Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

26 Kecamatan di Malang Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 30 Agustus 2023 | 20:00 WIB

 

Kebakaran hutan di lereng gunung Arjuno, Kecamatan Lawang Kabupaten Malang.
Kebakaran hutan di lereng gunung Arjuno, Kecamatan Lawang Kabupaten Malang.
Tiga Desa di Kota Batu Punya Ancaman Lebih Tinggi

MALANG RAYA –  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan puncak musim kemarau tahun ini ada pada Agustus hingga September. Salah satu yang perlu diwaspadai selain kekeringan adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Peringatan itu bukan isapan jempol, mengingat sudah terjadi dua kali kebakaran hutan di Kabupaten Malang pada tahun ini. Yakni di Kecamatan Pujon dan lereng Gunung Arjuno.

Kasus karhutla terbaru menimpa kawasan di Curah Sriti dan Bukit Lincing, kawasan lereng Gunung Arjuno yang masuk wilayah Kecamatan Singosari dan Kecamatan Lawang. Api membakar 143 hektare hutan dan lahan sejak Sabtu (26/8) dan berhasil dipadamkan kemarin (29/8). Namun kabar terbaru menyebutkan api terbawa angin dan kebakaran merambat ke hutan yang masuk wilayah Kabupaten Pasuruan.

Sebelumnya juga pernah terjadi kebakaran hutan yang masuk wilayah Desa Sukomulyo, Kecamatan Pujon pada 28 April 2023. Luas lahan yang terbakar waktu itu mencapai 2 hektare. Lokasi karhutla yang sangat tinggi dan curam sempat menyulitkan tim untuk melakukan pemadaman.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang menjelaskan, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebar di 26 kecamatan (dari total 33 kecamatan). Luas lahan yang potensi terbakar bervariasi. Yang paling besar di Kecamatan Pujon, yakni sekitar 109 hektare. Disusul Kecamatan Poncokusumo seluas 100,70 hektare, dan Kecamatan Tirtoyudo seluas 85,32 hektare.

”Perkiraan yang memiliki potensi ancaman karhutla itu 26 kecamatan. Indeks penduduk terpapar mencapai 692.739 jiwa,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan.

Api dipadamkan di lereng gunung Arjuno Kecamatan Lawang Kabupaten Malang
Api dipadamkan di lereng gunung Arjuno Kecamatan Lawang Kabupaten Malang

Dia menjelaskan, karhutla merupakan situasi terbakarnya sebuah permukaan di suatu lahan. Biasanya api membakar benda atau barang di atas permukaan seperti sampah organik berupa tumpukan dedaunan kering, pepohonan, dan semak. Lalu api menyebar secara tidak menentu.

Tahun ini dia menilai prediksi BMKG terkait kekeringan sangat tepat. Yakni tentang dua periode rawan karhutla pada Januari-April dan Juli-Oktober. Informasi bahwa kemarau musim ini lebih kering dibanding tiga tahun terakhir juga patut diwaspadai. Terbukti sudah terjadi dua kebakaran hutan pada periode rawan seperti yang diprediksi BMKG.

”Riset Badan nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan bahwa 99 persen karhutla terjadi akibat ulah manusia,” terang Sadono. Beberapa aktivitas manusia yang berpotensi menyebabkan kebakaran antara lain, berburu, mendaki gunung, pembukaan lahan, hingga membakar sampah organik. Kegiatan tersebut kerap disertai pembuatan sumber api, seperti api unggun atau meninggalkan puntung rokok.

Ada juga pembakaran hutan yang disengaja. Misalnya untuk mempermudah aktivitas perburuan liar satwa. Dengan adanya pembakaran itu, satwa akan terlokalisasi, sehingga memudahkan pemburu.

Sadono menambahkan, bahaya terbesar dari kebakaran hutan adalah terbakarnya lahan gambut. Dampak setelah kebakaran juga harus mulai diperhitungkan, seperti hilangnya sumber air dan rusaknya ekosistem. ”Lahan gambut yang terbakar akan melepaskan asap yang menyesakkan serta emisi gas rumah kaca yang lebih banyak ketimbang lahan biasa,” terangnya.

Gencarkan Imbauan untuk Pendaki Gunung

Di Kota Batu, Gunung Panderman dan lereng Arjuno menjadi titik yang perlu diwaspadai terjadi kebakaran hutan pada musim kemarau. Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu Agung Sedayu, karhutla yang sangat besar terjadi pada 2019 silam. Areal hutan seluas 300 hektare di lereng Gunung Arjuno ludes terbakar. Kebakaran berlangsung dua kali. Yakni pada 28 Juli - 2 Agustus dan kedua (15 - 19 Oktober).

”Saat itu petugas sudah berupaya untuk memadamkan dari darat. Namun cara itu tidak berhasil. Akhirnya BPBD Kota Batu berkoordinasi dengan BPBD Provinsi untuk meminta bantuan water bombing," tutur Agung.

Satu unit helikopter BNPB memang bisa didatangkan untuk water bombing. Airnya diambil dari Waduk Selorejo yang ada di Ngantang. Namun, meski sudah dilakukan water bombing, ternyata pemadaman bergantung pada kecepatan angin.

Agung berharap kejadian karhutla seperti pada 2019 lalu tidak  terulang kembali. Untuk itu, pihaknya selalu berkoordinasi dengan pos pantau Taman Hutan Raya (Tahura) Cangar dan pos pendakian Panderman – Buthak dalam mencegah bencana karhutla.

”Tujuannya untuk mengetahui peningkatan jumlah pendaki. Terutama saat weekend. Sebab, kebakaran hutan didominasi oleh faktor kelalaian manusia,” terangnya.

Salah satu kelalaian yang sering terjadi adalah seperti tidak  mematikan api sampai tuntas atau membuang puntung rokok sembarangan. "Sebenarnya sudah ada berbagai macam aturan di pintu masuk pendakian. Yakni, dilarang membuat api unggun,” jelasnya.

BPBD Kota Batu juga terus mencermati hasil pemetaan potensi bencana karhutla. Misalnya pada 19 Agustus lalu dilakukan apel siaga darurat bencana karhutla di Coban Putri, Desa Tlekung. Pihaknya juga selalu memonitor perkiraan cuaca dari BMKG. Apalagi, peningkatan status siaga darurat kekeringan dan kebakaran hutan lahan sudah tercantum dalam SK Gubernur Jatim Nomor 188/217/KPTS/2023 tentang Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla Wilayah Jatim. (pri/ifa/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#kebakaran hutan dan lahan #malang