Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Allah Menyebut Harta sebagai “Sesuatu yang Baik”

Tauhid Wijaya • Dipublikasikan Jumat, 30 Oktober 2026 | 04:12 WIB
Ilustrasi anak sedang mengaji. (freepik)
Ilustrasi anak sedang mengaji. (freepik)

RADAR MALANG - Tidak ada manusia di bumi ini yang bisa terlepas dari urusan harta. Bahkan, setiap manusia punya kecenderungan untuk selalu memilikinya dalam jumlah yang tidak sedikit. Lalu, bagaimana pandangan Imam Abu Hamid Al Ghazali alias Imam Al Ghazali?

Intelektual muslim yang dikenal dengan karya magnum opusnya, Ihya Ulumuddin, itu punya dua perspektif. Di satu sisi harta bisa bermakna buruk. Di sisi lain bisa bermakna baik. 

Bermakna buruk, kata Imam Al Ghazali, jika harta akhirnya membuat kita melupakan Tuhan dan justru membuat kerusakan. Kerusakan itu bisa sebagai akibat dari cara kita dalam mencari harta maupun cara kita dalam membelanjakan harta. Maklum, dengan sifat manusia yang cenderung mencintai harta, kepemilikan manusia atas harta bisa membuatnya “lupa daratan”. Hal itulah yang selalu diingatkan oleh Allah. 

Baca Juga: Ngaji Jumat Asbabun Nuzul: Al Muthaffifin, Kisah Penduduk Madinah yang Suka Curang

Berikut sejumlah ayat Al Qur’an yang dikutip Imam Al Ghazali tentang peringatan Allah akan potensi bahaya yang dikandung dalam kepemilikan harta:

1) QS Al Munafiqun: 9 

يا ايها الذين امنوالا تلهكم اموالكم ولا اولدكم عن ذكرالله ومن يفعل ذلك فاءولىك هم الخسرون

“Hai sekalian orang-orang yang beriman, janganlah kamu semua dilalaikan oleh harta-hartamu atau oleh anak-anakmu dari berdzikir (mengingat) kepada Allah. Barangsiapa yang melakukan demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” 

2) QS Al ‘Alaq: 6-7 

ان الانسان ليطغا. ان راه استغنى

“Sesungguhnya manusia itu bertindak melanggar batas, dikarenakan ia telah melihat dirinya sendiri dalam keadaan serbacukup.” 

3) QS At Takatsur: 1 

الهكم التكا ثر

“Kamu semua dilalaikan oleh perlombaan memperbanyak harta kekayaan.”

Imam Al Ghazali juga mengutip sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW sebagai berikut yang mengingatkan tentang potensi buruk yang dikandung harta:

1) “Sungguh celakalah hamba dinar (emas) dan sungguh celaka pula hamba dirham (perak). Ia celaka dan tak tertolong lagi sedang jika tertusuk duri tak akan dapat dikeluarkan lagi.” (HR Bukhari)

2) “Anak Adam berkata, “Hartaku… Hartaku…!” Padahal apakah yang sebenarnya menjadi harta milikmu itu, kecuali apa yang telah engkau makan lalu engkau habiskan dan yang telah engkau gunakan sebagai pakaian lalu engkau rusakkan serta yang telah engkau sedekahkan lalu engkau sempurnakan.” (HR Muslim)

Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Usai Salat Baru Sadar Ada Najis di Pakaian, Harus Mengulang?

3) “Rusak binasalah orang-orang yang memperbanyak harta, kecuali orang yang mengkhususkan (membelanjakan)-nya untuk kepentingan hamba-hamba Allah: sekian dan sekian, tetapi sedikit sekali yang berbuat semacam itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Meski demikian, menurut Imam Al Ghazali, harta juga bisa bermakna baik. Bahkan, ia mengatakan di dalam kitab Ihya Ulumuddin, Allah menamakan harta sebagai “sesuatu yang baik (khair).” Ini dijelaskan dalam QS Al Baqarah: 180 berikut: ان ترك خيرا yang artinya:

“…apabila ia (orang yang mendekati kematian) meninggalkan kebaikan (harta), supaya membuat wasiat.”

Dalam ayat yang lain, Allah SWT juga menyebut bahwa harta adalah “karunia”-Nya. Ini seperti disebut dalam QS Nuh: 12 berikut: 

ويمددكم باموال وبنين ويجعل لكم جنت ويجعل لكم انهارا

“Allah mengaruniakan kepadamu semua harta dan anak-anak, membuat kebun-kebun untukmu semua, demikian pula beberapa sungai.”

Menurut Imam Al Ghazali, harta mempunyai makna baik jika ia menjadi sarana dari terciptanya kebaikan. Di antaranya adalah:

1) Harta menjadi sarana bagi lancar dan khusyuknya pelaksanaan ibadah kepada Allah. Misalnya, dengan harta kita akhirnya bisa membeli pakaian yang layak untuk mendirikan salat, pergi berhaji, serta membangun musala/masjid plus sarana yang layak. Sehingga, dalam konteks ini, segala upaya untuk mencari harta akhirnya juga mempunyai nilai ibadah. 

Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Bersin saat Salat, Baca Hamdalah Tidak?

2) Harta menjadi sarana bagi kemaslahatan umat. Dengan harta akhirnya kita bisa membantu mengentaskan kemiskinan, memberantas kebodohan, serta menolong yang kesusahan melalui berbagai program kegiatan. Mulai dari pemberian sembako hingga pemberian beasiswa atau penyediaan layanan kesehatan terjangkau. Maka, segala upaya untuk mencari harta dalam hal ini juga otomatis mempunyai nilai kebaikan. 

Karena itu pula, kita tidak bisa menghakimi seorang yang miskin atau kaya sebagai orang yang baik atau buruk. Sebab, menurut Imam Al Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin, orang miskin dan kaya memiliki dua dimensi itu sekaligus: baik atau buruk. 

1) Orang miskin bisa berdimensi baik jika ia bisa qana’ah: sabar dan menerima ketentuan-Nya sambil terus mengupayakan yang terbaik. 

2) Orang miskin bisa berdimensi buruk jika ia justru bersikap tamak lagi loba. Selalu menyalahkan ketentuan Allah, iri dengki terhadap orang lain, lalu tergerak untuk menguasai harta orang lain dengan cara apa pun. 

Demikian pula sebaliknya, kata Imam Al Ghazali, orang kaya juga bisa berdimensi baik maupun buruk.

1) Orang kaya berdimensi baik jika dermawan, rajin membelanjakan hartanya di jalan Allah. 

2) Orang kaya berdimensi buruk jika tangannya selalu “menggenggam” dengan erat alias kikir dan bakhil. Ia selalu melindungi hartanya agar tidak pernah lepas darinya. 

Demikianlah pendapat Imam Al Ghazali tentang harta yang disarikan dari Mauidhatul Mu’minin min Ihya Ulumuddin karya Muhammad Jamaluddin Al Qasimi Ad Dimasyqi yang merupakan ringkasan atas Ihya Ulumuddin. Wallahu A’lam bish Shawab. 

 

 

 

Editor : Aditya Novrian
ngaji jumat ihya ulumuddin