MALANG - Hadis ke-24 dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat Anas bin Malik. Menurutnya, Rasulullah SAW pernah bersabda demikian:
“Ketika Hari Kiamat telah terjadi, ada seruan, ‘Di mana orang-orang yang riya’? Di mana orang-orang yang ikhlas? Berdirilah! Laporkan amal-amal kalian dan ambillah pahala-pahala kalian dari pemimpin kalian.’”
Rasulullah lalu melanjutkan, “Tidak ada bagian bagi orang-orang yang riya’ kecuali kesengsaraan, kekecewaan dan celaka.”
Beliau pun berpesan, “Hai anak cucu Adam! Ikhlaslah! Ikhlaslah!” Beliau juga berkata, “Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan terhadap umatku adalah syirik kecil.”
Kemudian para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?"
Rasulullah menjawab, “Riya’.”
Allah akan berkata kepada mereka yang riya’ pada hari pembalasan amal, “Pergilah kepada orang-orang yang kalian pameri amal kalian. Apakah kalian mendapatkan sesuatu yang menguntungkan dari mereka?”
Dalam terjemahan Musthafa Helmy, riya’ didefinisikan sebagai sikap ingin dilihat alias ingin dipuji (pamrih) dalam beramal.
Tidak ada hikayat atau kisah yang disertakan Syekh Muhammad bin Abu Bakar dalam hadis ke-23 ini.
Dari hadis ini, pelajaran yang bisa kita petik adalah tentang bahayanya sikap riya’ dalam beramal dan beribadah. Sebab, hal itu bisa menghanguskan semua nilai kebaikan dari amal dan ibadah kita.
Adanya sikap riya’ menunjukkan bahwa amal dan ibadah yang kita lakukan tidak didasarkan atas Allah. Melainkan, karena ada pamrih yang ingin kita dapatkan dari selain Allah. Sikap ini berlawanan dengan sikap ikhlash, yakni melakukan sesuatu semata-mata karena Allah. Tidak ada yang diharap selain Allah. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)