Menurut pentolan Arema Voice Wahyu GV, inspirasi kedua lagu itu berasal dari perjalanan tim dan aksi pemain di lapangan. Misalnya, lagu Singa Bola, yang dia ciptakan tahun 1991. Lagu tersebut sengaja dibuat untuk menggambarkan bagaimana semangat pemain Arema di atas lapangan. ”Karena itu di liriknya ada kata-kata seperti ini: singa-singa lari menerjang menggapai kemenangan,” jelasnya.
Sebagai orang musik, pria berusia 60 tahun itu menyebut bila apa yang dia lihat dan rasakan bisa menjadi sumber inspirasi terciptanya lagu. Sebagai contoh, dia juga sempat membuat lagu berjudul Menang Kalah. Tembang tersebut terlahir setelah dia melihat tim Singo Edan kerap menuai hasil minor. Namun sebagai pencinta tim Arema, dia memilih setia mendukung tim.
Contoh lainnya yakni lagu berjudul Tegar, yang muncul setelah dia melihat, merasakan dan mendengar bagaimana Arema survive di kancah sepak bola nasional. Alumnus SMPN 3 Malang itu menyebut bila lagu itu sengaja dibuat sebagai gambaran bila Arema mempunyai jiwa pantang menyerah dan selalu semangat.
”Jadi lagu itu (Tegar) tercipta dari rangkaian saya melihat bagaimana sosok Mas Lucky (Acub Zaenal) dan kawan-kawan bekerja keras agar Arema tetap hidup. Lalu melihat para pemain yang terus berjuang di lapangan demi lambang di dada,” papar Wahyu.
Berangkat dari hal tersebut, lirik yang ada di lagu tegar memang punya makna yang dalam. Aransemen lagu berjudul Tegar itu dilakukan di Jakarta. Tepatnya di studio Lolipop milik mendiang Rinto Harahap. Wahyu mengaku butuh waktu lima hari untuk menuntaskan proses rekaman lagu itu.
Dirigen Aremania Yuli Sumpil tidak menampik kalau sejak dulu sepak bola dan musik tidak bisa dipisahkan dari Malang. ”Sejak saya SMP itu kreativitas Aremania sudah luar biasa,” kata dia. Tabuhan bass drum dan lantunan lagu dari Aremania selalu berkumandang di Stadion Gajayana. Selain menjadi bentuk support ke tim, nyanyian di tribun juga menjadi cara suporter untuk memberikan tekanan kepada tim lawan.
Mulai dulu, dia menyebut bila Aremania kerap berdiskusi sebelum Singo Edan berlaga di kandang. Di momen itulah lagu-lagu dari suporter mengemuka. Meski banyak karya yang tercipta dari suporter, tidak semua lagu bisa diterima seluruh orang di tribun. Yuli mengibaratkannya sebagai sebuah seleksi alam.
”Semua boleh menyumbangkan lagu untuk dinyanyikan di tribun. Tapi penentuannya tetap para Aremania itu sendiri,” kata dia. Beranjak dari hal itu, dia menyebut bila tribun menjadi salah satu tempat yang paling demokratis.
Sebagai contoh, dia menyinggung lagu tribun yang mempunyai lirik ”Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Kabulkan doa-doa dari kami. Kami Aremania, pendukung Singo Edan, Jadikanlah Arema juara”. Yuli menyebut bila lagu itu diciptakannya dengan mantan dirigen El Kepet pada tahun 2000-an. ”Idenya muncul pas perjalanan menuju stadion. Waktu itu momennya tim sedang kurang bagus di kompetisi,” kata dia.
Dalam perjalanannya, Yuli menyebut bila proses terciptanya lagu di tribun juga berasal dari banyak hal. ”Dulu pernah pemain Arema bernama Juan Rubio memberikan oleh-oleh berupa kaset berisikan aksi suporter di Chile. Itu akhirnya diadopsi menjadi lagu Ayo-Ayo Arema, sore ini kita harus menang,” kata dia.
Lagu tersebut kini banyak dikumandangkan suporter tim lain. Juga di laga-laga Timnas Indonesia. Meski terbuka terhadap masukan ide lagu, Yuli menyebut bila Aremania tetap punya aturan khusus yang tidak tertulis. Yakni lirik lagu tidak boleh berbau cabul. Juga tidak boleh menyinggung tentang ras. (gp/by) Editor : Mardi Sampurno