MALANG, RADAR MALANG – Seorang pendaki yang nekat memasuki Gunung Semeru melalui jalur ilegal dilaporkan terjatuh di lereng gunung saat kawasan pendakian masih ditutup. Korban baru ditemukan dua hari setelah menghubungi keluarganya dalam kondisi darurat dan kini masih menjalani proses evakuasi oleh tim gabungan.
Korban diketahui merupakan bagian dari rombongan tiga pendaki asal Malang, Pasuruan, dan Semarang yang mendaki Semeru pada Sabtu (30/5). Mereka masuk melalui jalur Candi Jawar Purbakala yang tidak berada dalam pengelolaan resmi Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS).
Kecelakaan Terungkap setelah Korban Hubungi Keluarga
Karena menggunakan jalur tidak resmi, aktivitas ketiga pendaki tersebut tidak tercatat dalam sistem pelayanan pendakian BB TNBTS. Saat itu pendakian menuju puncak Semeru juga masih ditutup menyusul aktivitas vulkanologi gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.
Peristiwa kecelakaan baru diketahui pada Senin (1/6) sekitar pukul 10.00 WIB. Korban sempat menghubungi orang tuanya dan mengabarkan dirinya terjatuh di lereng Semeru.
Dalam kondisi darurat, korban mengirimkan titik koordinat lokasi terakhir sebelum komunikasi terputus. Informasi itu kemudian diteruskan kepada aparat dan relawan untuk dilakukan pencarian.
Mendapat laporan tersebut, keluarga korban berkoordinasi dengan Koramil Tirtoyudo dan Koramil Ampelgading. Pada malam harinya sekitar pukul 22.00 WIB, ayah korban bersama enam warga Kaliputih, Kecamatan Ampelgading, berangkat menuju lokasi yang diduga menjadi titik keberadaan korban.
Tim Harus Menempuh Medan Terjal Selama Delapan Jam
Perjalanan menuju lokasi korban tidak mudah. Tim pencari harus berjalan kaki selama kurang lebih delapan jam melintasi medan curam dan minim akses.
Korban akhirnya ditemukan pada Selasa (2/6) sekitar pukul 10.00 WIB. Namun proses evakuasi belum dapat dilakukan secara cepat karena kondisi geografis yang cukup berat dan berisiko.
Baca Juga: Pendakian Gunung Semeru Dibuka Lagi, Kuota 200 Orang Per Hari dan Wajib Gunakan Guide
Tim kemudian meminta bantuan tambahan dari warga Tamansatriyan, Tamansari, dan Tlogosari untuk memperkuat proses evakuasi di lapangan.
Pada Rabu (3/6) pagi, tim gabungan yang terdiri atas petugas BB TNBTS, Basarnas, relawan, dan masyarakat setempat kembali bergerak menuju lokasi korban. Korban mulai dibawa turun menuju posko evakuasi yang didirikan di rumah warga.
"Kami terus berkoordinasi dengan seluruh unsur yang terlibat untuk memastikan proses evakuasi berjalan aman," ujar Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha.
BB TNBTS Ingatkan Bahaya Jalur Tidak Resmi
BB TNBTS menegaskan bahwa pendakian melalui jalur ilegal memiliki tingkat risiko yang tinggi, terutama ketika status pendakian resmi masih ditutup.
Selain tidak terpantau oleh petugas, pendaki yang masuk melalui jalur tidak resmi juga berpotensi mengalami kesulitan saat terjadi kondisi darurat karena lokasi keberadaannya tidak tercatat dalam sistem pengawasan.
Menurut Rudijanta, kejadian tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat agar selalu mematuhi aturan pendakian dan hanya menggunakan jalur resmi yang telah ditetapkan pengelola kawasan konservasi.
Editor : Aditya Novrian