Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Terungkap, Ini Alasan Pasar Bululawang Ditutup Sebagian

Mahmudan • Kamis, 3 Februari 2022 | 17:30 WIB
HANGUS: Kios yang terbakar di Pasar Bululawang, Minggu lalu (16/1) itu masih belum diperbaiki hingga saat ini.
HANGUS: Kios yang terbakar di Pasar Bululawang, Minggu lalu (16/1) itu masih belum diperbaiki hingga saat ini.
BULULAWANG – Pemerintah kabupaten (Pemkab) Malang berencana menutup sementara Pasar Bululawang. Penutupan pasar yang rencananya dilakukan dalam waktu satu atau dua hari ini dilakukan demi keamanan.

Sebab setelah kebakaran pada Minggu lalu (16/1), zona pedagang yang hangus dilalap si jago merah itu tidak bisa dikunci. Untuk penutupannya, pemkab bakal memasang seng di area eks kebakaran.

Kepala UPTD Pasar Bululawang Dwi Edi Susanto mengatakan, pihaknya bersama pedagang yang terdampak berencana melakukan penutupan di sejumlah bagian bangunan yang terbakar. "Kalau tidak besok (hari ini), ya mungkin lusa (besok) ditutup. Itu permintaan pedagang dengan alasan keamanan," ujar Edi, kemarin.

Dia mengatakan, penutupan tersebut hanya bersifat parsial. Artinya, hanya kios-kios yang terdampak yang bakal mereka tutup dengan menggunakan seng. Selain lapak pedagang, penutupan juga akan diberlakukan untuk pintu masuk pasar yang terbakar. ”Kalau pintu masuk yang lain kan masih bisa dikunci. Nah kalau yang bekas kebakaran itu sekarang tidak bisa ditutup. Jadi demi keamanan kami tutup dengan seng," tambah Edi.

Terkait penanganan, hingga kemarin Edi masih menunggu informasi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang. "Hari ini (kemarin, 2/2) kami menggelar rapat kecil dengan beberapa pedagang. Karena dari dinas (disperindag) sebelumnya sudah disepakati tidak ada relokasi, tapi mereka ini sangat ingin bisa cepat beraktivitas lagi," terang Edi.

Disinggung mengenai larangan pedagang memperbaiki kiosnya saat pihaknya masih melakukan pendataan, Edi tidak menampik bahwa ada sebagian pedagang yang melanggar. Yakni tetap nekat memperbaiki kiosnya secara mandiri. "Yang kami khawatirkan, ketika dinas cipta karya nanti melihat (melakukan pendataan) ternyata pedagang sanggup memperbaiki sendiri. Risikonya malah yang lain kesulitan mendapat bantuan," terang dia.

Jika pedagang ngebet ingin berjualan, dia menyarankan agar pedagang menyewa kios. Dengan demikian, mereka bisa berjualan lagi, sementara kondisi lapaknya dibiarkan pascakebakaran, sehingga hasil pendataan pemkab faktual.

Pantauan wartawan koran ini di lokasi, sejumlah pedagang kembali berjualan. Ada yang berjualan di sisa kios yang tidak terbakar, menyewa kios lain, dan ada lagi yang belum bisa berjualan.

Seperti yang dilakukan Muhammad Lutfi Santoso. Pedagang pakaian itu memilih menempati kios keduanya agar bisa kembali berjualan. Satu di antara dua kios yang dimilikinya rusak total, namun beruntung masih ada kios lagi miliknya yang bisa digunakan mengais rezeki. "Ya Alhamdulillah ada yang tersisa. Teman-teman pedagang lain banyak yang masih kesusahan karena belum bisa berjualan," kata Lutfi di temui di Pasar Bululawang.

Pria asal Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen itu berharap segera ada penanganan terkait dengan perbaikan pasar. ”Keinginan kami ya kalau bisa dibangun kembali, seperti yang kemarin (sebelum kebakaran) saja tidak apa-apa," imbuhnya.

Sementara pedagang lain nekat membangun kiosnya, lalu berjualan lagi. Pedagang yang menolak namanya dikorankan itu mengaku terpaksa memperbaiki kiosnya sendiri meski dilarang pemerintah, karena dia ingin segera berjualan. ”Cuma perbaiki tembok ini saja sama atap, (biayanya) nggak sampai Rp 500 ribu," katanya.

Dia juga mengaku sudah mengetahui ada melarang memperbaiki kios secara mandiri dari Pemkab Malang. "Kalau saya kan mandiri bangunannya, tidak seperti los. Kalau tidak dikasih atap ya panas, nanti juga dilaporkan," imbuh pria yang sudah 31 tahun berjualan di Pasar Bululawang itu.(iik/dan) Editor : Mahmudan
#kebakaran #Pasar Bululawang #Pedagang