"Kondisi korban sudah menggantung di pohon sengon, dekat kebun tebu di belakang rumahnya," kata Sukirno Kepala Desa (Kades) Baturetno, Kecamatan Dampit, saat dikonfirmasi kemarin. Menurutnya, kejadian tersebut berawal pada hari Minggu (9/4) sekitar pukul 17.00 WIB. Saniyem, istri korban tak menemukan suaminya di rumah usai pulang dari kebun. Bahkan hingga pukul 18.00 WIB, Tukijo tak kelihatan batang hidungnya. Pihak keluarga lantas meminta bantuan tetangga untuk bersama-sama mencari korban.
"Tidak kunjung ketemu pada hari itu. Lalu dilanjutkan pada keesokan harinya," lanjut Sukirno.
Baru pada Senin (10/4) sekitar pukul 05.00 WIB pencarian dilanjutkan. Tiga puluh menit pencarian tepatnya pukul 05.30, Yatno tetangga korban menemukan korban sudah dalam kondisi tergantung di pohon sengon dalam kondisi meninggal dunia.
Mendapati hal tersebut keluarga lantas menghubungi perangkat desa dan melapor ke Polsek Dampit. "Kemudian langsung dimakamkan. Keluarga menolak untuk di visum karena Tukijo meninggal gantung diri,” terangnya. Menurutnya sudah hampir tiga tahun lebih, korban diduga mengalami frustrasi akibat penyakit stroke yang dideritanya.
Sementara itu, Kapolsek Dampit Iptu Agung Hartawan menambahkan, dari keterangan pihak keluarga, korban tak pernah ada masalah dengan siapapun. Hanya saja tahun 2019 korban mengidap penyakit stroke. "Penyakitnya tidak kunjung sembuh," katanya.
Bahkan, korban pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan cara meminum racun tikus pascamengidap penyakit stroke. Namun pihak keluarga kata Agung masih sempat menolong korban. Atas dasar itulah, keluarga menerima dan mengikhlaskan kekek beranak satu itu untuk segera dikebumikan. "Percobaan bunuh diri itu sekitar tahun 2019 lalu. Namun tertolong," tutupnya. (nif/nay)
Editor : Ahmad Yani