Pilih Benang Berkualitas serta Tekun Jaga Proses Pembuatannya
Indra Andi• Minggu, 23 Mei 2021 | 12:09 WIB
BERTAHAN: Dengan menggunakan alat masih tradisional, para pekerja mayoritas berusia lanjut dengan tekun mengerjakan tahapan demi tahapan sarung tenun usaha milik Muhammad Ridho B Mansyur di Jalan Indrokilo Selatan, Lawang, Kabupaten Malang.(Darmono/radar
Photo
Ikhtiar menjaga eksistensi sebuah karya yang sudah sejak puluhan tahun, tentu bukan hal yang mudah. Terlebih bagi pelaku industri mikro seperti sarung tenun tradisional di Kecamatan Lawang yang ditekuni oleh Muhammad Ridho yang kini sudah masuk pada generasi ketiga. Berikut berbagi kisahnya kepada wartawan JawaPos Radar Malang Galih R Prasetyo.
Bau tinta cat untuk kain langsung menyergap hidung saat koran ini bertandang ke pusat pembuatan kain tenun di tempat home industry milik Muhammad Ridho B Mansyur di Jalan Indrokilo Selatan, Lawang, Kabupaten Malang. Hari itu para pegawainya, tampak fokus dan pekerjannya masing-masing.
Apa yang menjadi tugas diusahakan dikerjakan sebaik mungkin dan juga penuh ketelatenan. Mereka yang bertugas mewarnai benang mengusahakan agar hasil warna yang dihasilkan benar-benar bagus seperti yang diinginkan. Lalu yang menenun, tampak dengan telaten dan teliti menyusun urutan helai demi helai benang dari berbagai ragam warna. Itu dirangkai menjadi sebuah sarung atau surban yang punya corak dan desain menarik.
Proses menenun disebut oleh Muhammad Ridho B Mansyur memang sangat panjang. Di mana setiap pengerjaan dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan ketelitian. Sebab, apabila ada satu proses tidak berjalan atau terlewat dari ketentuan yang telah direncanakan, maka efeknya bisa berpengaruh pada sarung yang dibuat. Misalnya, adalah jika saat proses pewarnaan kurang maksimal. Akibatnya sarung tenun yang dibuat bisa jadi mempunyai warna yang kurang menarik. Alhasil menurut Ridho, saat produksi sarung Tenun harus dilakukan secara presisi. ”Sampai-sampai setiap sarung yang kami buat ada hitungan benangnya. Contohnya untuk warna merah berapa helai, biru berapa, sampai seterusnya,” jelas generasi ketiga dari Tenun Tradisional Lawang tersebut.
Lalu disebutnya, bahwa mereka yang menenun juga harus punya ketelatenan luar biasa. Sebab, selain harus mengeluarkan tenaga untuk mengerjakan alat tenun tradisional terbuat dari kayu jati. Mereka juga diwajibkan punya kesabaran dan ketelatenan yang ekstra untuk menyusun satu benang ke benang lainnya. ”Di sini itu selain kerja fisik juga bisa dibilang kerja otak juga,” terang Ridho sembari menunjukkan para pekerja tengah menenun dengan alat tradisional.
Dijelaskan pria 27 itu, dalam proses pembuatan sarung tenun ada lima tahap yang harus dilalui. Pertama, adalah desain kemudian kedua mengumpulkan benang warna putih, lalu ketiga proses mewarnai benang. Di mana harus dilakukan sebanyak tiga kali untuk menghasilkan sebuah warna yang kualitas bagus. Lalu keempat benang-benang itu disusun sesuai kebutuhan dengan maksud mengetahui jumlah warna yang akan digunakan menenun, lalu di mal (cetak) untuk pada akhirnya masuk proses menenun dan tahap terakhir yakni ke lima baru dijahit.
Umumnya untuk sarung yang berukuran sedang, dibutuhkan sekitar 1.400 benang. Sedangkan untuk surban sekitar 170 benang. Di mana menurutnya setiap benang yang digunakannya adalah berasal dari luar negeri. Kenapa harus benang luar negeri? Diakuinya lebih besar dan juga kuat. ”Biasanya kami impor dari India dan China untuk benang,” tuturnya.
Proses panjang itu diakui oleh bapak satu anak ini membuat tidak banyak sarung tenun yang diproduksi dalam setiap harinya. ”Setiap harinya para penenun hasilkan hanya 2 sarung dan 7 surban saja,” ricinya. Itu diselesaikan dengan 8 orang. Apabila dihitung setiap bulannya, dari usaha Ridho ini mampu menghasilkan sebanyak lebiuh kurang 456 sarung tenun. Apabila memuat sarung tenun benang sutra memakan waktu lebih lama yakni hanya satu sarung yang bisa dibuat dalam satu harinya.
Karena proses itu juga, diakuinya sangatlah sulit untuk menghadirkan regenerasi di unit usahanya. Para pemuda di daerahnya banyak memilih bekerja di pabrik dari pada kerja di tempatnya. Atas kondisi tersebut, membuat Ridho sampai kerap harus ke luar Malang untuk mencari penenun tambahan. ”Biasanya kami mempekerjakan penenun rumahan. Lalu setiap minggu setor ke kami,” jelasnya. Sementara benang serta desain sudah dia siapkan.
Walaupun harus melalui jalan yang berliku mempertahankan eksitensi sarung tenun miliknya. Namun Ridho mengaku enggan untuk menyerah. Itu lantaran usaha yang saat ini dikelolanya itu sudah bertahan sekitar 40-an tahun. Dimana dimulai dari regenarasi yang kakek, ayahnya, sampai dirinya saat ini. Mempertahnkan itu semuanya menurut Ridho, cara yang ditempuh adalah menjaga kualitas.
Diakauinya sejak mulai mengelola pada 7 tahun yang lalu, dia tidak mengubah apa yang menjadi proses pembuatan sarung tenun. ”Alat-alat yang kami gunakan masih sama seperti dulu. Tujuanya adalah keautentikan sarung tenun bisa tetap terjaga,”katanya. Semisal ada inovasi, pria domisili di Lawang itu, mengaku kalau hanya memainkan warna saja dan memperluas produksi dengan mengandeng ibu-ibu rumah tangga.
”Terkait warna, selalu saya buat variasi. Khusunya terkait gradasinya,” tuturnya. Mulai dari terang ke gelap, dan terang. Atau sebaliknya warna gelap, terang, lalu gelap lagi. Saat ini pasar yang dijangkau unit usaha Tenun Tradisonal adalah di beberapa wilayah di Indonesia. Mulai dari Jawa sampai dengan Kalimatan. Untuk harga satu sarung berkisar Rp 100 ribu sampai dengan Rp 200 ribu.(mas) Editor : Indra Andi