SELURUH tubuhnya belum bisa digerakkan. Bahkan, hari ini (14/10) merupakan hari ke 13 remaja 20 tahun itu dirawat. Hanya di bagian kaki saja yang bisa digerakkan. “Sebelumnya tidak bisa ngapa-ngapain. Bisanya hanya menangis,” terang ibunda Fiky Hermansyah, Sumartiningsih, 62, warga Porong, Kabupaten Sidoarjo.
Saat Jawa Pos Radar Malang menemui Sumartiningsih di RSUD Kanjuruhan Malang, saat itu dia tanpa henti mendampingi putra bungsunya. Dia hanya sendirian. Karena, ayah Fiky yang bernama Suyanto, 59, saat ini sedang sakit di rumah. “Dulunya ke sini, terus pingsan tidak kuat saat melihat putranya. Saya suruh pulang saja dan beristirahat di rumah. Biar saya saja di sini,” ucap dia.
Selama 13 hari, perempuan paro baya dengan tulus tidak pulang. Sang anak terus dielus dan diberi motivasi semangat dengan bercerita perihal keseharian Fiky sebelum ia terkapar di sini. Kepada wartawan dia bercerita bahwa Fiky suka bernyanyi sambil gitaran di depan rumah. Kalimat itu dia bisikkan agar Fiky bisa semangat dan tegar dalam menjalani hidup di rumah sakit. “Nak, kamu suka gitaran, suka nyanyi, nanti nyanyi bareng ya. Kamu harus sehat. Nanti ngumpul sama om dan tante juga,” kata dia kepada Fiky yang juga diutarakan kepada wartawan.
Fiky hanya bisa meneteskan air mata. Terkadang terlihat wajah bahagia. Jika tidak diajak komunikasi, Sumarni menyebut Fiky hanya menatap langit-langit rumah sakit dengan tatapan kosong. “Pikirannya masih trauma, tidak boleh diceritakan kata-kata yang berat-berat,” ucap dia.
Ingatan Fiky masih belum pulih. Dokter menyebut dia terkena pembengkakan otak. Saat ini yang bisa dia lakukan hanya bercerita apa yang dia suka supaya bisa mengembalikan ingatan. “Saya tidak tahu sampai kapan Fiky bisa segera membaik dan pulang ke rumah. Saya tetap tabah di sini akan selalu menemani dia sampai kapan pun,” tutup dia. (nif/abm) Editor : Mardi Sampurno