Dari diskusi mereka, akhirnya dipilihlah kantor NU pertama di Malang Raya berada di Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Ini selevel Pengurus Cabang (PC) NU Malang. KH Wahab saat itu juga hadir peresmian kantor NU itu. ”Tapi saat itu hanya semacam selamatan. Karena kantornya ya dijadikan rumah oleh KH Sholeh,” ungkap Abah Haji Taufikurohman, warga Desa Pandansari yang juga santri dari KH Nachrowi.
Kala itu kantornya berada di rumah KH Sholeh yang merupakan teman dari KH Kholil. Dan, dari Desa Pandansari, Poncokusumo, inilah, dalam sejarah, cikal bakal berkembangnya NU di Malang Raya hingga kini. Bekas kantor NU pertama di Malang itu juga masih ada hingga saat ini. Sayangnya, sudah dialih fungsi menjadi sarang burung walet.
Dengan masuknya NU ke Malang lewat Poncokusumo itu, gerakan Islam Aswaja kian pesat. Warga Malang yang kala itu mayoritas kaum abangan (kalangan yang tidak taat beragama Islam) mulai berkurang. Kegiatan ritual agama Islam kian gencar dengan adanya sejumlah tempat pengajian. Namun, saat itu ”kiblat” keilmuan Islam masih ke KH Thohir, Bungkuk, Pagentan, Singosari. Karena ada sejumlah santri asal Poncokusumo yang berguru ke KH Thohir.
Sepeninggal KH Thohir, perjuangan diteruskan KH Nachrowi dengan mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan serta Hollandsch Inlandsch School (HIS) Nahdlatul Oelama pada tahun 1939 di daerah Sawahan.
”Dari beberapa tokoh ulama ini kita bisa lihat bahwa Malang memiliki sumbangsih dalam pergerakan NU mulai berdiri hingga saat ini,” imbuh Gus Imron Rosyadi.
Dia menambahkan, peran keturunan dari Mbah Thohir cukup besar dalam keberlangsungan NU. Terutama nasihat dan petuah yang diberikan kepada para pendiri untuk menjadikan NU sesuai tujuannya. (adn/c1/abm/rmc)
Editor : Shuvia Rahma