Seiring berjalannya waktu, minat pemuda terhadap pertanian semakin berkurang. Apalagi menjadi buruh tani. Untuk mengatasi hal itu, Sunarko, salah satu petani di Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji memilih memanfaatkan Alsintan. Menurutnya, alat tersebut mampu mempercepat proses panen. "Kalau panen manual, sawah seluas 2 hektare satu minggu baru bisa selesai. Itu dengan sekitar 5 buruh tani. Kalau pakai alat ini, satu hari bisa selesai dengan sekitar 2-3 buruh tani," ujarnya.
Sayangnya, alat tersebut bukan miliknya pribadi maupun milik kelompok tani. Melainkan menyewa dari pihak swasta. "Kalau biaya sewanya, saya tidak bisa menyebutkan, yang jelas cukup mahal," imbuhnya. Sehingga, dia juga mengharapkan ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang untuk alat tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Pertanian (DTPHP) Avicenna Sani Putera mengatakan, Pemkab Malang memang sudah merencanakan pemberian bantuan 10 unit Alsintan kepada para petani. Namun, saat ini masih proses koordinasi dengan pemerintah pusat. "Kami harus menyinkronkan program pemerintah pusat dan program kami," ujar Avi.
Sebab, diperlukan adanya kesesuaian program antara kedua pihak. Selain itu, perlu ada penyusunan manajemen pengelolaannya. Seperti dikelola oleh kelompok tani atau perorangan. "Makanya, kami rencanakan 10 dulu sebagai uji coba," imbuh pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.
Lokasi yang diberikan pun akan diprioritaskan sentra-sentra penghasil pangan potensial. Di antaranya pertanian di Kecamatan Sumberpucung, Pagelaran, dan Wajak. (yun/nay)
Editor : Ahmad Yani