Dari Foto Pasar Gadang, Wali Kota Malang Bicara tentang Perubahan Kota dan Cerita di Balik Sebuah Karya

Aditya Novrian • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 09:39 WIB
Ketua PFI Malang Darmono (kanan) menjelaskan karya fotografi ke Wali Kota Malang Wahyu Hidayat.
Ketua PFI Malang Darmono (kanan) menjelaskan karya fotografi ke Wali Kota Malang Wahyu Hidayat.

MALANG, RADAR MALANG — Sebuah foto tidak hanya merekam apa yang terlihat. Di dalamnya, tersimpan cerita tentang manusia, ruang, perubahan, bahkan perjalanan sebuah kota.

Hal itu terlihat saat Wali Kota Malang mengunjungi pameran fotografi Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang, Sabtu (26/9/2026). Saat berdiskusi mengenai sejumlah karya yang dipamerkan, Wali Kota mengaitkan fotografi dengan perubahan yang terjadi di Kota Malang, salah satunya melalui karya yang merekam kawasan Pasar Gadang.

Menurutnya, sebuah foto dapat menjadi medium untuk melihat kembali bagaimana sebuah tempat berkembang dari waktu ke waktu. Foto tidak sekadar menunjukkan kondisi sebuah lokasi, tetapi juga dapat menghadirkan konteks dan cerita di balik perubahan tersebut.

Wali Kota kemudian menceritakan pengalamannya ketika masih menjadi Camat Tajinan sekitar dua dekade lalu. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari cara pandangnya ketika melihat persoalan Pasar Gadang.

Ketika kemudian menjadi Wali Kota Malang, ia mengaku kerap menerima masukan masyarakat mengenai kondisi Pasar Gadang, termasuk melalui media sosial.

“Ini dari permintaan juga. Dari banyak orang-orang yang selalu saya temui, ketemu di mana-mana, di media sosial saya. Selalu banyak masalah Pasar Gadang,” ujarnya.

Bagi Wali Kota, karya fotografi yang merekam sebuah tempat seperti Pasar Gadang dapat menjadi cara untuk melihat perjalanan sebuah kawasan secara lebih utuh. Kondisi masa lalu dan perubahan yang terjadi kemudian menjadi bagian dari cerita yang dapat dibaca melalui visual.

Ia menilai kekuatan fotografi terletak pada kemampuan fotografer menghadirkan sudut pandang yang tidak selalu terlihat dalam pemberitaan sehari-hari.

“Kalau dalam satu foto kita bisa lihat berbeda angelnya, yang tidak biasa ditampilkan di media-media, itu menjadi orang tertarik,” katanya.

Menurutnya, sudut pandang tersebut membuat penonton tidak berhenti pada apa yang terlihat secara visual. Sebaliknya, sebuah foto dapat mendorong orang untuk bertanya dan mencari tahu cerita yang ada di baliknya.

Pandangan serupa ia sampaikan ketika melihat sejumlah karya lain dalam pameran. Salah satunya foto yang menggambarkan kehidupan sebuah keluarga di dalam rumah.

Dari elemen-elemen sederhana yang hadir dalam foto, Wali Kota melihat adanya cerita mengenai kehidupan, identitas, hingga nasionalisme. Baginya, fotografer mampu menghadirkan cerita tanpa harus menjelaskan semuanya melalui teks.

“Yang tidak biasa ini menjadi sesuatu yang menarik. Yang tidak bisa kita lihat semua, yang tidak biasa tapi tampilannya juga membuat orang pertama ini melihat, ingin langsung kemudian berpikir,” ujarnya.

Pameran PFI Malang tahun ini mengangkat tema “Tanah, Pangan, dan Harapan”. Tema tersebut juga menjadi ruang untuk melihat berbagai persoalan masyarakat melalui perspektif fotografi, mulai dari tanah dan pangan hingga harapan yang tumbuh di tengah perubahan zaman.

Wali Kota menilai tema tersebut relevan dengan persoalan yang tengah dihadapi masyarakat, termasuk keterbatasan tanah, persoalan pangan, serta harapan terhadap masa depan.

Melalui kunjungannya, Wali Kota berharap pameran fotografi seperti yang digelar PFI Malang dapat terus berkembang dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Baginya, ketika sebuah karya mampu menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, fotografi tidak hanya menjadi karya visual, tetapi juga menjadi medium untuk memahami perubahan di sekitar.

Pameran fotografi PFI Malang berlangsung hingga Minggu (27/9/2026), mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.

Editor : Aditya Novrian
PFI wali kota malang fotografi