Kegiatan pembersihan kemarin memang melibatkan beberapa instansi. Di antaranya, Skadron Teknik 022, UPT Pemadam Kebakaran Kota Malang, kepolisian, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang. Pembersihan dimulai sekitar pukul 09.00. Mulai dari bagian sayap sisi utara, kemudian berputar ke sisi lain hingga selesai.
Kasi Lamja Skadron Teknik 022 Lanud Abd Saleh Kapten Teknik Deddy Yahya Khristianto menjelaskan, pembersihan itu sebenarnya bukan kali pertama. Sebelumnya sudah pernah dilakukan. Tapi sudah cukup lama. ”Karena dinamika di lapangan baru bisa dilakukan kembali setelah sekian lama,” ujarnya.
Deddy menjelaskan, monumen itu diresmikan pada 20 Agustus 1999 oleh Komandan Lanud Abd Saleh Marsdya Alimunsiri Rappe bersama Wali Kota Malang Suyitno. Perawatan kemarin ditujukan agar tidak terjadi kerusakan seperti korosi. ”Melalui momen ini, kami juga mengajak masyarakat untuk melek sejarah,” imbuhnya.
Sementara itu, Sekretaris TACB Kota Malang Rakai Hino Galeswangi mengapresiasi kegiatan pembersihan yang melibatkan berbagai elemen. Sebab, dalam beberapa waktu terakhir marak kegiatan rehabilitasi monumen atau situs bersejarah yang dilakukan tanpa kajian mendalam.
Rakai melanjutkan, Monumen Pesawat Terbang di Soehat memiliki nilai sejarah penting. Meskipun masih bersifat Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB), bukan tidak mungkin kelak dikaji lagi untuk menjadi cagar budaya. Sebab, usia pesawat yang dijadikan monumen itu sudah lebih dari 50 tahun sejak dibuat pada 1952.
”Pesawat MiG Fresco ini memiliki sejarah. Kalau dirunut secara historis, pesawat itu merupakan bukti kerja sama Soviet dengan Indonesia,” jelas Rakai. Menurutnya, pada era 1960-an, Presiden Soekarno meminta bantuan Uni Soviet untuk menyediakan alutsista, seperti pesawat, dalam rangka pelaksanaan Operasi Trikora.
Akan tetapi, belum sempat digunakan, Belanda sudah menyerahkan kembali Irian Barat kepada Indonesia. Akhirnya pesawat itu dilestarikan sebagai monumen. Idealnya, lanjut Rakai, perawatan monumen pesawat dilakukan satu tahun sekali.
Sepengetahuannya, sewaktu danlanud masih dijabat oleh Marsma Julexi Tambayong, pembersihan juga pernah dilakukan. Namun yang melibatkan perangkat daerah di Kota Malang baru kali ini. ”Ke depan mungkin bisa saja kami bekerja sama dengan pihak lain. Seperti TNI-AD untuk merawat benda-benda bersejarah di Museum Brawijaya,” pungkasnya. (mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana