Studi banding media dilakukan dengan tujuan meningkatkan mutu pemberitaan dan bertahan di era digital. Plt Kepala Unit Kehumasan BI Kalsel Eko Sutopo menuturkan, kunjungan itu penting dilakukan untuk meningkatkan kapasitas opinion maker dalam membangun komunikasi dan pemberitaan di Kalimantan.
Sebab, media sudah menjadi jembatan komunikasi antara pemangku kebijakan dengan masyarakat yang berimbang.
“Kedatangan kami hari ini (Kamis) sebagai upaya untuk membuka ruang diskusi dan ruang kolaborasi guna meningkatkan wawasan serta kemampuan para peserta” ujar Eko.
Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Malang Bayu Mulya Putra memimpin langsung jalannya diskusi. Banyak pertanyaan terlontar antar-media. Mulai cara upgrade mengelola berita hingga pelebaran ke ranah digital. Seperti pembuatan podcast dan konten media sosial lainnya.
“Tahun ini kami secara agresif mulai ekspansi ke berbagai kanal media sosial. Termasuk Instagram, TikTok, hingga YouTube dan Facebook Pro,” ujar Bayu.
Dia juga memaparkan sejarah berdirinya Radar Malang hingga kiat-kiat bisa bertahan sampai usia 27 tahun. Termasuk proses memasak berita harian di dapur redaksi dan cara bertahan mencari peluang advertorial di tengah efisiensi.
Pertemuan antar-media itu ditutup dengan berkeliling kantor Radar Malang. Secara spesifik Bayu menjelaskan ruang-ruang kerja divisi redaksi. Mulai ruang pembuatan podcast hingga ruang editing dan layout berita. (*)
Editor : Aditya Novrian