkasan Ihya Ulumuddin, Mauidhatul Muslimin min Ihya’ ‘Ulumiddin, karya Syaikh Muhammad Jamaluddin Al Qasimi Addimasyqi: “Innamaa-shshalaatu tamaskunu wa tawaadlu’u (Sesungguhnya salat itu adalah ketenangan dan merendahkan diri).” HR Tirmidzi dan An Nasa’i.
Imam Al Ghazali melalui Ihya’ Ulumuddin memang mengajak kita untuk meningkatkan kualitas ibadah dan keimanan kita. Mungkin masih banyak di antara kita yang melaksanakan salat sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Secara syariat sah. Lebih baik daripada yang tidak melaksanakan salat.
Akan tetapi, sekadar sah secara syariat tentu eman-eman kalau tidak bisa mendapat saripatinya. Sabda Nabi Muhammad SAW sebagaimana dikutip Imam Al Ghazali: “Kam min qaa-imin hadhdhuhu min shalaatihi at-ta’abu wan-nashabu (Banyak sekali orang yang mendirikan salat tapi tidak ada bagian yang diperoleh dari salatnya melainkan lelah dan payah semata-mata).” HR An Nasa’i dan Ibnu Majah.
Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Mau Salat tapi Lapar? Ya Makan Dulu
Dalam hadis yang lain, Nabi Muhammad SAW juga bersabda: “Man lam tanhahu shalaatuhu ‘anil fakhsyaa-i wal munkari lam yazdad minallaahi illaa bu’dan (Barangsiapa yang salatnya tidak dapat mencegahnya dari kejahatan serta kemungkaran maka ia tidaklah bertambah dari Allah kecuali hanya jauhnya saja).” HR Thabrani.
Mari, meski tidak mudah, kita selalu berupaya meningkatkan kualitas salat kita. Setidak-tidaknya, jika tidak bisa mendapatkan seluruh saripatinya, kita tidak kehilangan seluruhnya. Wallahu A’lam bish shawab.
Editor : Aditya Novrian