Tim ini langsung melakukan assessment (kaji cepat) pada lokasi bencana dan berkoordinasi dengan Bina Marga Provinsi Jatim untuk pembersihan material sisa-sisa banjir bandang.
Kepala PLMK (Pusat Lingkungan, Mitigasi, dan Kebencanaan) UM Yudha Irawan SPd MPd MSc mengatakan, wilayah terdampak memang memiliki potensi banjir dan longsor. Beberapa medannya bahkan cukup curam.
"Jika kita lihat di sisi utara-timur Gunung Kelud, khususnya di wilayah Kecamatan Ngantang, secara morfologi wilayah itu memang rawan longsor dan banjir bandang,” tuturnya
Lebih lanjut, berdasarkan hasil assessment yang ada, air bersih menjadi kebutuhan pokok dan sangat krusial bagi warga terdampak. Karena itu, TRCC UM dengan sigap berkoordinasi dengan rumah tangga (RT) UM untuk mengirimkan satu unit tanki air.
Tujuannya, mensuplai warga yang membutuhkan air bersih. Sekitar pukul 16.00 armada diberangkatkan. Tiga jam kemudian, air bersih langsung didistribusikan. Pada putaran pertama dan kedua distribusi dilakukan di Dusun Ngantru.
Selain penanggulangan bencana oleh TRCC UM, menurut Yudha, terdapat tindakan prefentif lain berupa rencana edukasi kepada masyarakat serta perbaikan lingkungan terhadap wilayah bencana.
“Saat ini kami di PLMK UM sedang menyiapkan kurikulum tanggap dan tangguh bencana," tegasnya.
Sementara untuk teknis di lapangan, lanjutnya, BPBD Kabupaten Malang beserta masyarakat cukup sigap dengan situasi kedaruratan bencana.
"Kami tidak terjun langsung ke lapangan. Menurut saya lesson learned dari setiap kejadian bencana baik di masa lampau maupun prediksi di masa depan untuk wilayah ini sangat penting," terang Yudha.
Tujuannya, demi meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesiapsiagaan dan manajemen risiko bencana.
Ke depannya tim PLMK UM akan membantu untuk kajian tim kaji cepat cerdas antisipasi dan kurangi risiko bencana khususnya untuk wilayah Malang Raya.
Untuk diketahui, pada 2014, wilayah ini sempat terdampak erupsi Kelud. Bentuknya berupa jatuhan abu vulkanik Kelud. Sedangkan banjir bandang melanda Desa Pandansari.
Dengan begitu, sedikit banyak warga telah memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang bencana dan mitigasinya.
Tetapi, kewaspadaan dan kesiapsiagaan warga ketika menghadapi ancaman bencana yang terjadi secara tiba-tiba perlu ditingkatkan. (Jprm1/nen) Editor : Neny Fitrin