Tingginya produksi padi petani Banjararum tersebut turut menyumbang suplai pangan secara nasional. Apa strategi para petani di Banjararum sehingga menghasilkan produksi padi yang tinggi?
Kelompok Tani Morodadi di Dusun Tanjung, Desa Banjararum menggunakan dua jenis padi, yakni hibrida dan inhibrida. “Jenis padi hibrida yang dipakai adalah Brang Biji. Di desa ini, ada satu hektare yang pakai varietas tersebut," ujar Bupati Malang Drs H M. Sanusi MM, kemarin.
"Ini termasuk program kami dalam green economy,” tambah orang nomor satu di Pemkab Malang itu.
Dalam kondisi optimal, satu hektare lahan di Banjararum menghasilkan 14,8 ton padi. Kelompok tani Morodadi mengelola 60 hektare lahan. Satu hektare sudah ditanami Brang Biji. Sementara, 59 hektare lainnya memakai varietas inbrida seperti Ciherang dan Cibogo. Dalam kondisi optimal, total kapasitas produksi di sana mencapai 64,8 ton tiap panen. “Untuk produksi inbrida bisa sampai 10 ton per hektare,” jelasnya.
Karena iklim tidak menentu, kelompok tani tersebut memakai inovasi. Jika musim kemarau tiba, maka petani memakai varietas Brang Biji. Sebaliknya, Ciherang dan Cibogo adalah varietas padi musim penghujan.
Untuk menjaga kualitas produksi, Pemkab Malang mengupayakan monitoring rutin. Jika petani membutuhkan pupuk, Pemkab berupaya menyuplai. Begitu juga ketika pasar menginginkan padi organik. Walhasil kelompok tani didorong mencegah pakai pupuk kimia. Supaya kebutuhan beras premium terpenuhi.
“Upaya ini terus kita lakukan lewat monitoring menggunakan pupuk organik. Sehingga nanti padi atau beras yang dihasilkan bisa organik pula. Nanti kita akan lihat jenis padi yang unggul akan kita terus kembangkan,” tegasnya. (fin/dan) Editor : Mahmudan