Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Seminar Pindar di Unisma Ramai Diperdebatkan, APFI Sebut Fokus pada Literasi Keuangan

Aditya Novrian • Kamis, 25 Juni 2026 | 16:45 WIB
APFI memberikan keterangan kepada awak media. (Andika Satria/Radar Malang)
APFI memberikan keterangan kepada awak media. (Andika Satria/Radar Malang)

MALANG KOTA, RADAR MALANG – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (APFI) menegaskan seminar Pindar Mengajar di Universitas Islam Malang (Unisma) bukan ajang promosi pinjaman online (pinjol), melainkan kegiatan edukasi untuk meningkatkan literasi keuangan digital di kalangan mahasiswa. Penegasan itu disampaikan menyusul munculnya sorotan di media sosial terhadap penyelenggaraan seminar tersebut.

Sorotan salah satunya datang dari pegiat media sosial Manang Soebekti melalui akun Instagram pribadinya. Dia menilai seminar yang digelar Rabu (24/6) itu berpotensi mendorong mahasiswa mengenal hingga menggunakan layanan pinjaman daring (pindar). Kekhawatiran tersebut kemudian memicu beragam tanggapan dari warganet.

APFI Sebut Materi Seminar Tidak Memuat Promosi Produk

APFI memastikan materi yang disampaikan dalam seminar tidak mengarah pada promosi layanan pinjaman maupun produk dari penyelenggara fintech lending. Seluruh pembahasan difokuskan pada edukasi mengenai penggunaan layanan keuangan digital secara aman dan bertanggung jawab.

Baca Juga: Heboh Krisis Tunggakan Gaji Dokter, Perawat, hingga Karyawan RSI Unisma, Ini Duduk Perkara yang Sebenarnya

Perwakilan APFI Yulfina Napitupulu mengatakan, selama kegiatan berlangsung tidak ada penyampaian mengenai skema pinjaman, besaran bunga, maupun ajakan menggunakan layanan pinjaman daring tertentu.

"Seminar itu disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Unisma. Jadi masyarakat bisa melihat sendiri materi yang kami sampaikan," ujarnya.

Menurut Yulfina, APFI justru ingin membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai risiko penyalahgunaan layanan pinjaman digital, termasuk cara mengenali penyelenggara yang legal dan yang ilegal.

"Kami menyayangkan jika kegiatan edukasi ini dipersepsikan sebagai promosi pinjol. Tujuan kami justru meningkatkan literasi agar masyarakat, khususnya mahasiswa, tidak mudah terjebak tawaran pinjaman yang merugikan," katanya.

Baca Juga: 350 Karyawan RSI Unisma Minta Audit Keuangan, Soroti Tunggakan dan Pemotongan Gaji

Mahasiswa Bukan Target Utama Industri Pindar

Yulfina juga menegaskan bahwa mahasiswa bukan merupakan sasaran utama industri pendanaan digital karena sebagian besar belum memiliki penghasilan tetap sebagai syarat kelayakan pembiayaan.

"Market kami bukan mahasiswa karena mereka umumnya belum memiliki penghasilan. Yang kami lakukan adalah mengingatkan agar mereka berhati-hati, tidak mudah percaya pada berbagai penawaran pinjaman, serta memahami perbedaan layanan yang legal dan ilegal," tandasnya.

Pernyataan APFI tersebut menjadi respons atas kritik yang berkembang di media sosial setelah pelaksanaan seminar Pindar Mengajar di lingkungan Unisma. Hingga berita ini ditulis, pembahasan mengenai kegiatan tersebut masih menjadi perhatian publik di berbagai platform media sosial.

Editor : Aditya Novrian
#seminar pindar Unisma #APFI #literasi keuangan digital #Pinjol #pinjaman online