KOTA MALANG, RADAR MALANG - TANGAN Ibrahim N Daffa nyaris tak pernah berhenti memegang ponsel untuk merekam. Di tengah riuh tamu undangan, ia berpindah dari pelaminan ke meja keluarga, lalu berlari mengejar prosesi sungkeman. Beberapa menit kemudian, jempolnya mulai menari di layar ponsel.
Video yang baru saja direkam langsung dipotong, diberi musik, lalu diunggah ke akun media sosial pengantin. Begi tulah ritme kerja seorang Wedding Content Creator (WCC).
Baca Juga: Medsos Ubah Cara Abadikan Momen
Profesi baru yang lahir dari kebiasaan berbagi momen di media sosial itu kini mulai banyak dicari pasangan pengantin. Baem, sapaan akrab Ibrahim, menjadi salah satu pelakunya di Malang Raya. Sejak tahun lalu, warga Kecamatan Blimbing tersebut memilih menekuni profesi itu secara mandiri.
Awalnya, semua bermula dari kegemarannya merekam dan menyunting video saat menghadiri pesta pernikahan teman maupun kerabat. Hasilnya mendapat respons positif hingga akhirnya ia memberanikan diri menawarkan jasa WCC.
”Biasanya aku fokus merekam momen bahagia secara real time, jadi teman atau kerabat pengantin yang tidak hadir bisa ikut memantau acara,” katanya.
Baca Juga: WCC: Korban Cenderung Ogah Melapor
Bagi Baem, menjadi WCC berarti harus siap menangkap momen yang tak mungkin terulang. Senyum gugup sebelum ijab kabul, pelukan orang tua, atau tawa kecil pengantin usai prosesi menjadi potongan-potongan cerita yang justru paling berharga. Semua itu harus di rekam tanpa mengganggu ja lannya acara, lalu diedit dalam waktu sesingkat mungkin.
Ada kebiasaan lain yang selalu ia lakukan sebelum acara dimulai. Di dalam tas kerjanya tersimpan bedak dan lip balm. Perlengkapan sederhana itu disiapkan khusus untuk pengantin pria agar wajahnya tetap segar saat direkam. Sebab, pengantin perempuan biasanya sudah didampingi penata rias.
Pekerjaan itu tentu tak selalu berjalan mulus. Ruang acara yang sempit sering kali membatasi geraknya untuk mencari sudut pengambilan gambar. Belum lagi baterai ponsel yang cepat terkuras karena harus merekam sekaligus menyunting video sepanjang acara.
”Karena masih pemula, jadi tarif jasaku juga sukarela, menyesuaikan kesanggupan klien aja,” ujarnya.
Dalam sekali pekerjaan, Baem memperoleh bayaran Rp150 ribu hingga Rp500 ribu dengan area layanan Kota dan Kabupaten Malang. Klien dapat memilih paket dokumentasi berupa Instagram Story maupun reels, lengkap dengan konsep yang disesuaikan tren media sosial.
Menariknya, tugas seorang WCC tak berhenti pada urusan kamera. Baem pernah membantu pengantin perempuan melepas softlens yang sulit dilepas. Ia juga sempat diminta menyetir mobil agar perpindahan lokasi dokumentasi berjalan lancar. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho