MALANG, RADAR MALANG – Puluhan jurnalis Malang Raya menggelar doa bersama untuk lima jurnalis dan tiga kru kapal yang masih hilang kontak saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Doa bersama digelar di Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Jumat (11/9) malam, memasuki hari keempat pencarian.
Para jurnalis duduk membentuk lingkaran dengan latar Masjid Jami Kota Malang. Zikir dan doa dipanjatkan untuk keselamatan delapan orang yang hingga kini belum diketahui keberadaannya setelah bertolak menggunakan speedboat dari perairan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Lima jurnalis tersebut yakni Muhammad Bagus Khoirunnas, pewarta foto Kantor Berita ANTARA Biro Banten; Arie Basuki, pewarta foto senior Merdeka.com; Yudistiro Pranoto, jurnalis iNews; Firdaus Wajidi, jurnalis visual Anadolu Agency; serta Donal Husni, jurnalis lepas.
Sementara tiga kru kapal yang turut hilang yakni Warta selaku kapten atau nakhoda, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.
Baca Juga: Kronologi Rombongan Jurnalis Hilang Kontak Saat Liput Anak Krakatau
Doa dan Harapan dari Malang
Koordinator doa bersama Hila Daningntyas mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan sekaligus harapan agar seluruh jurnalis dan kru segera ditemukan dalam kondisi selamat.
"Sampai hari ini, belum ada kabar keberadaan teman-teman jurnalis. Saya bisa merasakan betapa sedihnya keluarga karena saya juga punya anak dan suami," katanya.
Menurut Hila, hilangnya delapan orang tersebut tidak hanya menjadi kekhawatiran rekan seprofesi. Di rumah, terdapat keluarga yang masih menunggu kepulangan mereka.
Baca Juga: 12 Alut Dikerahkan Cari 8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda
Dia juga menyampaikan harapan agar proses pencarian segera membuahkan hasil. Dia mengingatkan bahwa tugas jurnalistik memiliki risiko, terutama ketika wartawan harus berada di lokasi untuk mendapatkan informasi secara langsung.
"Ketika yang lain menghindari bencana, jurnalis justru mendatangi. Bukan karena kami tidak takut, tapi karena kami ingin mengabarkan informasi terbaru untuk masyarakat. Tujuan kita memang membuat berita yang bagus, tapi tujuan paling utama lagi adalah pulang ke rumah dan berkumpul dengan selamat," serunya.
Wali Kota Malang Turut Mendoakan
Doa bersama dipimpin Pemimpin Redaksi Times Indonesia Yatimil Ainun. Wali Kota Malang Wahyu Hidayat juga hadir dan ikut mendoakan keselamatan rombongan yang hilang kontak.
"Kami ikut mendoakan, semoga segera ditemukan dalam kondisi yang baik," kata Wahyu.
Kehadiran para jurnalis Malang Raya menjadi bentuk solidaritas terhadap rekan-rekan mereka yang hingga kini masih dalam pencarian. Para peserta berharap informasi mengenai keberadaan rombongan segera ditemukan sehingga keluarga memperoleh kepastian.
Baca Juga: Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Kamar, Polisi Tunggu Hasil Visum
Hilang Kontak setelah Meliput Anak Krakatau
Delapan orang tersebut sebelumnya berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin. Mereka menuju kawasan perairan Gunung Anak Krakatau untuk memantau sekaligus meliput aktivitas erupsi.
Sekitar pukul 14.42 WIB, salah satu jurnalis sempat membagikan informasi mengenai lokasi terakhir mereka kepada rekan sesama jurnalis di Lampung.
Selanjutnya, pada pukul 15.04 WIB, komunikasi terakhir tercatat ketika rekan di darat kehilangan kontak dengan Muhammad Bagus Khoirunnas.
Sekitar pukul 16.00 WIB, Heriyanto yang merupakan pemandu di kapal sempat mengirimkan foto kepada istrinya. Dalam komunikasi tersebut, dia mengabarkan posisi rombongan berada di sekitar Gunung Anak Krakatau dan dalam kondisi aman.
Setelah komunikasi tersebut, tidak ada lagi kabar dari rombongan. Mereka juga tidak kunjung kembali ke daratan hingga malam hari dan tidak dapat dihubungi.
Keluarga serta perwakilan media kemudian melaporkan hilang kontak tersebut kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten pada pukul 13.55 WIB. Hingga Jumat (11/9), pencarian masih dilakukan dan belum ada informasi mengenai keberadaan kelima jurnalis serta tiga kru kapal tersebut.
Editor : Aditya Novrian