Sebelumnya, proyek JLS tahap pertama sejauh 23 km dari Pantai Sedangbiru hingga ke Pantai Balekambang juga sudah dioperasikan. Praktis, saat ini, JLS sudah nyambung sepanjang 41 kilometer.
Jawa Pos Radar Malang secara khusus mengeksplorasi proyek nasional yang merupakan bagian dari lintas selatan tersebut. Didanai oleh investor dari Islamic Development Bank (IDB), di wilayah Kabupaten Malang saja proyek tersebut menelan anggaran hingga Rp 230 miliar.
Sesuai dengan jadwal, kontrak pekerjaan tersebut bakal berakhir pada 14 Januari 2022 mendatang. Pantauan koran ini pada Selasa (14/12) lalu, ruas jalan nasional sepanjang 18,063 kilometer itu sudah terhubung. Mulai dari perempatan Balekambang di Kecamatan Bantur, hingga simpang empat Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo. Kecuali jalan turunan menuju jembatan Umbul Kaji, seluruh permukaan jalan tersebut sudah terlapisi aspal hotmix.
Lebar jalan utamanya kurang lebih 7 meter dengan tambahan bahu jalan dan drainase di kanan kiri. Beberapa orang masih terlihat sibuk melakukan pekerjaan seperti pemolesan dan aktivitas ringan lainnya. Sementara untuk pekerjaan berat, sejumlah kendaraan operasional dan alat berat juga terlihat masih berlalu lalang.
Salah satu yang masih dikerjakan yakni retaining wall atau dinding penahan tanah yang lokasinya tidak jauh dari jalur masuk menuju Pantai Kondangmerak. Informasi yang diterima koran ini, pembangunan retaining wall itu sebagai proteksi untuk kawasan yang masuk kategori daerah milik jalan (DMJ) alias right of way (ROW).
Namun Technical Assistant PT Lancar Jaya Mandiri Abadi Abi Zamahsyari mengatakan bahwa pekerjaan dinding penahan tersebut bukan yang paling primer. "Yang berat itu blasting, galian batu, dan tanah. Jadi yang sifatnya untuk fungsi," kata Abi.
Sementara pengerjaan dinding di kanan kiri ruas jalan masuk kategori pekerjaan pemanis. Maksudnya, selain untuk keamanan keberadaan proyek tersebut juga untuk membuat penampakan JLS menjadi lebih rapi. Sebagai informasi, PT Lancar Jaya Mandiri Abadi merupakan kontraktor yang bertugas untuk menggarap megaproyek JLS di Lot 9 yang bertempat di Kabupaten Malang.
Abi menjelaskan, pihaknya menggunakan metode blasting breaker untuk membelah bukit-bukit yang dilintasi oleh jalur. Caranya yakni dengan melakukan pengeboran tanah guna pengisian bahan peledak. "Metode ini kami gunakan untuk pembelahan bukit dan juga untuk pembentukan jalan yang sesuai dengan standar operasional," terang Abi.
Secara keseluruhan, pria asal Makassar itu menambahkan, pengerjaan ruas JLS kini sudah mencapai 96 persen. Untuk pekerjaan berat, Abi mengklaim bahwa seluruhnya sudah terlaksana. "Sekarang kami fokus untuk pekerjaan finishing. Seperti pasang rambu, markah jalan, juga aspal yang masih kurang di beberapa spot," tambah dia.
Selama 2,5 tahun menggarap proyek tersebut, Abi tidak memungkiri bahwa banyak kendala yang harus dia hadapi di lapangan. Salah satunya cuaca. Saat musim penghujan, banyak kawasan di sekitar proyek mengalami longsor. Seperti yang terjadi di kawasan sekitar jembatan Umbul Kaji. Pantauan koran ini, sekitar 500 meter dari jembatan tersebut terjadi longsoran. Lokasinya berada di kanan jalan yang berstatus sebagai lahan milik warga. Jembatan terbesar yang ada di jalur tersebut kini menjadi salah satu pekerjaan rumah (PR) yang harus mereka kebut.
Untuk diketahui, selain pekerjaan jalan pada Lot 9 JLS juga terdapat lima jembatan utama. Yakni Jembatan Kali Trubus, Jembatan Kali Pang, Jembatan Kali Beji, Jembatan Kondang Iwak, dan Jembatan Umbul Kaji. Yang terpanjang yaitu Jembatan Umbul Kaji dengan bentang mencapai 120 meter. Jembatan tersebut menjadi salah satu spot yang eksotis dengan pemandangan bukit-bukit serta aliran sungai yang menawan.
Tantangan lainnya, masih kata Abi, yaitu membuat jalan baru yang nyaman, aman, tetapi tidak melanggar aturan. "Contohnya dari aspek kelandaian, itu tidak boleh lebih dari 10 persen, karena nanti bus dan truk akan banyak yang mogok kalau begitu (lebih dari 10 persen)," jelasnya. Kelandaian yang dimaksud dalam hal ini yaitu posisi kemiringan turunan dan tanjakan pada jalur kendaraan.
Lantas kapan JLS tahap kedua tersebut dapat dipergunakan? Pihak kontraktor menargetkan pada akhir Januari 2022 mendatang sudah ada tim dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang datang untuk melakukan pengecekan. Dengan demikian, proses penetapan laik fungsi jalan lintas tersebut bisa dilakukan.
"Jadi diharapkan dalam masa akhir Januari atau Februari itu sudah disahkan oleh pemerintah untuk dioperasikan," harapnya. Yang paling utama, Abi menuturkan bahwa target utama mereka adalah memberikan dukungan transportasi dengan adanya JLS. Harapannya, akses transportasi tersebut dapat mendukung kebutuhan seluruh warga agar dapat terpenuhi baik dari aspek aksesibilitas maupun perekonomian. (iik/abm) Editor : Mardi Sampurno