RADAR MALANG – Sejarah lahirnya Oeang Republik Indonesia (ORI) tidak hanya berkaitan dengan Jakarta. Di Kendalpayak, Kabupaten Malang, sebuah kompleks pabrik peninggalan kolonial pernah menjadi bagian penting dalam upaya Republik mencetak mata uang sendiri ketika kondisi negara masih diliputi perang dan blokade ekonomi.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, kawasan Kendalpayak telah berkembang menjadi salah satu kompleks industri penting. Perjalanannya bermula pada 1901 ketika dua warga Belanda, L. Schol dan H. Janssen van Raay, mendirikan Eerste Nederlandsch-Indische Koffiebranderij (ENIK), perusahaan pengolahan kopi di Malang.
Berawal dari Pabrik Sangrai Kopi
ENIK awalnya bergerak dalam produksi kopi bubuk. Bisnis tersebut berkembang pesat hingga modal perusahaan meningkat dari sekitar 26,9 ribu gulden menjadi 50 ribu gulden dalam waktu tiga tahun.
Baca Juga: Prasasti Gadang Ungkap Kampung di Sukun Pernah Jadi Desa Sima Majapahit
Pertumbuhan usaha mendorong perusahaan mencari lahan yang lebih luas. Kendalpayak kemudian dipilih sebagai lokasi pengembangan. Seiring meningkatnya produksi, kebutuhan kemasan juga semakin besar.
Pada 1908, perusahaan mulai memproduksi kemasan kertas sendiri. Tiga tahun berselang, bangunan pabrik baru didirikan karena kapasitas produksi semakin meningkat.
Perkembangan tersebut menjadi pijakan lahirnya industri yang lebih besar. Pada 1918, dibentuk badan hukum Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF). Lini produksi kemasan kemudian dipisahkan dari bisnis kopi.
NIMEF Berkembang Menjadi Kompleks Industri Besar
NIMEF berkembang dengan dukungan mesin-mesin modern yang didatangkan dari Eropa. Pabrik tersebut kemudian menjadi salah satu industri percetakan besar di Hindia Belanda.
Selain memiliki pembangkit listrik sendiri, kompleks NIMEF juga terhubung dengan jalur trem uap. Berbagai kebutuhan percetakan dan kemasan diproduksi di sana, termasuk tiket kereta api.
Pada 1932, NIMEF bahkan mendapatkan kontrak eksklusif dari pabrik rokok Faroka. Setahun kemudian, perusahaan berekspansi ke Bandung.
Jumlah tenaga kerja juga terus bertambah. Pada masa itu, NIMEF mempekerjakan lebih dari seribu pekerja lokal dan puluhan pekerja Eropa.
Namun, perkembangan tersebut berubah ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada masa Perang Dunia II. Infrastruktur NIMEF kemudian dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan logistik militer.
NIMEF Kendalpayak Dipilih untuk Mencetak ORI
Peran NIMEF kembali menjadi penting setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945. Republik Indonesia yang baru berdiri menghadapi persoalan ekonomi dan keuangan akibat blokade Sekutu serta NICA.
Upaya mencetak uang secara mandiri di Jakarta dan Surabaya menghadapi berbagai kendala. Dalam kondisi tersebut, NIMEF Kendalpayak menjadi salah satu lokasi yang dipilih untuk mencetak uang Republik Indonesia.
Menurut perangkat Desa Kendalpayak Dion Anggono, lokasi pabrik menjadi pertimbangan karena relatif jauh dari medan pertempuran dan berada di wilayah yang dikuasai Republik.
“Pabrik NIMEF dipilih karena lokasinya jauh dari medan-medan pertempuran yang sedang berkobar di berbagai kota. Wilayah ini juga dikuasai Indonesia,” jelas Dion.
Pencetakan dilakukan Panitia Penyelenggara Percetakan Uang Kertas Republik Indonesia. Prosesnya tidak mudah karena berbagai bahan pendukung harus didatangkan dari sejumlah daerah.
Kertas khusus, misalnya, didatangkan dari Padalarang. Serikat Buruh Kertas Padalarang bahkan berupaya memindahkan mesin pembuat kertas sebelum wilayah tersebut jatuh ke tangan musuh.
Bahan kimia untuk proses pencetakan juga sulit diperoleh. Sejumlah kebutuhan didatangkan secara bergerilya dari Jakarta serta laboratorium pabrik gula di Jawa Timur.
ORI Beredar pada 30 Oktober 1946
Di tengah keterbatasan tersebut, pencetakan ORI akhirnya berhasil dilakukan. Mata uang tersebut mulai diedarkan pada 30 Oktober 1946.
Tanggal itu kemudian diperingati sebagai Hari Keuangan Nasional. Kehadiran ORI menjadi bagian penting dalam upaya Republik menunjukkan kedaulatan ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap mata uang yang beredar pada masa tersebut.
Distribusi ORI juga dilakukan secara rahasia karena situasi keamanan belum stabil. Uang yang telah dicetak tidak dikirim menggunakan jalur terbuka.
“Distribusi uang dilakukan secara rahasia dengan memasukkannya ke dalam besek, dibungkus karung goni, lalu diangkut menggunakan kereta api ke seluruh penjuru Jawa,” ungkap Dion.
Pabrik Dibumihanguskan, Jejak NIMEF Kini Hampir Hilang
Peran NIMEF sebagai lokasi pencetakan ORI tidak berlangsung lama. Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947 kembali mengubah situasi.
Ancaman penguasaan Belanda membuat kompleks pabrik harus dibumihanguskan agar tidak dapat dimanfaatkan oleh pihak lawan. Uang yang telah selesai dicetak beserta sejumlah aset penting kemudian diselamatkan dan diungsikan ke Jogjakarta dengan pengawalan ketat.
Baca Juga: Tak Hanya Trofi! FIFA Kenalkan Championship Rings Pertama dalam Sejarah Piala Dunia
Setelah itu, jejak fisik kompleks NIMEF di Kendalpayak perlahan menghilang.
Kini, kawasan yang dahulu menjadi kompleks industri besar telah berubah fungsi. Sebagian lahannya digunakan sebagai kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI), sementara bagian lainnya menjadi permukiman warga dan kawasan industri.
Sisa bangunan NIMEF nyaris tidak lagi terlihat. Salah satu bangunan yang disebut masih berkaitan dengan fasilitas lama berupa gardu kecil berukuran sekitar 3 x 3 meter. Bangunan tersebut kini digunakan PLN.
“Kini, bangunan fisik pabrik tempat lahirnya rupiah pertama tersebut hanya tersisa gardu kotak berukuran 3 x 3 meter yang dipakai PLN. Di area lainnya, lahan bekas pabrik NIMEF di Kendalpayak kini berdiri bangunan kantor BRI, sementara area lain menjadi permukiman warga dan juga pabrik industri,” pungkas Dion.
Jejak NIMEF di Kendalpayak kini memang hampir tak terlihat. Namun, sejarahnya tetap menjadi bagian dari perjalanan awal Republik Indonesia dalam mencetak dan mengedarkan mata uang sendiri di tengah situasi perang dan keterbatasan ekonomi.
Editor : Aditya Novrian