WONOSARI – Suasana Desa Wonosari kemarin (16/6) tampak berbeda. Setelah beberapa tahun vakum akibat pandemi Covid-19, Gebyar Ritual Satu Suro kembali digelar. Acara langsung disambut oleh masyarakat. Sekitar 1.000 warga turut ambil bagian dalam rangkaian kirab budaya yang menjadi salah satu tradisi tahunan tersebut.
Sejak siang hari, warga sudah memadati tepi jalan yang menjadi rute kirab. Mereka menunggu iring-iringan peserta yang akan melintas sambil menikmati semarak suasana perayaan yang lama dirindukan.
Ketua Panitia Gebyar Ritual Satu Suro Muji Rukun Santoso mengatakan, kegiatan tersebut sejatinya rutin digelar selama sekitar sepuluh tahun. Namun pandemi membuat penyelenggaraan acara terhenti selama beberapa tahun.
“Karena sempat vakum, masyarakat sangat antusiasme mengikutinya. Mereka sudah menunggu sejak pukul 13.00 di sepanjang rute kirab,” ujar Muji yang juga menjabat sebagai Kepala Dusun Wonosari.
Kirab menempuh rute sekitar satu kilometer. Rombongan bergerak dari Terminal Wonosari menuju arah selatan, melewati gapura pintu masuk desa sebelum berakhir di kawasan pesarean. Setiba di lokasi, rangkaian acara dilanjutkan dengan prosesi penyekaran dan penyerahan sesaji berupa tumpeng.
Tahun ini, panitia menghadirkan warna baru melalui gunungan sayur-mayur hasil bumi warga. Setelah didoakan, gunungan tersebut diperebutkan masyarakat sebagai simbol keberkahan sekaligus ungkapan rasa syukur.
Mengusung tema Penyekaran Agung, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momentum sakral bagi masyarakat setempat. Acara juga menjadi sarana untuk mengenang jasa dua leluhur yang dimakamkan di Pesarean Gunung Kawi, yakni Eyang Djoego dan Mbah Raden Mas Imam Soedjono.
“Sekitar 1.000 peserta yang berpartisipasi dibagi menjadi lima kontingen. Terdiri atas satu kontingen desa dan empat kontingen dusun,” imbuh Muji.
Dalam iring-iringan kirab, berbagai atraksi budaya dan kesenian ditampilkan. Kreativitas para pemuda desa turut mewarnai jalannya acara melalui beragam pertunjukan yang memadukan tradisi dengan sentuhan inovasi.
Tak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, perayaan tahun baru Islam tersebut juga dimanfaatkan untuk menggerakkan perekonomian warga. Sebanyak 25 stan UMKM disediakan khusus bagi masyarakat Desa Wonosari untuk memasarkan berbagai produk, mulai dari makanan, minuman, hingga kerajinan tangan lokal.
Melalui perpaduan antara tradisi, kebersamaan, dan pemberdayaan ekonomi, Gebyar Ritual Satu Suro kembali menjadi ruang temu masyarakat sekaligus pengingat bahwa warisan budaya tetap hidup dan tumbuh di tengah perubahan zaman. (yun/dan)
Editor : Mahmudan