DONOMULYO – Cuaca tidak menentu membuat petani tembakau di Kabupaten Malang resah. Mereka khawatir produksi menurun, sehingga membutuhkan bantuan pemerintah. Misalnya pemberian bantuan pupuk subsidi untuk mendongkrak kualitas tembakau. Keluhan itu disampaikan oleh Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Malang.
Ketua APTI Kabupaten Malang Sukadi mengatakan, tahun ini tidak banyak petani yang menanam tembakau. Meskipun lahan tembakau tersebar di 31 kecamatan, hasil panen diperkirakan sedikit. Kekhawatiran tersebut mengacu pengalaman tahun lalu.
“Cuacanya pada saat panen tahun lalu tergolong buruk untuk tanaman. Makanya petani tembakau ini banyak yang trauma,” kata dia.
Tahun ini, dia melanjutkan, hanya 700 hektare lahan yang ditanami tembakau se Bumi Kanjuruhan. Jumlah itu menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 820, 855 hektare. Tahun lalu, pihaknya mendapati lebih dari 10 petani se-Kabupaten Malang yang mengalami gagal panen. Misalnya lima kali tanam, hanya sekali yang bisa dipanen.
Apalagi, Sukadi menambahkan, pihaknya juga kesulitan memasarkan. Selama ini tembakau dari Kabupaten Malang diambil oleh tengkulak luar daerah. Mulai Blitar, Tulungagung, Bondowoso, hingga Probolinggo.
Karena trauma kegagalan panen tahun lalu, dia berharap mendapat kemudahan untuk pupuk. Sebab, pupuk menjadi salah satu upaya menjaga kualitas di tengah cuaca tidak menentu. Namun, harga pupuk semakin mahal.
Dia mencontohkan pupuk jenis ZA yang mengalami lonjakan harga dari tahun ke tahun.
“Harganya dulu Rp 100 ribuan, tapi sekarang naik hampir Rp 450 ribu per karung dengan kapasitas 50 kilogram. Kenaikannya sampai 200-an persen. Kami berharap Pemkab adakan subsidi untuk pupuk tembakau,” harapnya.(biy/dan)
Editor : Mahmudan