Ngaji Jumat, Sahabat Saja Kewalahan Mengikuti Salat Sunat Ala Nabi

Tauhid Wijaya • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 07:44 WIB
Ilustrasi umat Muslim sedang salat. (Freepik)
Ilustrasi umat Muslim sedang salat. (Freepik)

RADAR MALANG - Rasulullah SAW lebih sering melakukan salat sunat sendirian daripada berjamaah. Dan, jika sudah salat, durasinya lama. Bacaan suratnya panjang-panjang. Makanya, sahabat yang pernah mengikutinya sampai dibuat kewalahan. 

Ada kisah menarik tentang hal ini. Ini terkait dengan Abdullah Ibnu Mas’ud, sahabat yang sering memerankan diri sebagai asisten Nabi. Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan Bukhari-Muslim, ia mengaku pernah mengerjakan salat malam berjamaah dengan Nabi Muhammad SAW.

Katanya, “Saat itu beliau (Rasulullah SAW) membaca surat yang panjang hingga terlintas dalam diriku keinginan untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.”

Ketika ditanya, “Apakah sesuatu (yang tidak baik) yang ingin kau lakukan itu?”, dia menjawab, “Aku ingin duduk dan meninggalkan beliau.”

Hal itu juga dialami oleh Hudzaifah Ibnu Yaman. Dalam hadis yang diriwayatkan Muslim, ia mengatakan pernah mengerjakan salat sunat malam berjamaah dengan Nabi Muhammad SAW. Katanya, “Pada rakaat pertama (setelah membaca Al Fatihah), beliau (Nabi SAW) membaca surat Al Baqarah. Semula aku mengira kalau beliau akan rukuk jika sudah sampai ayat ke-100. Ternyata beliau masih meneruskan bacaannya.”

Baca Juga: Ngaji Jumat Surat Al Ghasyiyah, Ayat 17 Turun karena Kaum Sesat Heran atas Gambaran Surga 

Ia melanjutkan, “Selanjutnya aku mengira kalau beliau (Nabi SAW) akan rukuk setelah sampai pertengahan surat. Ternyata beliau masih meneruskan bacaannya. Lalu aku mengira beliau akan rukuk jika telah sampai di akhir surat (Al Baqarah). Ternyata beliau melanjutkan membaca surat An Nisa’ sampai selesai. Kemudian surat Ali Imran sampai selesai pula. Semua itu beliau baca secara tartil.”

Lanjutnya lagi, “Jika melewati ayat tasbih beliau pun bertasbih (memuji Allah). Jika melewati ayat yang berisi permohonan (doa) beliau pun bermohon (kepada Allah). Jika melewati ayat yang berisi permohonan perlindungan, beliau pun memohon perlindungan (kepada Allah).”

Ini serupa dengan pengalaman Auf bin Malik. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan An Nasai, ia mengaku pernah melakukan salat malam berjamaah dengan Nabi Muhammad SAW. Katanya, “Saat itu beliau (Rasulullah SAW) membaca surat Al Baqarah. Tidaklah melewati ayat yang menyinggung rahmat Allah melainkan beliau berhenti dan memohonnya; dan tidaklah melewati ayat yang menyinggung siksa Allah melainkan beliau berhenti dan memohon perlindungan darinya.”

Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Nabi Tidak Habiskan Semalam Suntuk untuk Shalat

Kemudian, lanjut Auf, “Beliau (Rasulullah SAW) rukuk yang lamanya kira-kira sama dengan waktu beliau berdiri. Sewaktu rukuk beliau membaca ‘Subhaana dzil jabaruuti wal malakuuti wal kibriyaa-i wal ‘adhomah [Maha Suci Dzat yang memiliki kekuatan penuh, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan].”

“Kemudian beliau (Rasulullah SAW) sujud yang lamanya kira-kira sama dengan waktu beliau berdiri. Sewaktu sujud beliau juga membaca doa tersebut. Selanjutnya beliau berdiri dan membaca surat Ali Imran (dan setelah berdiri lagi) beliau membaca surat lainnya dan surat yang lainnya lagi.”

Demikianlah yang diterangkan oleh Dr Said bin Ali bin Wahf al Qahthani dalam bukunya, Shalatul Mu’min, yang diterjemahkan Abu Khadijah Ibnu Abdurohim menjadi Tuntunan Shalat Sunnah. Kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita agar tidak jemawa dengan amalan salat kita. Jika sahabat saja kewalahan mengikuti salat sunat ala Nabi, bagaimana dengan kita? Wallahu A’lam bish shawab.

 

Editor : Aditya Novrian
ngaji jumat salat sunat nabi