MALANG KOTA, RADAR MALANG - Atas jasanya sebagai komandan pasukan gerilya, Letkol TNI Hamid Rusdi diusulkan menjadi pahlawan nasional. Proses pengusulan tersebut kini tengah dikebut Pemkot Malang. Berdasar Sistem Informasi Kearsipan Nasional (SIKN) Provinsi Jatim, pengusulan Hamid Rusdi sebagai pahlawan nasional sudah dilakukan secara resmi sejak 1989. Berbarengan dengan penerbitan buku biografi.
Namun usulan itu sampai sekarang masih dikawal masyarakat. Menurut Kepala Dinsos P3AP2KB Kota Malang Muhamad Sailendra, masyarakat kemudian mengajukan ke pemkot. ”Pasca-diajukan oleh masyarakat, kami masih mempelajari persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi,” kata Sailendra.
Baca Juga: Hangat dan Mengenyangkan, Lontong Sayur di Jalan Hamid Rusdi Jadi Pilihan Sarapan
Salah satu persyaratannya yakni pelibatan para pakar. Sailendra menyampaikan, pemkot bakal menggandeng sejarawan, tokoh masyarakat, hingga akademisi perguruan tinggi. Tujuannya untuk melakukan kajian yang komprehensif.
”Nanti bentuk pastinya, apakah berupa seminar atau dokumen kajian, akan kami lihat lagi secara detail kelengkapan persyaratannya. Setelah syarat di tingkat kota terpenuhi, baru berproses ke tingkat provinsi,” sambung Sailendra. Dia tidak bisa memastikan kapan pengusulan terpenuhi.
Namun pemkot berupaya menyelesaikannya dalam satu tahun. ”Karena pencanangannya kan biasanya menjelang 17 Agustus. Artinya, masih ada waktu sekitar setahun,” tambahnya.
Baca Juga: Warga Kecamatan Kedungkandang Kenang Hamid Rusdi lewat Aksi Teatrikal
Selain Hamid Rusdi, kalangan akademisi dari Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) juga pernah mengusulkan dua tokoh untuk menjadi pahlawan. Mereka adalah Ali Sastroamidjojo dan Doel Arnowo. Usulan tersebut disampaikan pada 11 November 2025.
Ali diusulkan karena aktif di organisasi kepemudaan sejak usia 15 tahun. Tidak hanya itu, dia pernah berkiprah sebagai diplomat mewakili Indonesia dalam sejumlah perundingan. Kepala Pusdipwasbang Unitri Agustinus Ghunu selaku pihak yang menyampaikan usulan menjelaskan, Ali memiliki rekam jejak di Malang.
”Dia pernah terlibat dalam sidang pleno kelima dari KNIP di Gedung Societeit Concordia yang sekarang menjadi Sarinah Plaza,” kata dia.
Sementara itu, Doel Arnowo merupakan tokoh penting saat pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Arnowo juga pernah menjadi rektor pertama dari Universitas Brawijaya (UB) periode 1963-1966. (mel/by)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang