Menurut Ketua Komisi C DPRD Kota Batu Khamim Tohari, ada beberapa penyebab angkutan umum di Kota Batu sepi penumpang. Sehingga ada kendaraan yang harus terpaksa dikandangkan. Seperti pergerakan mobilitas yang tinggi di wilayah Kota Batu dengan didominasi kendaraan pribadi, ojek online, travel. Lalu beralihnya pengguna jasa angkutan umum penumpang ke kendaraan pribadi. Juga pelajar tidak memiliki SIM naik kendaraan roda dua ke sekolah. "Sehingga angkutan umum di Kota Batu perlu perhatian pemerintah," kata dia.
Sebelumnya, Khamim juga sudah diundang oleh Dinas Perhubungan Kota Batu dan Satlantas Polres Batu mencari solusi permasalahan tersebut. Beberapa di antaranya seperti melalui Organda (Organisasi Angkutan Darat) bekerja sama dengan hotel dan tempat wisata. Atau, pengembangan jalur angkutan untuk mendukung kegiatan pariwisata di Kota Batu. "Seperti di Tulungrejo itu ada wisata petik apel, itu kan dari jalan raya jauh masuknya maka bisa dikerjasamakan," ujar Khamim. Pihaknya mendorong bagi pengelola angkot di Kota Batu untuk berinovasi sehingga bisa tetap beroperasi.
Rencananya, untuk rute wisata pusat kota dalam mengoptimalkan operasional angkot meliputi wisata modern yang ada di Desa Oro-Oro Ombo BNS (Batu Night Spectacular), lalu Jatim Park 1 dan 2, Agro Kusuma Wisata hingga wisata yang terdapat di alun-alun. Kemudian rute wisata yang menghubungkan wisata kota lainnya yakni jalur wisata bunga Sidomulyo, jalur wisata outbound (Gunungsari, Tulungrejo, Sumbergondo, Punten) dan jalur Taman Rekreasi Selecta.
Bahkan rencananya akan ada pengembangan terminal penumpang di Kota Batu. Yakni terminal penumpang tipe B di Giripurno, dan terminal penumpang tipe C di Kelurahan Temas, dan Desa Junrejo yang berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam provinsi, angkutan perkotaan dan angkutan pedesaan. Selain itu juga ada halte untuk angkutan umum di Desa Tulungrejo, Desa Punten, Kelurahan Songgokerto, Desa Junrejo, Desa Oro-Oro Ombo.
"Supaya tidak sia-sia, tetap kami minta untuk dishub melakukan kajian yang mendalam sehingga pembangunannya nanti bisa mendukung kegiatan angkot, jangan sampai tidak," katanya. Tetapi rencana tersebut kemungkinan masih belum bisa terealisasi pada tahun 2022 mendatang.
Dia juga berharap fasilitas pendukung transportasi (terminal, halte) perlu penanganan lebih lanjut agar dapat memberikan kenyamanan bagi masyarakat pengguna jasa transportasi. Perlu diketahui, di Kota Batu terdapat beragam jenis halte bermotif sayuran tetapi sayangnya kondisi itu kurang terawat. Sempat ada wacana akan dilakukan pemindahan halte-halte tersebut untuk ikon desa/kelurahan wisata. "Saya mendukung saja asalkan tidak menyalahi aturan yang ada," katanya. (nug/lid/rmc)
Editor : Shuvia Rahma