Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Persentase Petani Muda Milenial Tak Sampai 10 Persen

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Jumat, 25 Agustus 2023 | 22:00 WIB

 

Petani di Desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. Mayoritas milenial makin enggan bertani.
Petani di Desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. Mayoritas milenial makin enggan bertani.
Di Kota Malang Hanya Ada 53 Orang yang Bertani

MALANG RAYA – Isu tentang terancamnya regenerasi petani masih terjaga. Itu bisa dilihat dari perbandingan jumlah petani dewasa dan milenial. Di Malang Raya, jumlah petani milenial dengan rentang usia di bawah 40 tahun tak lebih dari 10 persen.

Persentase terbanyak ada di Kabupaten Malang, mencapai 9,8 persen. Di peringkat kedua ada Kota Batu, dengan persentase 4,1 persen. Paling sedikit di Kota Malang, hanya 0,7 persen  

Ada berbagai alasan mengapa jumlah petani muda atau milenial itu minim. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Slamet Husnan menuturkan, mayoritas orang tua yang bekerja sebagai petani tidak ingin anaknya meneruskan pekerjaan tersebut. Orang tua ingin anaknya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih pasti.

Sebab, lanjut Slamet, salah satu risiko terbesar dari petani yakni gagal panen. ”Ada orang tua yang tidak mengizinkan anaknya melanjutkan usaha tani. Ada juga yang anaknya tidak mau bertani seperti orang tuanya karena dengan pertimbangan risiko cukup tinggi dan tidak menentu,” paparnya.

Slamet memastikan pihaknya tidak tinggal diam. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menarik minat anak muda dalam bertani. Sejumlah program aktif diberlakukan. Seperti melalui kegiatan workshop, bantuan benih, pestisida, racun tikus, jaring untuk pelindung bulir padi, alsintan (alat mesin pertanian), dan bantuan traktor tangan.

Selain itu, tahun ini pihaknya juga menggelar penghargaan kepada para petani milenial di Kota Malang. Itu untuk mengapresiasi mereka yang masih memilih jalur sebagai petani dan memiliki hasil nyata berupa produk pertanian yang memiliki daya jual.

”Saat ini kami upayakan orang tua agar bisa mendorong anaknya meneruskan sebagai petani. Kami juga menyewakan lahan bagi mereka yang belum memiliki tempat bertani. Nanti urusannya dengan BKAD,” tutur Slamet.

Menurunnya minat pemuda menjadi petani juga diutarakan beberapa Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan). Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Malang Nanang Junaedi mengatakan, dari 500 anggotanya, hanya ada tujuh orang dari kalangan milenial. Jika dipersentase, itu hanya 1,5 persen dari total anggota yang dimiliki.

”Saat ini cukup sulit menggaet pemuda bekerja di sektor pertanian. Ada sejumlah alasan yang mendasarinya. Mereka kebanyakan lebih memilih pekerjaan yang pasti, seperti di pabrik atau menjadi PNS,” terang Nanang.

Meski demikian, dia menyebut masih ada peluang untuk menggaet minat milenial menjadi petani. Tetapi, pemkot perlu bekerja ekstra dan prosesnya panjang. Nanang menerangkan, selain pelatihan, perlu juga bantuan permodalan untuk anak muda. Misalnya saja pemberian bantuan budi daya ikan, kemudian pakan sapi, dan bibit tanaman hias. Bila terealisasi, itu bisa membuat kalangan milenial melirik pekerjaan di bidang pertanian.

Terpisah, salah satu petani milenial di Kota Malang Jasmito menuturkan, agar bisa bertahan, dia memilih sesuatu yang sedikit berbeda dibanding petani lainnya. Jasmito memilih bertani sayuran dengan sistem organik.

Dia menerangkan, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat sayuran organik bagi kesehatan membuat sektor itu menjanjikan. Permintaan produk pertanian organik juga sering meningkat. ”Kami tidak pernah kesulitan mencari pasar. Karena setiap produk yang kami hasilkan selalu terjual habis, bahkan sering kekurangan stok,” jelas Jasmito.

Keterbatasan Lahan Jadi Kendala Milenial di Kota Batu

Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Batu Harijadi Agung menyebut alasan yang sedikit berbeda dari jarangnya petani muda. Dia menyebut, mayoritas generasi muda menganggap pekerjaan menjadi petani jauh dari kata keren.

Yang kerap ada di pemikiran mereka yakni bertani itu berurusan dengan tanah yang kotor. ”Padahal, petani itu profesi yang berjasa dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat,” terangnya. Agung menyebut, faktor lain yang menyebabkan anak muda tidak tertarik menjadi petani adalah masalah ketersediaan lahan.

”Tidak semua orang tua pemuda di Kota Batu memiliki lahan sawah. Maka dari itu, generasi milenial lebih memilih sektor pekerjaan lain,” tuturnya. Alasan lain yakni risiko rugi maupun gagal panen yang cukup tinggi. Contohnya di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, yang sering mengalami cuaca kabut.

Embun yang menempel di komoditas daun bawang merah bakal membawa dampak. Seperti hasil panen yang cepat busuk, serta daun yang berwarna kehitaman. Bila kabut terjadi selama dua malam saja, otomatis petani akan gagal panen.

Lanjut Agung, hal semacam itu lah yang membuat petani milenial takut rugi. Padahal, petani muda justru bisa memanfaatkan teknologi yang ada untuk memajukan kebutuhan pangan. ”Akibat kekhawatiran itu jumlah petani milenial di Kota Batu hanya sekitar 500 orang dari total 12 ribu orang,” bebernya.

Senada dengannya, Moh. Nurkholis, salah satu petani milenial sekaligus pengelola Batu Urban Farming menyebut keterbatasan lahan menjadi faktor utama generasi muda enggan menjadi petani. Padahal, dia mengatakan bila lahan yang sempit tidak menjadi kendala utama untuk bertani.

Sebab, dengan adanya sentuhan pertanian modern, lahan sempit bisa dijadikan area bercocok tanam di area perkotaan. ”Intinya, jangan malu berinovasi di bidang pertanian yang semakin maju, mandiri, dan modern,” jelas Kholis. Untuk pemerintah, dia berharap program pendampingan bisa lebih rutin diberikan. ”Perlu juga perbaikan di sektor jual dari petani. Untuk itu, pemerintah dan petani harus bersama-sama bergerak maju,” tambah dia.

5.300 Petani Muda di Kabupaten Belum Terjangkau Program

Sulitnya menggaet petani muda juga dirasakan Gapoktan di Kabupaten Malang. Seperti disampaikan Anton Wijanarko, Ketua Gapoktan Lestari Makmur Desa Wonokerso, Kecamatan Pakisaji. Di tempatnya, hanya ada beberapa petani yang berusia kurang dari 30 tahun. Mayoritas juga hanya dijadikan pekerjaan sampingan saja.

Sebab, komoditas yang banyak dikembangkan di sana hanya padi dan tebu, yang perawatannya tidak dilakukan setiap hari. ”Padahal peran mereka sangat penting untuk mengangkat taraf hidup petani,” kata Anton. Itu karena generasi muda dianggap mampu meningkatkan produksi dengan didukung pemanfaatan teknologi.

Berdasar data dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Pertanian (DTPHP) Kabupaten Malang, jumlah petani milenial yang terdata sekitar 8.900 orang. ”Dari jumlah tersebut, yang sudah terintervensi melalui program peningkatan kapasitas petani ada 3.600 orang,” ujar Kepala DTPHP Kabupaten Malang Avicena Sani Putera.

Dengan begitu, total masih ada 5.300 petani milenial yang belum menerima program peningkatan. Program tersebut seperti motivasi bisnis, kapasitas manajemen, kapasitas literasi keuangan, kapasitas penyusunan proposal, dan 15 latihan lanjutan pertanian serta pemagangan.

Avi mengatakan, petani milenial berusia di bawah 40 tahun cukup memiliki kesadaran tentang pentingnya penggunaan teknologi. Mereka juga familiar dengan teknologi informasi. ”Cara bertanam yang dikembangkan contohnya sistem pertanian ramah lingkungan atau organik dengan penggunaan eco-enzim,” imbuhnya.

Selain itu, para petani muda itu juga kerap memanfaatkan greenhouse dalam budi daya tanaman hortikultura. Baik menggunakan hidroponik maupun konvensional di lahan. Inovasi-inovasi seperti itu lah yang cukup dibutuhkan.

Untuk mendorong minat kalangan milenial, dia menyebut beberapa program yang rutin dilaksanakan. Seperti peningkatan kapasitas petani milenial lewat program The Development of Integrated Farming System in Upland Areas (UPLAND) dan Youth Entrepreneur and Employment Support Service (YESS).

UPLAND bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dengan pendanaan yang bersumber dari pinjaman luar negeri International Fund Agricultural Development (IFAD) dan Islamic Development Bank (IsDB). Alokasinya Rp 39,29 miliar, dilaksanakan selama 4 tahun sejak 2021 sampai 2024.

Program itu dilaksanakan dalam rangka peningkatan produktivitas pertanian dan pendapatan petani di dataran tinggi. Di antaranya dengan pembangunan infrastruktur berupa embung, pipanisasi, mesin-mesin produksi pertanian, bantuan pupuk, hingga pembiayaan berupa modal usaha petani.

Sementara program YESS dilaksanakan untuk pengembangan kewirausahaan dan ketenagakerjaan pemuda di sektor pertanian. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang Tomie Herawanto mengatakan, agar program tersebut dapat berjalan maksimal, diperlukan sinergi dari beberapa perangkat daerah (PD).

Seperti Dinas Sosial (Dinsos) untuk mengurangi angka kemiskinan. Juga Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) untuk mengurangi angka pengangguran. ”Pemuda yang belum bekerja akan diberi pembekalan. Sehingga, berpotensi menjadi wirausaha pertanian,” ujarnya. (adk/ifa/yun/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#petani #Milenial