AMPELGADING, RADAR MALANG – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) akan memperketat pengawasan sejumlah jalur ilegal menuju Gunung Semeru setelah insiden tiga pendaki yang nekat masuk melalui akses tidak resmi dan berujung operasi evakuasi selama beberapa hari.
Evaluasi dilakukan menyusul keberhasilan tim gabungan mengevakuasi seluruh pendaki pada Jumat (5/6). Salah seorang pendaki mengalami cedera kaki setelah terjatuh di lereng Semeru, sementara dua rekannya mengalami dehidrasi akibat kondisi medan yang berat.
Kabag Tata Usaha Balai Besar TNBTS Bambang Suryono mengatakan, pihaknya kini memetakan sejumlah akses masuk yang berpotensi digunakan pendaki untuk menghindari jalur resmi pendakian.
"Kami akan melakukan evaluasi terhadap akses masuk kawasan. Jika diperlukan, akan ada penambahan papan larangan maupun langkah pengamanan lainnya untuk meminimalkan aktivitas pendakian ilegal," ujarnya.
Baca Juga: Nekat Naik lewat Jalur Ilegal, Pendaki Semeru Terjatuh dan Dievakuasi setelah Dua Hari Hilang Kontak
Jalur Ilegal Jadi Fokus Pengawasan
TNBTS menilai pendakian melalui jalur tidak resmi menjadi ancaman serius karena sulit dipantau petugas dan berisiko tinggi terhadap keselamatan pendaki.
Karena itu, pengelola kawasan akan memperkuat pengawasan pada titik-titik rawan yang selama ini kerap dimanfaatkan sebagai jalur alternatif menuju kawasan Semeru. Evaluasi dilakukan bersama sejumlah pihak terkait untuk memastikan akses ilegal dapat diminimalkan.
Menurut Bambang, hingga saat ini aktivitas pendakian Gunung Semeru masih dibatasi hanya sampai Ranu Kumbolo. Sementara jalur menuju puncak Mahameru tetap ditutup karena aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga.
"Pendakian sampai puncak masih ditutup karena aktivitas vulkanik Semeru yang masih berstatus siaga," katanya.
Berawal dari Jalur Candi Jawar
Langkah pengamanan tersebut dipicu insiden tiga pendaki asal Malang, Pasuruan, dan Semarang yang memasuki kawasan Semeru melalui jalur tidak resmi di kawasan Candi Jawar Purbakala, Desa Mulyosari, Kecamatan Ampelgading, pada Sabtu (30/5).
Masalah muncul ketika salah seorang pendaki, Cakra Bhirawa Krisna Murti Setiawan, 18, warga Kabupaten Malang, menghubungi keluarganya pada Senin (1/6). Dalam komunikasi tersebut, ia mengaku terjatuh di lereng Semeru dan membutuhkan pertolongan.
Informasi itu langsung memicu pencarian yang awalnya dilakukan keluarga dan warga sekitar. Operasi kemudian melibatkan tim gabungan yang terdiri atas Basarnas, relawan, masyarakat setempat, dan petugas TNBTS.
Medan terjal, cuaca pegunungan, serta lokasi yang sulit dijangkau membuat proses evakuasi berlangsung cukup lama.
Baca Juga: Pendaki Pemula Merapat, Ini Rekomendasi Gunung dengan Jalur Bersahabat dan View Memukau.
Seluruh Pendaki Berhasil Dievakuasi
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menyampaikan seluruh pendaki akhirnya berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat pada Jumat (5/6).
Dua pendaki tiba lebih dahulu di posko evakuasi sekitar pukul 00.10 WIB. Sementara Cakra baru berhasil diturunkan pada pukul 19.20 WIB karena mengalami cedera pada bagian kaki sehingga membutuhkan penanganan lebih hati-hati.
"Korban Cakra mengalami cedera kaki, sementara dua lainnya tidak mengalami luka, tetapi mengalami dehidrasi," terang Rudijanta.
Setelah tiba di posko, seluruh pendaki langsung mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Cakra kemudian dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani perawatan lebih lanjut, sedangkan dua rekannya menjalani observasi medis di Puskesmas Ampelgading.
Editor : Aditya Novrian