MALANG, RADAR MALANG - Suasana sisi timur Stadion Kanjuruhan terasa sedikit berbeda pagi itu. Di antara riuh warga yang berolahraga dan lalu lalang pedagang, sebuah tikar sederhana tergelar. Di atasnya, sekitar 50 eksemplar buku tersusun rapi.
Sampul-sampul berwarna mencuri perhatian. Dari novel populer, buku pengembangan diri, cerita bergambar anak, hingga majalah ringan yang mudah dicerna.
Lapak baca gratis itu mungkin tampak sederhana. Namun, siapa sangka, ia menjadi magnet tersendiri. Beberapa anak terlihat duduk bersila, membolak-balik halaman dengan penuh rasa ingin tahu. Tak jauh dari mereka, orang tua ikut mendampingi, sesekali membacakan isi buku dengan suara pelan.
Ada pula pengunjung yang awalnya hanya jogging. Lalu berhenti sejenak karena penasaran sebelum akhirnya ikut larut dalam suasana membaca.
Lapak itu digagas oleh Komunitas Kanjuruhan Membaca. Komunitas literasi yang masih terus bergerak di wilayah Malang selatan. Setiap dua pekan sekali, tepatnya pada Minggu pagi, mereka rutin membuka lapak ini di area stadion.
”Kami ingin mengenalkan buku dan budaya membaca ke masyarakat yang jalan-jalan atau berolahraga di Stadion Kanjuruhan. Lapak ini juga menjadi wadah diskusi tentang buku bersama pencinta buku di Kepanjen dan sekitarnya,” ujar salah satu founder komunitas tersebut, Aisyah Nawangsari Putri.
Gagasan ini berawal dari hal sederhana. Sebuah ajakan di media sosial (medsos) yang ditujukan kepada para pencinta buku dan penulis di Malang selatan. Tak banyak yang merespons. Hanya tiga orang yang akhirnya benar-benar bertemu. Namun, dari pertemuan kecil itu, lahir ide besar membuka lapak baca gratis.
Pemilihan Stadion Kanjuruhan bukan tanpa alasan. Tempat ini menjadi titik berkumpul warga, terutama saat Minggu pagi. ”Stadion Kanjuruhan dipilih karena satu-satunya tempat yang ramai dikunjungi warga. Utamanya saat Minggu pagi,” imbuh perempuan asal Gondanglegi kelahiran 1992 tersebut.
Seiring waktu, komunitas ini terus berkembang. Dari tiga orang penggagas, kini telah memiliki sembilan pengurus aktif yang membantu jalannya kegiatan. Tak hanya menggelar lapak baca, mereka juga mengembangkan sebuah perpustakaan kecil.
Lokasinya tak jauh dari stadion, sekitar 500 meter. Tepatnya di Jalan Melati, Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen. Berbeda dengan lapak baca yang hanya buka dua pekan sekali, perpustakaan ini terbuka setiap hari. Siapa saja boleh datang, membaca di tempat atau sekadar menghabiskan waktu.
Di dalamnya, terdapat lebih dari 500 koleksi buku. Sekitar 80 persen merupakan koleksi pribadi para pengurus. Sisanya berasal dari donasi. Rak-rak sederhana itu menjadi saksi tumbuhnya semangat berbagi literasi di tengah keterbatasan.
Menariknya, perpustakaan ini tidak selalu dipenuhi pembaca serius. Anak-anak di sekitar lingkungan justru lebih sering datang untuk bermain dan mewarnai. Namun, bagi Aisyah dan timnya, itu bukan masalah.
”Hampir setiap hari, anak-anak yang tinggal di sekitar perpus datang untuk bermain dan mewarnai. Mereka belum ada keinginan untuk membaca buku, tapi tidak masalah, pelan-pelan akan kami kenalkan,” katanya.
Menurutnya, kehadiran anak-anak di perpustakaan sudah menjadi langkah awal yang baik. Setidaknya, mereka memiliki alternatif ruang bermain selain gawai.
Selain menyediakan buku, komunitas ini juga aktif menggelar berbagai kegiatan. Salah satunya adalah read aloud yang diadakan setiap pekan. Dalam kegiatan ini, anggota komunitas secara bergantian membacakan novel dengan suara lantang. Buku yang dipilih adalah Laut Bercerita, yang sarat makna dan emosi.
Tak hanya itu, ada pula Kanjuruhan English Club yang digelar dua pekan sekali. Kegiatan ini terbuka untuk siapa saja yang ingin melatih kemampuan berbicara bahasa Inggris. Setiap pertemuan memiliki tema berbeda seperti fun fact about me atau my best friend.
”Setiap orang punya kesempatan untuk bercerita dalam bahasa Inggris, lalu peserta lain boleh bertanya atau berkomentar,” imbuhnya.
Kegiatan lain yang tak kalah menarik adalah event menulis yang diadakan setiap bulan. Komunitas ini kerap berkolaborasi dengan komunitas lain. Peserta bebas menulis apa saja. Puisi, cerpen, hingga surat sesuai tema yang ditentukan. Karya-karya tersebut kemudian dihimpun dan diterbitkan dalam bentuk buletin.
Ke depan, Komunitas Kanjuruhan Membaca berkomitmen untuk terus konsisten menggelar lapak baca gratis. Mereka berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal dan terlibat dalam gerakan literasi ini.
”Melalui komunitas, besar kemungkinan pecinta buku akan merasa punya teman dan wadah. Sehingga merasa lebih bersemangat untuk membaca, berdiskusi, hingga menularkan kegemaran membaca,” kata Aisyah.
Dalam waktu dekat, mereka juga berencana menerbitkan buku antologi karya anggota komunitas. Selain itu, mereka ingin menjangkau sekolah-sekolah di Malang selatan untuk menularkan semangat membaca dan menulis.
”Kami juga berencana mengenalkan komunitas dan semangat membaca maupun menulis ke sekolah-sekolah yang ada di Malang selatan. Semoga di tahun ini sudah bisa tercapai,” pungkasnya. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian