MALANG KOTA, RADAR MALANG – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Malang mulai berdampak pada pelaku usaha budidaya ikan koi. Mereka khawatir pasokan listrik yang terputus dalam waktu lama dapat mengganggu sistem sirkulasi air dan mengancam kelangsungan hidup ikan, terutama jika pemadaman berlangsung lebih dari tiga jam.
Dalam budidaya ikan koi, listrik menjadi kebutuhan utama untuk mengoperasikan aerator, filter, dan lampu ultraviolet (UV). Ketiga perangkat tersebut berfungsi menjaga kadar oksigen, menyaring kotoran, serta mencegah pertumbuhan alga agar kualitas air kolam tetap stabil.
Listrik Menjadi Penopang Utama Budidaya Ikan Koi
Pemilik Bhi Koi Malang, Bhirawan Suhendri, mengaku menjadi salah satu pelaku usaha yang terdampak pemadaman listrik bergilir pada Jumat (19/6). Listrik di kawasan tempat tinggalnya di Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, padam selama lebih dari tiga jam.
"Tadi saya sempat terdampak pemadaman mulai pukul 09.00 sampai sekitar pukul 12.30," ujarnya saat ditemui di kediamannya.
Baca Juga: Pemadaman Listrik Bergilir di Malang Raya Masih Berlanjut dengan Durasi Capai 3 Jam, Begini Kata PLN
Menurut Bhirawan, kejadian tersebut bukan yang pertama. Dalam dua pekan terakhir, usahanya sudah tiga kali mengalami pemadaman listrik.
"Selama dua pekan terakhir, sudah tiga kali pemadaman listrik," katanya.
Ia juga mengaku sempat kecewa karena pemadaman terjadi tanpa pemberitahuan lebih dahulu melalui grup komunikasi warga. Informasi baru diterima setelah listrik sudah padam.
Aerator Mati Lebih dari Tiga Jam Berisiko bagi Ikan Koi
Bhirawan menjelaskan, sistem budidaya ikan koi idealnya tidak mengalami gangguan pasokan listrik lebih dari tiga jam. Sebab seluruh peralatan penunjang kolam bekerja selama 24 jam untuk menjaga kualitas air dan kadar oksigen.
Apabila pemadaman diperkirakan berlangsung lama, salah satu langkah yang dilakukan adalah memuasakan ikan koi sebelum kondisi kolam memburuk.
"Persiapannya, ikan koi harus dicegah untuk makan atau menjalani puasa. Puasa sendiri baik untuk ikan karena bisa menjaga metabolisme," tuturnya.
Menurut dia, ikan koi yang berpuasa dapat bertahan tanpa tambahan oksigen selama enam hingga 12 jam. Sebaliknya, ikan yang baru makan akan menghasilkan lebih banyak kotoran atau amonia yang mempercepat penurunan kadar oksigen di dalam kolam.
Genset hingga Aerator Baterai Jadi Solusi Darurat
Selain memuasakan ikan, pembudidaya biasanya menyiapkan peralatan cadangan untuk menjaga pasokan oksigen saat listrik padam. Di antaranya menggunakan aerator berbaterai maupun genset.
"Opsi lain bisa menggunakan aerator dengan baterai hingga genset," jelas Bhirawan.
Namun, saat pemadaman terakhir terjadi, ia mengaku belum bisa menggunakan genset karena alat tersebut sedang mengalami kerusakan.
Jika tidak memiliki sumber listrik cadangan, ikan koi juga dapat dipindahkan ke dalam plastik yang telah diisi oksigen. Dengan cara tersebut, ikan dapat bertahan hidup selama sekitar 12 jam hingga satu hari.
Baca Juga: PLN UP3 Malang Sebut Potensi Pemadaman Bergilir di Malang Raya Masih Ada
Penggantian Air Dilakukan untuk Menjaga Kualitas Kolam
Upaya lain yang dilakukan saat listrik padam adalah mengganti air kolam sekitar 40 hingga 60 persen. Cara ini bertujuan menjaga kualitas air agar tetap bersih dan mengurangi kadar amonia yang dapat membahayakan ikan.
Bhirawan menegaskan, ikan koi termasuk jenis ikan yang sensitif terhadap perubahan kualitas air. Karena itu, keberadaan aerator, filter, dan sistem sirkulasi air yang bergantung pada listrik menjadi faktor penting dalam keberhasilan budidaya.
Ia berharap informasi mengenai jadwal pemadaman listrik dapat disampaikan lebih awal sehingga para pelaku budidaya memiliki waktu menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga kesehatan dan keselamatan ikan koi mereka.
Editor : Aditya Novrian