Penghasilan Pekerja Migran Asal Kabupaten Malang Tembus Ratusan Juta, tapi Mayoritas Ludes tanpa Dijadikan Aset

Ramizard Rafsanjani • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 19:40 WIB
 Tri Darmawan memberikan pesan mengenai mengelolah keuangan kepada para calon pekerja migran sebelum berangkat ke negara tujuan di Aula Disnaker Kabupaten Malang, Beberapa waktu lalu. (Dokumen Disnaker Kabupaten Malang)
Tri Darmawan memberikan pesan mengenai mengelolah keuangan kepada para calon pekerja migran sebelum berangkat ke negara tujuan di Aula Disnaker Kabupaten Malang, Beberapa waktu lalu. (Dokumen Disnaker Kabupaten Malang)

KEPANJEN, RADAR MALANG – Pengelolaan keuangan menjadi persoalan yang masih menghantui Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atay Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Malang. Disnaker mencatat sekitar 65 persen PMI menghadapi masalah ekonomi setelah bekerja di luar negeri. Bahkan, sekitar 30 persen PMI yang pulang kembali berangkat karena tabungan mereka telah habis.

Kondisi tersebut membuat sebagian PMI terjebak dalam siklus bekerja di luar negeri tanpa memiliki aset yang cukup setelah kembali ke kampung halaman. Disnaker Kabupaten Malang kini memperkuat edukasi finansial sejak sebelum calon PMI berangkat.

Penghasilan Ratusan Juta Tak Menjamin Punya Aset

Besarnya penghasilan PMI selama bekerja di luar negeri belum tentu berujung pada kondisi ekonomi yang lebih baik. Disnaker menemukan sebagian pekerja justru menghabiskan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan konsumsi tanpa membangun aset jangka panjang.

Baca Juga: Ada Aturan Baru untuk Pasangan TKI Asal Malang yang Ingin Bercerai, Wajib Bayar Rp 300 Juta

Kabid Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Kabupaten Malang Tri Darmawan mengatakan fenomena tersebut cukup banyak ditemukan, terutama pada PMI asal wilayah Malang Selatan. Sebagian pekerja akhirnya menjadi tumpuan ekonomi keluarga hingga dijuluki sebagai “ATM keluarga”.

“Punya uang, tapi bingung untuk gaya apa. Ada yang bekerja belasan tahun, uangnya habis begitu saja. Padahal kalau dikelola dengan baik, penghasilan dari Taiwan atau Hongkong dalam satu kontrak saja bisa mencapai ratusan juta rupiah,” tegas Tri.

Menurut dia, persoalan tidak hanya terjadi karena besarnya kebutuhan keluarga. Dalam sejumlah kasus, penghasilan PMI juga digunakan oleh kerabat maupun pasangan yang tidak memiliki penghasilan tetap.

Kontrak Pertama Diarahkan untuk Beli Rumah

Untuk mencegah penghasilan habis tanpa bekas, Disnaker Kabupaten Malang kini memperkuat edukasi pengelolaan keuangan sebelum keberangkatan. Calon PMI didorong memiliki target finansial yang jelas sejak awal bekerja.

Baca Juga: Jumlah TKI Asal Kabupaten Malang Terus Menurun, Hongkong Masih Jadi Tujuan Favorit

Salah satu target yang disarankan adalah membeli rumah atas nama pribadi dari hasil kontrak pertama. Langkah tersebut diharapkan menjadi pijakan agar penghasilan dari bekerja di luar negeri tidak seluruhnya habis untuk kebutuhan konsumtif.

Edukasi tersebut diberikan sebelum calon PMI berangkat ke negara tujuan. Disnaker ingin pekerja memahami bahwa pendapatan selama bekerja di luar negeri harus diperlakukan sebagai modal untuk memperbaiki kondisi ekonomi jangka panjang.

Purna-PMI Didorong Bangun Usaha

Upaya pemberdayaan juga menyasar PMI yang telah kembali ke Kabupaten Malang. Disnaker memberikan pelatihan kewirausahaan agar purna PMI memiliki sumber penghasilan setelah tidak lagi bekerja di luar negeri.

Pelatihan tersebut antara lain mencakup pengolahan makanan dan pembuatan aneka sari buah. Keterampilan tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi usaha mandiri sesuai potensi masing-masing daerah.

Langkah ini sekaligus menjadi upaya memutus ketergantungan terhadap pekerjaan di luar negeri. Dengan memiliki aset dan usaha, purna PMI diharapkan tidak perlu kembali menjadi pekerja migran hanya karena tabungan sebelumnya telah habis.

Baca Juga: Minat Warga Kabupaten Malang Kerja ke Luar Negeri Turun, hingga April Baru 1.426 TKI yang Berangkat

Disnaker Ingin PMI Pulang Bawa Hasil

Disnaker Kabupaten Malang menilai keberhasilan PMI tidak cukup diukur dari lamanya bekerja atau besarnya penghasilan yang diterima. Kemampuan mengubah pendapatan menjadi aset dan sumber penghasilan baru juga menjadi bagian penting.

Karena itu, edukasi finansial dan pemberdayaan ekonomi terus didorong agar PMI tidak sekadar menjadi penopang kebutuhan keluarga selama berada di luar negeri. Mereka juga diharapkan mampu membangun kemandirian ekonomi setelah kembali ke Kabupaten Malang.

Editor : Aditya Novrian
pekerja migran Malang pengelolaan keuangan PMI purna PMI disnaker kabupaten malang pmi kabupaten malang