Angka 16 penderita kanker leher rahim itu diungkapkan Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes drg Muhammad Zamroni. Selain kanker serviks, Dinkes Kota Malang juga menemukan beberapa kasus lain. Yakni, polip servix sebanyak 14 orang, benjolan payudara 10 orang, fluor albus 34 orang, erosi servix 32 orang, beserta tumor servix, endometriosis, dan hemoroid masing-masing 1 orang.
Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif menjelaskan, tindak lanjut dari temuan itu akan dilakukan seoptimal mungkin. Bisa melalui pemberian rujukan ke rumah sakit hingga tindakan yang dilakukan di puskesmas-puskesmas setempat. ”Yang positif itu mulai grade satu, dua, hingga tiga. Jika terdeteksi dini, maka tindak lanjutnya lebih ringan dibandingkan dengan yang grade-nya tinggi,” terang Husnul.
Pelaksana Pengelola Program Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa (PTM Keswa) Dinkes Kota Malang dr Rully Suwartiningsih menambahkan, yang bisa diterapi langsung hanya fluor albus atau keputihan. Pasien diberi cairan untuk membersihkan keputihan di daerah leher rahim, lalu diberikan obat oral dan supp per vaginam sesuai jenis keputihan. Jika keluhan tidak berkurang, maka dirujuk untuk penanganan Infeksi Menular Seksual (IMS) ke puskesmas sesuai wilayah di KTP.
Untuk penyakit lain seperti benjolan payudara dan hemoroid akan dirujuk ke poli bedah umum. Sementara untuk yang terdeteksi tumor servix, endometriosis, dan polip servix dirujuk ke poli kandungan yang ada di RSSA. Kemudian, bagi yang terdeteksi IVA akan diberikan terapi cyro. ”Terkait pembiayaan kalau dirujuk ke RSSA semuanya gratis,” imbuh Rully.
Dia menjelaskan, semula Dinkes Kota Malang memetakan pendaftar pemeriksaan hanya sebanyak 50 orang. Namun, animo masyarakat rupanya sangat besar hingga menembus angka 402 orang. ”Tapi yang hadir selama tiga hari, mulai 20 April sampai dengan 22 April sebanyak 241 orang. Yang tidak hadir kebanyakan sedang menstruasi,” pungkasnya. (rb6/fat) Editor : Mardi Sampurno