Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Di Balik Keberadaan Wisata Religi Keraton Gunung Kawi

Mahmudan • Senin, 7 Februari 2022 | 15:00 WIB
WISATA RELIGI: Kawasan Gunung Kawi ini menjadi salah satu objek wisata yang kerap dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
WISATA RELIGI: Kawasan Gunung Kawi ini menjadi salah satu objek wisata yang kerap dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Di balik image-nya sebagai destinasi wisata rohani, Kraton Gunung Kawi menyimpan keindahan alam yang luar biasa. Terlepas dari nuansa mistis yang kerap dikait-kaitkan dengan pesugihan, ada sisi lain yang jarang ter-expose.

 

FARIK FAJARWATI

SEPANJANG perjalanan menuju Keraton Gunung Kawi, pengunjung dimanjakan dengan lanskap yang asri. Bergerak dari Kantor Kecamatan Wonosari, pengunjung akan bergerak ke arah Utara jika hendak menuju Keraton Gunung Kawi. Sementara bagi yang ingin berkunjung ke Pesarean Gunung Kawi, Anda tinggal mengikuti jalur ke arah Barat.

Sepanjang perjalanan, sekali dua kali Anda akan berjumpa dengan permukiman penduduk. Namun sisanya lanskap gunung setinggi 2.551 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu menjulang gagah dari arah Barat Laut. Saat cuaca cerah, di kanan kiri jalur tersebut juga membentang lahan pertanian warga yang ditanami berbagai tanaman pangan.

Nuansa berbeda akan mulai dirasakan pengunjung sesaat setelah berbelok ke kiri dari pertigaan terakhir menuju kawasan Keraton Gunung Kawi. Di kanan-kiri jalan, pengunjung bakal disuguhi pemandangan khas hutan hujan tropis yang terdiri dari pohon pinus serta bambu. Bagi mereka yang tersugesti dengan kisah-kisah mistis, hampir dipastikan bakal merinding di sepanjang jalur yang hampir selalu sepi itu. Hanya satu dua pengendara yang berpapasan dari arah berlawanan saat Jawa Pos Radar Malang berkunjung ke sana pekan lalu.

Namun bagi yang tidak, puas-puas sinar matahari yang menembus dari sela pohon pinus maupun bambu yang rapat bakal menjadi spot yang memanjakan mata. Cocok untuk Anda yang lelah dengan ingar-bingar perkotaan.

Memasuki kawasan keraton, nuansa berbeda kembali kami temukan. Ketimbang hutan di sepanjang jalur, susana Keraton Gunung Kawi lebih terang karena terdapat lahan yang lebih lapang. Biasanya digunakan oleh pengunjung untuk memarkir kendaraannya.

Wakil Ketua Juru Kunci Keraton Gunung Kawi Agus Arifin mengatakan, selama ini ada dua kategori pengunjung yang datang ke sana. "Ada yang berwisata dan ada juga yang ingin berdoa untuk hajat tertentu," kata Agus.

Mereka berasal dari berbagai kalangan. Mulai warga lokal, hingga pendatang dari luar kota maupun, bahkan mancanegara. Untuk wisatawan umum, biasanya datang untuk melihat-lihat dan berkeliling sambil menikmati kesejukan di lingkungan sekitar Keraton Gunung Kawi.

Namun Agus tidak memungkiri bahwa memang ada pengunjung yang datang dengan hajat tertentu. Pihaknya telah menyiapkan treatment berbeda bagi mereka. "Ada yang minta kelancaran usaha, ada yang ingin supaya cita-citanya terkabul, yang seperti itu biasanya ada yang harus melakukan ritual. Tapi itu bukan paksaan, melainkan keinginan dari pengunjung itu sendiri agar jalan menuju hajatnya bisa diperlancar," sambung Agus.

Untuk ritual, biasanya pengunjung membawa tumpeng. Ada tiga macam yang biasa digunakan sebagai pelengkap dalam ritual-ritual tersebut. Di antaranya tumpeng robyong, tumpeng kuat, dan tumpeng kabuli.

 

"Kalau tumpeng robyong itu biasanya digunakan untuk pengusaha yang ingin mengembangkan perusahaannya. Bisa karena usahanya sedang surut, pemasarannya kurang, daya belinya kurang, atau secara administrasi sedang kacau," jelas yang telah bertugas selama 11 tahun sebagai juru kunci.

Tumpeng robyong tersebut biasanya terdiri dari nasi putih dan lauk ikan air tawar. "Di ujungnya diberi bunga yang dirangkai menyerupai sate," imbuh Agus. Secara filosofi, tumpeng robyong merupakan lambang perlindungan, pengayoman, serta ketenteraman.

Sementara tumpeng kabuli biasa dibuat ketika pemohon ingin agar permintaannya terkabul. Tumpeng kabuli terdiri dari nasi kuning dengan lauk ayam. Selanjutnya yakni tumpeng kuat yang terdiri dengan jajanan pasar dengan ketan di bagian tengah.

Agus menjelaskan, filosofi dari ketan yang bersifat lengket mewakili simbol sosok pemimpin yang ulet dan disegani. "Sementara jajanan pasar itu adalah simbol agar usaha mereka ramai seperti pasar dan ikatan antara pelanggan itu menjadi erat," sambung dia.

Keraton Gunung Kawi juga sebagai bentuk toleransi pluralisme dalam kehidupan beragama. Di kawasan tersebut, terdapat berbagai tempat ibadah hampir untuk seluruh kepercayaan. Mulai dari Pura, Musala, Vihara, juga Gereja. Selain itu, terdapat juga peninggalan bersejarah berupa petilasan yang diyakini sudah ada sejak abad ke-7. Tak perlu merogoh kocek  terlalu dalam ketika berkunjung ke sini. Cukup dengan Rp 10 ribu untuk pengunjung serta Rp 5 ribu untuk tiket sepeda motor serta Rp 10 ribu untuk mobil. (*/dan) Editor : Mahmudan
#ritual #Religi #gunung kawi