Untuk menekan jumlah sampah terbuang, pemkot memanfaatkan peran Bank Sampah Malang (BSM). Per hari, BSM menerima rata-rata 1-2 ton sampah. Jenis sampah yang masuk untuk didaur ulang cukup beragam. ”Jenis sampah yang paling sering (masuk ke BSM) itu plastik dan kertas,” kata Petugas Administrasi BSM Isa Trio Zulmi Azis saat dikonfirmasi kemarin (31/1).
Sampah yang diolah BSM mayoritas berasal dari rumah tangga. Isa memperkirakan jumlah sampah dari rumah tangga menyumbang lebih dari 50 persen. Beberapa jenis sampah seperti bungkus detergen dan kresek bekas belanja cukup mendominasi.
Sampah-sampah yang diterima BSM diklasifikasikan menjadi empat jenis. Yakni plastik, kertas, logam, serta botol dan kaca. ”Nasabah bisa memilih, sampahnya ditabung atau dijual langsung. Kalau langsung, nasabah tidak perlu mendaftar. Tetapi, kalau ditabung, nasabah harus melakukan pendaftaran," kata Isa.
Uang yang diterima nasabah juga berbeda. Misalnya, untuk sampah kertas HVS, nasabah bisa menerima uang sebesar Rp 2.700 per kilogram. Sedangkan, jika sampah tersebut ditabung, nasabah bisa menerima uang sebesar Rp 2.850. Namun, ada juga jenis sampah yang tidak bisa diterima oleh BSM. Seperti, styrofoam, mika, dan aluminium. ”Kalau untuk sampah yang tidak bisa dijual, tetap kami terima untuk diolah lagi menjadi kerajinan," imbuhnya.
Selain itu, nasabah juga bisa meminta edukasi terkait daur ulang sampah. Hingga saat ini, jumlah nasabah secara umum yang terdaftar sebanyak 704 nasabah. Jumlah nasabah terus bertambah hingga akhir Januari sebanyak 18 nasabah. Pembagian nasabah dibagi menjadi empat. Yakni sekolah, masyarakat, instansi atau komunitas, serta individu. Menurut Isa, jumlah terbanyak tetap masyarakat dan individu. Sedangkan, untuk sekolah mencapai 30-35 nasabah. (yun/adn)
Editor : Aditya Novrian