Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pantau Ketat Kesehatan Bayi dan Bumil

Mardi Sampurno • Kamis, 1 Desember 2022 | 01:36 WIB
(RIO/RADAR MALANG)
(RIO/RADAR MALANG)
Data Angka Kematian Bergerak Fluktuatif 

MALANG KOTA – Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Malang Raya bergerak fluktuatif selama tiga tahun terakhir. Artinya, masalah tersebut perlu mendapat perhatian banyak pihak karena bisa meningkat sewaktu-waktu. Apalagi faktor penyebabnya sangat beragam. 

Misalnya di Kota Malang. Mengutip profil kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, sepanjang 2020 terdapat 49 kasus kematian bayi. Setahun berikutnya melonjak menjadi 52 kasus, kemudian sedikit melandai menjadi 46 kasus di sepanjang Januari hingga November 2022. 

Fluktuasi juga terjadi pada angka kematian ibu hamil (bumil). Pada 2020 terdata 9 kasus, kemudian melonjak drastis menjadi 41 kasus pada 2021, lalu melandai pada tahun ini menjadi 14 kasus (periode Januari – November). 

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Malang Latifah Hanun menyebutkan, kematian ibu maupun bayi disebabkan beragam faktor. Pada ibu hamil, misalnya, kematian terjadi karena pendarahan, preeklamsia (komplikasi kehamilan), sepsis, infeksi, hingga kehamilan di bawah umur. 

Ada juga kematian ibu hamil akibat Covid-19, terutama dalam 3 tahun terakhir. Pada 2020, dari total 9 ibu hamil yang meninggal, dua di antaranya terkonfirmasi positif Covid-19. ”Demikian pula pada 2021, kasus kematian ibu hamil didominasi Covid-19. Jumlahnya mencapai 38 orang. Sisanya akibat tuberkulosis, infeksi, dan pendarahan,” bebernya. 

Sementara itu, penyebab terbanyak meninggalnya 49 bayi pada 2020 adalah karena berat badan lahir rendah (BBLR). Ada juga yang karena asfiksia atau kondisi saat bayi tidak mendapat cukup oksigen selama persalinan. ”Penyebab lain karena bayi mengalami kelainan kongenital (kelainan bawaan yang membuat bayi lahir tidak normal atau cacat),” ucapnya. 

Demikian juga pada 2021, kematian bayi terbanyak disebabkan BBLR, yakni 14 kasus. Menyusul asfiksia 13 kasus, dan sisanya berupa kelainan saluran cerna, kelainan saraf, diare, hingga sepsis. 

Sub Koordinator Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Malang Sri Wahyuni menjelaskan, guna menekan kasus kematian ibu dan bayi, Dinkes Kota Malang berupaya memberikan pendampingan dari hamil sampai nifas. Mereka juga aktif melakukan kunjungan ke puskesmas, pemberian suplemen, vaksinasi, dan edukasi ibu meneteki (buteki). 

”Kalau untuk bayi ada skrining hipotiroid kongenital. Skrining dilakukan pada bayi baru lahir sampai 72 jam pasca lahir,” jelas pejabat eselon IV A Pemkot Malang itu. 

Skrining hipotiroid kongenital dilakukan untuk mendeteksi stunting. Caranya dengan mengambil darah pada tumit bayi, lalu mengirimkan hasilnya ke RSUD Dr Soetomo. Yang terbaru, Kementerian Kesehatan juga mendistribusikan alat ultrasonografi (USG) ke seluruh puskesmas di Indonesia. Hal itu berkaitan dengan upaya mencegah kematian ibu dan bayi dalam kandungan. 

Adanya program pendistribusian alat USG itu juga dibenarkan Kabid Sumber Daya Manusia, Kefarmasian, dan Alat Kesehatan Dinkes Kota Malang Dwi Wiyono. Dia mengatakan, Kota Malang punya 6 puskesmas dengan pelayanan persalinan. Empat di antaranya memiliki USG. ”Empat puskesmas yang memiliki USG adalah Puskesmas Dinoyo, Puskesmas Kendalkerep, Puskesmas Polowijen, dan Puskesmas Janti,” sebut Dwi. 

Sayangnya, saat ini alat USG di Puskesmas Dinoyo dan Puskesmas Kendalkerep rusak. Karena itu, tahun ini Dinkes Kota Malang akan mendistribusikan 6 USG ke 6 puskesmas. Meliputi Puskesmas Kedungkandang, Dinoyo, Mulyorejo, Kendalsari, Polowijen, dan Kendalkerep. 

Pengadaan USG itu penting lantaran bisa digunakan untuk mengetahui posisi bayi. Jika posisi bayi sungsang, maka harus segera ditangani agar tidak membahayakan ibunya. 

Waspadai Faktor Lain 

Dalam beberapa kasus, kematian ibu hamil juga dipicu oleh faktor yang tak terduga. Misalnya yang diungkapkan Subkoordinator Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Batu Emi Kusrilowati S Tr Keb. Pada Agustus 2022, ada satu orang Ibu hamil yang meninggal dunia karena terdeteksi Leukemia. 

”Waktu itu, si ibu mengandung anak kedua dengan usia kandungan baru 12 minggu. Saat periksa ke dokter spesialis penyakit dalam, baru diketahui kalau mengidap leukemia,” bebernya. 

Emi mengatakan bahwa temuan itu bisa menjadi pembelajaran bersama tentang pentingnya pemeriksaan atau deteksi dini. Idealnya, ibu hamil melakukan minimal 6 kali pemeriksaan. Di antaranya, mengecek kondisi kesehatan ibu dan bayi kepada dokter spesialis kandungan, melakukan pemeriksaan USG, dan berkonsultasi dengan bidan. 

”Banyak ibu hamil yang meremehkan pentingnya pemeriksaan. Bahkan menganggap biasa meski mengalami beberapa keluhan,” terang Emi 

Terkait angka kematian ibu hamil dan bayi yang fluktuatif dan cenderung tinggi, Emi mengatakan bahwa seluruh ibu hamil harus memiliki buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Buku itu berfungsi untuk mengetahui riwayat kesehatan ibu selama kehamilan dan menilai adakah risiko kesehatan saat persalinan. 

Dinkes Batu telah melakukan pendampingan ketat terhadap Ibu hamil yang berisiko tinggi melalui kader Posyandu hingga jenjang Rumah Sakit (RS). ”Kami berharap angka kematian Ibu dan bayi di Batu bisa nol. Seperti pada 2018 lalu,” imbuhnya. 

Tren sedikit berbeda terjadi di Kabupaten Malang. Kematian ibu hamil terbanyak disebabkan dua hal. Yang pertama pendarahan berlebih ketika melahirkan atau menjalani persalinan. Pada 20192021, terdapat 22 kasus ibu hamil yang meninggal akibat pendarahan. 

Penyebab terbanyak kedua adalah hipertensi dalam kehamilan. Hipertensi kehamilan merupakan kondisi tekanan darah ibu hamil yang berada di atas angka 140/90 mmHg. Sekitar 5 sampai 10 persen ibu hamil di penjuru dunia menderita hipertensi kehamilan. Kondisi ini kerap muncul ketika usia kehamilan sekitar 20 minggu. 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo mengaku belum tahu berapa jumlah kasus AKI/AKB pada 2022. ”Pada, kami terus mendorong pelayanan fasilitas kesehatan, terutama persiapan kelahiran, secara maksimal. Lebih krusial lagi adalah masa kehamilan ibu. Pemeriksaan rutin dan asupan nutrisi sangat vital bagi tumbuh kembang bayi,” kata Wiyanto. (mel/ifa/fin/fat) Editor : Mardi Sampurno
#angka kematian bayi #Angka kematian ibu #Malang Raya #Kesehatan Bayi dan Bumil] #Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang