Jamu identik dengan rasa pahit dan aroma rempah yang kuat. Namun, anggapan itu coba diubah pasangan suami istri Guntur Purwadi dan Wilda Yustisia Syarifah. Melalui Kantong Jamu, mereka meracik minuman herbal tradisional dengan rasa yang lebih ringan dan kemasan modern ala teh celup.
KOTA MALANG, RADAR MALANG - AROMA serai dan jahe langsung menyambut begitu pintu rumah produksi Kantong Jamu dibuka. Di sudut ruangan sederhana di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang itu, deretan toples dan rak kayu dipenuhi aneka tanaman herbal yang sudah dikeringkan.
Warnanya beragam. Ada merah rosella, kuning kunyit, ungu bunga telang, hingga hijau pucat serai yang diiris tipis-tipis. Sebagian bahan tersimpan rapi di dalam lemari tua, sebagian lainnya menunggu masuk mesin pengering.
Baca Juga: Lupakan Kopi Sejenak! Dua Tea House di Malang Ini Bakal Ubah Cara Kamu Menikmati Teh
Di tempat itulah Guntur Purwadi dan istrinya, Wilda Yustisia Syarifah, meracik jamu dengan cara berbeda. Tidak lagi disajikan dalam botol kaca atau direbus lama di dapur, melainkan dikemas praktis menggunakan tea bag seperti teh celup.
“Semua proses kami lakukan manual, terutama pemotongan bahan-bahannya supaya bisa memberdayakan tetangga sekitar,” ujar Guntur saat ditemui di rumah produksinya beberapa waktu lalu.
Meski sebagian besar proses masih dikerjakan dengan tangan, mereka tetap menggunakan mesin untuk tahap pengeringan. Alasannya sederhana: menjaga kualitas bahan baku agar tidak terkontaminasi debu maupun bakteri dari luar ruangan.
Baca Juga: Kebun Teh Wonosari, Rekomendasi Wisata Alam Sejuk Favorit untuk Liburan Hemat
Di rumah produksi itu terdapat tiga mesin pengering berukuran kecil hingga sedang. Salah seorang pekerja tampak memasukkan irisan serai ke dalam mesin dengan suhu rendah sekitar 55 hingga 70 derajat Celsius.
Suhu tersebut sengaja dipilih agar kandungan gizi dan aroma alami tanaman tidak rusak selama proses pengeringan. Konsekuensinya, waktu yang dibutuhkan pun lebih lama, bisa mencapai 12 jam untuk sekali proses.
Di balik kesibukan rumah produksi itu, ada cerita panjang tentang bagaimana pasangan tersebut memulai usaha mereka. Produksi Kantong Jamu dimulai pada pertengahan 2025. Guntur yang memiliki latar belakang di bidang food and beverage bersama Wilda yang sebelumnya bekerja sebagai ahli gizi ingin membangun usaha bersama.
Berbagai ide bisnis sempat mereka diskusikan. Hingga akhirnya, sebuah percobaan sederhana justru menjadi titik awal lahirnya Kantong Jamu.
”Waktu itu kami membuat serai kering dimasukkan ke dalam tea bag. Isinya cuma serai saja. Tapi rasanya hambar,” kata pria 32 tahun tersebut sambil tertawa.
Percobaan pertama itu membuat mereka sadar bahwa jamu tidak cukup hanya sehat. Minuman herbal juga harus bisa dinikmati.
Dari sana, proses riset dimulai. Mereka mencoba mengombinasikan berbagai bahan herbal, buah, dan rempah. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 110 bahan sempat diuji untuk mencari perpaduan rasa yang tepat.
Ada campuran yang terlalu pahit, terlalu tajam aroma rempahnya, hingga ada yang justru kehilangan karakter jamunya. Berulang kali mereka mencoba komposisi baru sebelum akhirnya menemukan tiga varian yang dianggap paling cocok di lidah anak muda.
Varian pertama bernama yellow helow. Isinya campuran jahe, kunyit, lemon, dan serai. Rasanya hangat dengan aroma rempah yang tidak terlalu kuat.
Menurut Guntur, varian tersebut dipercaya membantu meningkatkan daya tahan tubuh, meredakan peradangan, hingga membantu detoksifikasi alami.
Varian kedua adalah simple purple yang terdiri atas nanas, serai, lemon, bunga telang, dan lavender. Aroma floral dari lavender berpadu dengan rasa segar nanas membuat varian ini terasa lebih ringan.
Varian tersebut banyak dipilih karena memberikan efek relaksasi dan membantu mengurangi stres maupun insomnia. Sedangkan varian terakhir diberi nama reddish wish. Campurannya terdiri dari rosella, peppermint, bunga telang, lemon, kuncup bunga apel, dan kayu manis.
Rasanya lebih segar dengan sedikit sensasi mint. Varian ini disebut membantu menjaga kesehatan jantung, kolesterol, hingga meningkatkan suasana hati.
“Pemilihan namanya berdasar warna. Kami juga sudah menguji jamu ini ke kalangan yang tidak suka jamu, alhamdulillah cocok,” tutur Guntur.
Tidak hanya bahan minuman yang mereka riset. Guntur dan Wilda juga cukup detail menentukan jenis kantong teh yang digunakan.
Mereka akhirnya memilih tea bag berbahan food grade nilon setelah memastikan material tersebut aman digunakan dalam air panas.
“Kami memastikan titik leburnya 200 derajat Celsius. Jadi kalau dipanaskan di suhu 100 derajat Celsius tidak ada kontaminasi mikroplastik,” imbuhnya.
Saat ini, produksi Kantong Jamu rata-rata mencapai 5.000 kantong per bulan. Jumlah itu masih bisa bertambah menyesuaikan permintaan pasar. Dalam sehari, kapasitas maksimal produksi mencapai sekitar 300 kantong jamu. Sebagian besar pemasaran dilakukan melalui marketplace dan pengiriman ke berbagai daerah di Indonesia.
Tak hanya dijual sebagai minuman herbal biasa, produk tersebut juga beberapa kali menjadi sponsor kegiatan olahraga dan wellness seperti yoga di sejumlah kota. Cara penyajiannya pun dibuat praktis. Satu kantong jamu cukup diseduh menggunakan air panas layaknya teh celup.
Tanpa tambahan gula, rasa herbalnya sudah cukup segar dan ringan. Namun, bagi yang menyukai rasa manis, minuman tersebut tetap cocok dipadukan dengan madu maupun gula. Mereka bahkan punya cara khusus menikmati jamu dingin. Bukan ditambah es batu, melainkan disimpan terlebih dahulu di dalam kulkas agar rasa herbalnya tetap terjaga. (*/adn)
Editor : A. Nugroho