Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Musik Malang 60-an sampai 2000-an, Dulu Tersentral, Kini Lebih Universal

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Kamis, 9 Maret 2023 | 19:00 WIB
KARYA : Anto Baret bernyanyi dan bermain musik di antara Arek Malang yang berkumpul. (Galih/Radar Malang)
KARYA : Anto Baret bernyanyi dan bermain musik di antara Arek Malang yang berkumpul. (Galih/Radar Malang)
 

”Nama itu kosong, karya itu nyata,” begitu pesan yang disampaikan Anto Baret. Di tengah transformasi musik yang terus terjadi, karya tetap menjadi modal utama bagi para musisi. Itu menjadi kekuatan tersendiri bagi musisi-musisi di Malang sejak tahun 60-an. 

----

Seperti sepak bola, musik menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dari warga Malang. Selama empat dekade terakhir, musik terus tumbuh dan berkembang di Bumi Arema.

Sudah cukup banyak musisi yang lahir dari Kota Malang. Di era 70-an, ada nama Sylvia Saartje yang mengemuka.

Ada Ian Antono, yang awalnya bergabung dengan Bentoel Band. Totok Tewel juga ikut meramaikan belantika musik di tanah air.

Sampai saat ini, ketiga nama tersebut tetap eksis. Di era saat ini, ada band Coldiac dan Christabel Annora yang aktif berkarya.

Arief Wibisono, penulis buku Sejarah Musik Malang menyebut musik di Bumi Arema bersifat progresif. ”Musiknya menyesuaikan diri dengan karakter kotanya yang dinamis,” kata dia.

Berangkat dari hal itu, musik di Kota Malang terus mengalami transformasi sejak era 60-an. Di tahun 1960-an, banyak bermunculan band-band pengiring.
Baca Juga : Ilmu Komunikasi Unmer Malang Hadirkan Coldiac di Konser Virtual.

”Band seperti Eka Dasa Taruna, Avia Nada, Young Brahmaz dulu sering menjadi band pengiring di acara nikahan,” kata pria kelahiran 3 Februari 1976 itu.

Selain menjadi band pengiring, mereka juga kerap menjadi wadah untuk menyebarkan nasionalisme di masyarakat.

Sebab, beberapa anggota band tersebut adalah anak-anak dari tentara. Masuk era 70-an, band-band asal Malang mulai menjajaki panggung hiburan.

Sepak terjangnya lebih luas lagi. Saat itu, ada Bentoel Band yang banyak dikenal penikmat musik.

Mereka cukup atraktif melakukan tour ke luar kota. Dalam perjalanannya, band yang disponsori perusahaan rokok tersebut sukses mengorbitkan sejumlah musisi andal.

Seperti Ian Antono, Tedy Sujaya, dan Mickey Michael Merkelbach atau akrab disebut Micky Jaguar. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Dalam perjalanannya, Bentoel Band sempat hadir dengan dua genre. Di era 60-an, mereka lebih sering membawakan musik-musik pop.

Namun ketika masuk awal era 70-an, mereka mulai beralih ke musik rock. Di era itu, musik rock mulai berkembang pesat di Kota Malang. Keterbukaan informasi dari luar negeri menjadi penyebabnya.

Lagu-lagu dari band Rolling Stone, Led Zeppelin, Black Sabbath, Deep Purple, dan Pink Floyd banyak didengarkan Arek-Arek Malang. Itu turut memengaruhi selera mereka.

Band-band rock dari Kota Malang pun akhirnya bermunculan. Seperti Ogle Eyes, Bad Session, Darkness, Q Red, Greates, dan Elviera.

Pada periode itu lah muncul lady rocker pertama di Indonesia, yakni Sylvia Saartje. MC kondang Ovan Tobing juga banyak membantu perkembangan musik di Malang saat itu.

Di era itu, titik sentral atau rujukan musisi dari Kota Malang adalah band-band rock dari luar negeri.
Baca Juga : Jumlah Kunjungan Museum Musik Bangkit Lagi.

Meski banyak peminatnya sampai era 80-an, namun Bison-sapaan karib Arief Wibisono menyebut kalau genre rock tetap mengalami transformasi.

Sebab menuju era 90-an musik-musik metal mulai dimainkan band-band asal Malang. Itu juga terpengaruh hadirnya band-band dari luar negeri, yang lagu-lagunya banyak terdengar di radio.

Selain itu juga dipengaruhi keinginan musisi dari Malang untuk mengeksplore musiknya. ”Mereka ingin musik lebih keras lagi. Akhirnya ke metal. Mulai dari heavy metal, sampai thrash metal,” kata dia.

Dorongan itu juga menjadi landasan bagaimana musik-musik seperti hardcore dan punk juga masuk ke Malang.

Lalu disusul musik-musik lainnya yang memadukan beberapa genre. Misalnya pop rock, rock jazz, pop punk, dan rock alternatif.

Di era 2000-an, genre yang muncul lebih beragam. Tak ada lagi sentralisasi musik. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Keterbukaan informasi sampai mudahnya akses untuk menikmati musik menjadi alasannya. Musisi dan budayawan Anto Baret menyebut kalau transformasi musik itu adalah hal yang normal.

Sebab musik adalah hal yang universal. ”Musik di Malang itu bakal terus menggeliat,” kata dia.

Bagi dia, bermain musik itu merupakan proses pencarian yang mengutamakan kecocokan dalam jiwa dan musik. Harus ada harmoni di dalamnya.

Karena itu, yang terpenting menurutnya bukan bagaimana transformasinya. Namun bagaimana musisi itu tetap bisa berkarya.

Serta bagaimana mereka menelurkan karya sendiri. ”Karena nama itu kosong, karya itu nyata,” kata dia.

Musisi muda asal Kota Malang Christabel Annora melihat transformasi musik itu dilandasi semangat teman-teman musisi dalam berkarya.
Baca Juga : Rindu Konser Terbayar di Dome UMM.

”Karena semuanya produktif,” kata pelantun lagu berjudul ’merangkul jarak’ tersebut.

Dalam satu bulan terakhir, ada banyak rilisan lagu yang bermunculan. Ada Atlesta, Wake Up Iris, Indra Widjaya, dan Coldiac.

Ada juga yang melakukan tour mandiri. Seperti dilakukan Irfan Fahem.

”Genre juga bermacam-macam, nggak itu-itu aja. Yang pop, alternatif, rock, punk,  jazz, dan lain-lain. Mau solo, duo ataupun band, semuanya ada di Malang,” tuturnya.

Hengki Herwanto, Ketua Museum Musik Indonesia (MMI) mengakui bila berkembangnya teknologi turut andil dalam perkembangan musik di Kota Malang.

Dia turut mendukung hal tersebut. Agar musisi-musisi dari Kota Malang lebih dikenal, Hengki menyarankan supaya poin publikasi diperhatikan dengan baik.

”Kita perlu meningkatkan ke tahap nasional untuk kualitas musiknya. Agar seperti Coldiac, Iksan Skuter, dan Nova Ruth yang sampai ke luar negeri," tambahnya.

"Karena itu publikasi harus dikencangkan, (musik) kita potensinya besar, tapi kalah di publikasi,” kata dia. (gp/rb2/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Coldiac ##brigade07 ##begundallowokwaru ##beritamalang #radarmalang ##atlesta ##jawaposradarmalang ##antobaret ##mediaonlinemalang ##beritamalanghariini ##radarmalanghariini