Nama Kayutangan, yang kini dikembalikan ke ejaan lama Kajoetangan, sangat familiar bagi warga Kota Malang. Namun di balik nama yang unik itu ada ragam versi asal-usul. Mulai dari simbol penunjuk arah, tanaman yang berbentuk tangan, hingga palang pemberhentian berbahan kayu yang dibentuk seperti tangan.
SEJAK kapan nama Kajoetangan ada? Sejumlah literatur bisa mengagetkan kita semua. Ya, nama itu diyakini sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Kediri dan Singasari. Jauh sebelum Kota Malang berdiri. Karena sudah sangat lama, versi munculnya penamaan wilayah Kajoetangan itu pun lebih dari satu.
Versi pertama, nama Kajoetangan diambil dari sebuah tanaman menjalar bernama patangtangan. Tanaman itu berbentuk mirip tangan manusia, lengkap dengan jari-jemari yang berjumlah lima. Pada zaman itu, ada kebiasaan memberi nama sebuah kawasan dengan hal yang mudah di ingat. Maka, muncullah nama Kajoetangan berdasar penanda di kawasan yang kini menjadi salah satu ikon Kota Malang itu.
Versi ini ada dalam buku berjudul Toponim Kota Malangkarya Devan Firmansyah dan kawan-kawan.
Versi kedua bisa jadi menguatkan versi yang pertama. Pada Prasasti Ukir Negara atau Pamotoh yang dibuat pada masa Kerajaan Kediri tahun 1120 Masehi atau 6 Desember 1198, tertulis ada sebuah hutan di wilayah yang kini posisinyaberada di tengah Kota Malang. Hutan itu ditumbuhi tanaman patangtangan. Nama patangtangan kemudian berubah menjadi Kajoetangan. Prasasti itu juga menyebutkan bahwa hutan patangtangan dihuni satwa kijang atau rusa.
Meski zaman berganti, nama Kajoetangan tetap bertahan.
Hingga penjajah Belanda masuk ke Kota Malang pada era 1800-an, bekas kawasan hutan
patantangan justru ditata sebagai pusat perdagangan. Toko-toko berjejer menjual aneka kebutuhan.
Pemerintah Belanda yang membangun kawasan itu menyematkan satu ciri khas. Yakni sebuah penunjuk arah dari kayu yang bentuknya menyerupai tangan. Penanda arah yang dibangun itu kemudian menjadi cerita penamaan Kajoetangan versi ketiga.
Dalam buku berjudul Kawasan Kayutangan dalam Lintasan Sejarah karya Ronal HildaTotok, letak penunjuk arah itu diduga kuat berada di lokasi yang kini ditempati jembatan penyeberangan orang (JPO). Dulu, penanda arah yang dibentuk seperti jari telunjuk itu menunjuk arah ke selatan, menuju Alun-Alun Malang.
Versi keempat kemunculan nama Kajoetangan diyakini masih bersumber dari di zaman kolonial. Kala itu, ada sebuah palang pemberhentian di lintasan trem yang di ujungnya terdapat kayu berbentuk tangan. Pada kayu itu terdapat tulisan ”stop” untuk menghentikan laju kendaraan saat trem melintas. Pada zaman itu, pemerintah Belanda memang membangun jalur trem yang melintas dari kawasan Kajoetangan hingga ke wilayah Pakis dan Tumpang, Kabupaten Malang.
Tak ada yang tahu versi mana yang paling benar. Bisa jadi semuanya memang muncul pada zaman yang berbeda-beda. Bahkan di Serat Pararaton (Kitab Naskah Sastra Jawa yang digubah dalam Bahasa Jawa Kawi) juga menyebut nama Kajoetangan.
Masyarakat Kota Malang pun menganggap ragam versi itu sebagai penguat literasi. ”Memang benar. Kalau dirunut sejarahnya, bisa saja nyambung dari zaman kerajaan sampai kolonial,” kata Pemerhati Sejarah dan Budaya Kota Malang Agung H. Buana.
Pada zaman kolonial, pemerintah Belanda terus mengembangkan kawasan Kajoetangan dengan mendirikan bangunan-bangunan bergaya Eropa. Paling ikonik adalah gedung kembar di perempatan Radja Bally. Bangunan karya Karel Bros itu ibarat sebuah gapura selamat datang untuk Kota Malang bagian barat.
Kini, nama Kajoetangan ibarat menjadi pemersatu warga yang bermukim di sekitarnya, meski terbagi dalam beberapa penataan administrasi wilayah. ”Kawasan Kayutangan saat ini menjadi ciri khas bagi warga di tiga kelurahan,” kata Agung.
Tiga kelurahan itu antara lain Kelurahan Kauman, Kelurahan Oro-Oro Dowo, dan Kelurahan Klojen. Kelurahan Kauman mendapat porsi cukup luas.Mulai dari Mal Sarinah hingga
pertigaan Jalan Radja Bally. Sementara untuk Kelurahan Oro-Oro Dowo hanya mencakup
Kafe Lafayette sampai Hotel Trio Indah. Kemudian yang masuk Kelurahan Klojen memanjang dari Kantor PLN UP3 Malang sampai Bank BCA. Total ada 4 RW dan 34 RT yang masuk dalam sebutan wilayah Kajoetangan.
Sebagian warga yang tinggal di kawasan itu cukup lama pun mendengar kisah turun-temurun tentang asal-muasal nama Kajoetangan, Misalnya Mu’ari yang memiliki rumah di Jalan Basuki Rahmat Gang II dan sudah bermukim selama 70 tahun.
”Dulu, di sepanjang tepi Jalan Kajoetangan dipenuhi pohon mahoni. Kini hanya sisa dua saja yang awet, di dekat kantor Telkom Malang,” kenang dia.
Semasa kecil, Mu’ari pernah mendengar nama Kajoetangan identik dengan jenis tanaman. Namun dia tak pernah melihat bentuk tanaman yang sudah langka itu. Begitu juga cerita tentang penunjuk arah berbahan kayu yang berbentuk tangan. Kisah itu dia dengar langsung dari sang ayah maupun para tetangga.
Anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Heritage Rudi Haris juga mengakui bahwa empat versi asal-usul penamaan Kajoetangan itu memang ada. Dia juga tidak ingin ada klaim versi mana yang paling benar. Justru keragaman versi menjadi warna tersendiri bagi sejarah penamaan kawasan tersebut.
Rudi yang lebih muda tujuh tahun dari Mu’ari juga merasakan dinamika kawasan Kajoetangan. Saat masih bermukim di Jalan Basuki Rahmat Gang 8, dia ingat ada sebuah gorong-gorong cukup besar peninggalan Belanda. Ukurannya sekitar 1x1 meter dan bisa mengalirkan air ke sungai agar bebas banjir. ”Dulu cabang saluran drainase itu ada tiga. Kini tinggal satu saja,” kata dia.
Di dalam perkampungan yang kala itu sudah padat penduduk juga ada empat rolak atau pintu air. Letaknya dekat sungai yang kini memecah perkampungan. Namun sayang, kini tiga dari rolak itu sudah tidak ada karena dicuri pemulung.
Rolak bisa saja dicuri, tapi tidak dengan sebagian rumah kuno di sana. Tercatat ada 32 rumah lawas yang bentuknya masih utuh terjaga. Paling tua, sebuah rumah yang dibangun 1870 di Jalan Basuki Rahmat Gang 6. Rumah itu milik Almarhum Nurwasil, warga asli Kajoetangan. (bersambung/fat) Editor : Mardi Sampurno