KEPANJEN, RADAR MALANG – Stadion Kanjuruhan kembali menjadi sorotan. Meski baru direnovasi menggunakan anggaran negara hingga Rp 357 miliar, sejumlah kerusakan mulai bermunculan. DPRD Kabupaten Malang menemukan retakan lantai tribun, kebocoran atap, lampu mati, hingga fasilitas penunjang yang tidak berfungsi. Namun, Pemerintah Kabupaten Malang belum dapat melakukan perbaikan karena aset stadion belum resmi diserahterimakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Temuan tersebut diperoleh saat Komisi IV DPRD Kabupaten Malang melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Jumat (31/7). Pemeriksaan dilakukan di sejumlah titik, mulai tribun terbuka sisi utara, tribun VIP, hingga bagian atap stadion menggunakan drone.
Kerusakan Muncul di Berbagai Titik Stadion
Hasil sidak menunjukkan kerusakan tersebar di berbagai bagian stadion. Salah satu yang paling mencolok berada di tribun terbuka sisi utara. Lapisan waterproof pada pelat beton mengalami retak sehingga air hujan merembes ke bagian bawah dan berdampak pada instalasi listrik serta sistem penerangan.
"Hasil pengecekan menunjukkan masih banyak pekerjaan yang perlu mendapat perhatian. Ada yang kami cek langsung, ada pula yang kami pantau menggunakan drone untuk melihat kondisi bagian atas stadion," ujar Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Malang Zulham Akhmad Mubarrok.
Di area tribun VIP, tim juga menemukan kanopi berlubang dan retakan pada pelat lantai. Kebocoran membuat air masuk hingga ruang pemanasan pemain. Selain itu, terdapat lampu yang padam, saluran pembuangan toilet tersumbat, shower rusak, pipa AC outdoor mengalami kerusakan, serta kaca di Museum Gate 13 retak akibat kelembapan.
"Kalau hujan deras, bisa dibayangkan bagaimana kondisi di dalam stadion. Air masuk dari berbagai titik. Ini tentu tidak boleh dibiarkan," tegasnya.
DPRD Soroti Kualitas Pekerjaan Renovasi
Menurut Zulham, munculnya berbagai kerusakan tersebut mengindikasikan kualitas pekerjaan renovasi perlu dievaluasi. Dugaan sementara mengarah pada lapisan waterproof yang dinilai tidak dikerjakan secara optimal sehingga mudah mengalami retak.
"Yang kami temukan, coating atau lapisan waterproof diduga tidak dikerjakan secara maksimal sehingga mudah retak. Bahkan kami juga menerima informasi adanya indikasi subkontraktor belum menerima pembayaran secara penuh dari pemenang tender," ungkap politisi PDI Perjuangan tersebut.
Stadion Kanjuruhan diketahui direnovasi menggunakan dana APBN pascatragedi 1 Oktober 2022 dengan nilai proyek sekitar Rp 335 miliar hingga Rp 357 miliar. Renovasi berlangsung sepanjang 2023 hingga 2024 dengan konsep pembaruan menyeluruh terhadap bangunan yang sudah ada.
Pemkab Belum Berwenang Melakukan Perbaikan
Meski Berita Acara Serah Terima Operasional (BASTO) telah ditandatangani pada 8 Maret 2025, Pemkab Malang hingga kini baru menerima hak pengelolaan operasional. Penyerahan aset secara penuh belum dilakukan sehingga pemerintah daerah belum memiliki kewenangan menganggarkan maupun melaksanakan perbaikan.
Zulham mengatakan Kementerian PU bersama kontraktor pelaksana telah turun melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah kerusakan. Pemeriksaan lanjutan juga dijadwalkan dilakukan agar segera ada tindak lanjut.
"Sabtu kemarin sudah dilakukan pengecekan, dan Senin nanti dijadwalkan ada pemeriksaan lanjutan. Kami berharap segera ada tindak lanjut berupa perbaikan," katanya.
Baca Juga: RANS Nusantara Bayar Sewa Stadion Kanjuruhan Sama seperti Arema FC, Begini Kata Pemkab Malang
Plt Kepala Dispora Kabupaten Malang Eko Margianto mengungkapkan, pihaknya sebenarnya telah melaporkan berbagai kerusakan sejak April 2025. Namun hingga kini belum ada perbaikan yang dilakukan.
"Kami sudah beberapa kali bersurat dan mendampingi peninjauan lapangan. Yang bisa kami lakukan hanya melaporkan karena kewenangan perbaikan masih berada di Kementerian PU," ujarnya.
Selain retakan dan kebocoran, Dispora juga mencatat kerusakan penutup atap, plafon bocor, keramik toilet berjamur, cat ruang gudang VAR mengelupas, hingga genangan air di pintu evakuasi akibat sistem drainase yang belum berfungsi optimal.
"Kami menunggu tindak lanjut berupa perbaikan dari Kementerian PU agar stadion yang menjadi kebanggaan masyarakat Malang ini benar-benar layak digunakan," tandas Eko.
Editor : Aditya Novrian