Hadias Kusuma, vokalis Can A Rock menjelaskan jika lagu yang dibuat bersama kelompok Aremania di zona utara. Ide awal muncul dari rasa kagumnya melihat keberadaan Aremania, yang tidak hanya eksis di Malang raya saja. ”Jadi dulu itu kami melihat beberapa syal Arema di Jakarta, Kalimantan bahkan sampai di Arab Saudi itu ada. Jadi bisa disimpulkan Aremania tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana,” kata Hadias.
Lewat lagu itu, dia berharap para pemain Arema tidak merasa sendirian. ”Pemain Arema harus bangga. Main sampai Papua lagu itu (lagu Ongis Nade) tetap dinyanyikan, walau jumlah Aremania tak sebanyak ketika bermain di kandang sendiri,” tambah Hadias.
Selanjutnya ada band d’Kross, yang sudah eksis sejak terbentuk di tahun 2007. Salah satu lagu mereka yang cukup ikonik berjudul Sirag Sarek (Garis Keras). Lagu tersebut menggambarkan permainan Arema yang mengusung sepak bola Malangan, yakni keras. Keras yang dimaksud bukan berujung kasar. Namun ditujukan agar pemain bisa bekerja lebih keras untuk meraih kemenangan. ”Dari liriknya, Arema keras, keras, keras itu saja bisa membuat semangat pemain terbakar,” kata Yudi, Manajer d’Kross.
Lagu lainnya yang berjudul ’Sore Ini’ dari mereka juga masih dinyanyikan Aremania sampai saat ini. Yudi mengaku cukup bangga d’Kross bisa menyumbangkan karya yang bisa dinyanyikan bersama di tribun. Bagi d’Kross, Arema lebih dari sebuah tim sepak bola. Sebab mereka sudah menjadi sebuah budaya bagi Arek Malang. Maka tak salah jika karya seni berupa lagu dengan sepak bola sudah cukup identik dengan Malang. ”Jadi satu keterkaitan, dan yang jelas satu tujuan juga, yakni Arema,” kata dia.
Kini, semangat mereka untuk berkarya makin terpacu dengan munculnya band-band baru berbasis suporter di Kota Malang. d’Kross tidak merasa tersaingi. Mereka justru senang, karena itu turut menggambarkan bila Aremania punya kreativitas tinggi di luar stadion. Karya dari band-band itu juga bisa dinikmati semua warga Malang raya. (adn/by) Editor : Mardi Sampurno