Kegiatan rutin dua bulan sekali itu dihadiri tokoh enam agama, forum komunikasi antar umat beragama (FKAUB) Malang Raya, Gusdurian, dan perwakilan penghayat kepercayaan. Setibanya di lokasi, para peserta Safari Toleransi tampak bertukar pendapat.
”Sebenarnya, kami ingin mengunjungi Pura Mustika Dharma ini pada Hari Raya Nyepi beberapa waktu lalu, tapi ditangguhkan karena saat itu pandemi belum landai,” ujar Ketua Komisi HAK Keuskupan Malang Romo Peter Bruno Sarbini SVD MAg di sela-sela Safari Toleransi, kemarin (3/4). ”Selain itu, kami juga ingin menimba ilmu dari pura yang cukup tua di pinggiran kota ini,” tambah pria yang juga dosen Islamologi ini.
Melalui safari toleransi ini, dia berharap agar umat beragama lebih memahami satu sama lain, saling menghargai, dan tidak menonjolkan perbedaan. Total ada 25 orang yang hadir.
”Kami rutin mengadakan safari toleransi setiap dua bulan sekali. Pernah juga kami mengunjungi pesantren-pesantren,” kata Romo Peter.
Dalam safari toleransi, para peserta tampak antusias saling bertukar wawasan. Mereka juga bertanya seputar budaya dan tata cara Hindu di Gondowangi dalam beribadah. Usai berdiskusi, peserta diajak memasuki pura.
Sembari membawa peserta berkeliling pura, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Gondowangi Ngaderi Gendut menjelaskan seputar bagian-bagian yang ada di Pura Mustika Dharma. "Jadi, biasanya pura menjadi tempat melaksanakan dua upacara. Yakni, upacara dalam skala kecil atau Ekasata dan upacara besar atau Pancasata," tutur Ngaderi.(rb6/dan) Editor : Mahmudan