Saat Ken Arok Membuktikan Cintanya kepada Ken Dedes

Ramizard Rafsanjani • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 16:23 WIB
BUKTIKAN KESERIUSAN: Aksi Ken Dedes dan KenArokdalam pertunjukkan Teater Barajiwa di Lapangan Landungsari, Kecamatan Dau, Sabtu (12/9) lalu. (Verdi Satria for Radar Malang)
BUKTIKAN KESERIUSAN: Aksi Ken Dedes dan KenArokdalam pertunjukkan Teater Barajiwa di Lapangan Landungsari, Kecamatan Dau, Sabtu (12/9) lalu. (Verdi Satria for Radar Malang)

DAU – Ken Dedes tidak hanya digambarkan sebagai perempuan yang diperebutkan KenArok dan Tunggul Ametung. Sosoknya juga menjadi bagian penting dalam konflik sekaligus penyampai pesan tentang ambisi dan cara meraih keinginan. Gambaran itu muncul dalam pementasan teater Arok Dedes di Lapangan Landungsari, Kecamatan Dau, Sabtu (12/9) malam.Pementasan oleh Karang Taruna Perum New Villa Bukit Sengkaling tersebut tetap membawa kisah perebutan Ken Dedes oleh KenArok. Namun, pembimbing teater Verdi Satria mengatakan, karakter Ken Dedes sengaja tidak hanya ditempatkan sebagai objek dalam perebutan cinta dan kekuasaan.

Menurut Verdi, Ken Dedes juga digambarkan memberikan nasihat kepada KenArok ketika ambisinya mulai mengarah pada cara-cara yang keliru. “Menempuh hal baik itu harus dengan cara yang baik pula. Tidak boleh menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang kita impikan,” ujar Verdi.

Dalam cerita, keinginan KenArok mendapatkan Ken Dedes membuatnya berusaha menyingkirkan Tunggul Ametung. Ia kemudian menggunakan keris buatan MpuGandring untuk membunuh Tunggul Ametung. Sebelumnya, KenArok juga membunuh MpuGandring setelah terjadi perselisihan terkait keris tersebut.

Ketua Pelaksana Muhammad Iqbal Pratama mengatakan, konflik tersebut menjadi bagian utama cerita. “KenArok ingin merebut Dedes dari Tunggul Ametung. Bagaimana caranya dan apa pun jalannya ditempuh untuk mendapatkan Ken Dedes, sampai akhirnya KenArokkepikiran membunuh Tunggul Ametung,” ujarnya.

Kematian Tunggul Ametung kemudian membuka jalan bagi KenArok mendapatkan Ken Dedes sekaligus kekuasaan di Tumapel. Namun, ambisi tersebut justru menjadi awal rangkaian petaka. Dalam cerita, KenArok akhirnya dibunuh Anusapati, anak Ken Dedes dan Tunggul Ametung, menggunakan Keris MpuGandring.

Selain konflik, adegan KenArok dan Ken Dedes menari dengan jarak sangat dekat juga mencuri perhatian penonton. “Yang paling mengejutkan itu waktu narinyaKen Dedes sama KenArok. Kan kayak nempel banget sehingga banyak yang kaget saat scene itu, mengingat kami warga perumahan sangat jarang bersosial,” kata Iqbal.

Pementasan melibatkan sekitar 25–30 anak, mulai PAUD hingga mahasiswa, dan disaksikan sekitar 100–150 penonton. Bagi Verdi, cerita tersebut juga menjadi cara mengenalkan sejarah leluhur kepada generasi muda.

“Cerita tersebut mengingatkan anak-anak muda kalau kita memiliki sejarah leluhur dengan nama yang besar,” pungkasnya. (ram/adn)

Editor : Aditya Novrian
ken dedes Ken Arok