Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kekurangan Ventilator, RSSA Tolak Layani Pasien Baru Covid-19

Editor : Hendarmono Al S. • Minggu, 16 Agustus 2020 | 21:42 WIB
Rumah Sakit Saiful Anwar membuka rekruitmen tenaga kesehatan  ( Darmono/Radar Malang)
Rumah Sakit Saiful Anwar membuka rekruitmen tenaga kesehatan  ( Darmono/Radar Malang)
MALANG KOTA - Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) terpaksa menghentikan pelayanan pasien positif Covid-19 yang penangannya butuh alat bantu pernapasan.

Penghentian ini disebabkan terus berdatangannya pasien baru sementara ventilator yang tersedia terbatas, sehingga membuat kewalahan rumah sakit (RS) rujukan utama milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur itu.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, sejak beberapa hari lalu RSSA sudah tidak mampu menampung pasien baru yang penanganannya membutuhkan alat bantu pernapasan. Diduga, hal itu juga dialami beberapa RS rujukan lain di kota pendidikan ini.

Juru Bicara (Jubir) Satgas Covid-19 Kota Malang dr Husnul Muarif mengatakan, sejak beberapa hari lalu pihaknya merujuk pasien Covid-19 ke RS daerah lain. Misalnya ke RSUD Kanjuruhan dan RS Karsa Husada.

”Ini selalu kami komunikasikan. Kalau di sana (RSUD Kanjuruhan dan RS Karsa Husada) tersedia ventilator, pasien segera kami rujuk ke sana,” ujar dokter Husnul yang juga Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang kemarin (15/8).

Untuk diketahui, di Kota Malang ada tujuh RS rujukan khusus pasien Covid-19. Di antaranya adalah RS Saiful Anwar, RS Lavalette, RSI Aisyiyah, RS Panti Waluya Sawahan (biasa disebut RKZ), RST Soepraoen, RS Hermina, dan RSI Unisma.

Menanggapi kabar kurangnya ventilator di RSSA, Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan Medik dan Keperawatan RSSA dr Syaifullah Asmiragani SpOT(K)-Spine membenarkan keterbatasan ventilator sehingga terpaksa menolak pasien baru.

”RSSA saat ini selalu penuh,” kata dokter Syaifullah.

Menurut dokter Syaifullah, faktor mendasar bukan kurangnya ventilator tetapi masalahnya adalah tenaga perawat mahirnya yang kurang. “Kami butuh tambahan perawat ICU,” tandasnya.

Saat ini RSSA punya sekitar 20 tempat tidur di ICU. Tapi karena keterbatasan tenaga kesehatan (nakes) yang bisa beroperasi maksimal hanya 8 tempat tidur dan ventilator.

”Kami sedang menggelar on job training untuk 21 perawat, yakni untuk perawat biasa untuk di-upgrade menjadi perawat ICU,” imbuh dia.

Sementara itu, Kabag Humas RSSA Donny Iryan mengatakan, pasien yang dirujuk ke RSSA kondisinya sudah parah dan penanganannya membutuhkan ventilator. ”Yang terjadi saat ini ya stagnan karena tidak bisa terima pasien,” kata Donny.

”Biasanya pasien yang datang selalu butuh ICU dan ventilator. Mungkin itu yang akhirnya mencuat di khalayak, bahwa RSSA ini ruang isolasinya penuh, padahal yang penuh adalah ruang ICU-nya saja,” tambah aparatur sipil negara (ASN) Pemprov Jatim itu.

Donny menegaskan, ruang isolasi masih sisa 14 tempat tidur dari total 80 tempat tidur. Yakni terdiri dari ruang ICU, ruang high care, dan ruang low care.


Pewarta: Arlita Ulya Kusuma Editor : Editor : Hendarmono Al S.
#Tolak Pasien Baru #Positif Covid-19 #Kota Malang #Ventilator #RSSA