”Nontok wayang gaoleh sludar-sludur. Lek wes utang, yo ojok lali nyaur.”
MALANG KOTA, RADAR MALANG - Istilah ini identik dengan perilaku yang kurang sopan. Arek Malang pasti mengetahui makna dari kata sludar-sludur, yang menggambarkan tindakan seseorang yang keluar masuk suatu tempat tanpa permisi.
Ungkapan itu termasuk dalam dwilingga salin swara atau mengulang kata dengan perubahan vokal. Contoh lainnya seperti bola-bali, mloya-mlayu, mongan-mangan, dan wira-wiri. Sludar-sludur menekankan gerakan yang ceroboh atau serampangan
Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, sludar-sludur berakar dari kebiasaan atau insting hewan seperti babi hutan. Yakni gerakan babi berlari ke sana-kemari secara acak, menerobos semak-semak, dan melahap apa saja tanpa berpikir.
Tindakan itu dijadikan metafora untuk perilaku manusia. ”Sludar-sludur itu kini masuk ungkapan dalam Bahasa Jawa. Itu termasuk tindakan yang mengindahkan tata krama atau aturan,” jelas Pengamat Bahasa Malangan Restu Respati.
Dari pengamatan dia, istilah itu sudah biasa digunakan di beberapa daerah. Khususnya di Jawa Timur. Maknanya juga serupa. (adk/by)
Editor : A. Nugroho