Gelar Operasi Pasar dan Dropping Air Bersih
MALANG RAYA - Kemarau panjang tahun ini menimbulkan masalah baru bagi tiga daerah di Malang Raya.
Mulai dari kekeringan, kenaikan harga beras, dan meningkatnya jumlah kebakaran lahan.
Kewaspadaan masih perlu ditingkatkan, mengingat kemarau dan cuaca panas diprediksi berlangsung hingga November mendatang.
Di Kota Malang, dampak yang paling terasa akibat kemarau tahun ini adalah kenaikan harga beras dan meningkatnya jumlah kebakaran lahan.
Kekurangan air bersih tidak terjadi karena pasokan dari Sumber Pitu dan Sumber Wendit masih normal.
Dirut Perumda Tugu Tirta (PDAM) Kota Malang M. Noor Muhlas menjelaskan, pada musim kemarau panjang ini produksi air baku masih stabil.
Yakni berada di angka 1.647 liter per detik.
Jumlah itu cukup untuk melayani 176 ribu sambungan atau pelanggan.
”Tanpa kemarau pun, produksi air baku di Kota Malang sebenarnya masih kurang. Kebutuhannya 2.000 liter per detik. Makanya kadang ada pelanggan yang airnya kecil,” terang Muhlas.
Untuk memenuhi kebutuhan 2.000 liter per detik itu, pihaknya menambah instalasi pengolahan air minum tahun ini.
Yaitu Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) 2 Sawojajar dan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sungai Bango.
Terkait kenaikan beras, pemicu awalnya adalah melonjaknya harga Gabah Kering Panen (GKP).
Itu disebabkan penurunan produktivitas panen akibat kemarau panjang yang membuat petani enggan menjual GKP dengan harga murah.
Dalam kondisi normal, GKP dibanderol Rp 6.300 per kilogram.
Namun saat ini sudah mencapai Rp 6.700.
Kenaikan harga itu membuat Bulog tidak bisa menyerap padi dari petani, karena sudah di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Dampaknya, stok di pasaran untuk beras medium mengalami kekurangan dan menimbulkan kenaikan harga.
Dari awalnya Rp 12 ribu menjadi Rp 15 ribu.
Untuk itu mengantisipasi melonjaknya harga, Pemkot Malang dan Bulog menggulirkan program beras murah atau Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Beras dalam program itu disebar ke 23 pasar tradisional.
Yang sudah mendapatkan antara lain Pasar Dinoyo, Pasar Gadang, dan Pasar Blimbing.
”Kami target kan harga beras kembali turun menjadi Rp 12 ribu,” tutur Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat.
Pemkot Malang juga mempersiapkan operasi pasar pada bulan ini.
Total 5.000 paket tersedia untuk masyarakat umum.
Pemerintah memberikan subsidi Rp 50.000 untuk setiap paket.
Dari harga awal Rp 150.000 menjadi Rp 100.000.
Isi paket tersebut berupa gula, beras, dan minyak goreng.
”Kami akan terus kawal harga beras. Kemudian gula saat ini juga mulai menjadi perhatian,” tandas Wahyu.
Sementara itu, peningkatan kasus kebakaran lahan juga perlu menjadi perhatian di Kota Malang.
Pada September 2023 terjadi 18 kejadian.
Meningkat dibandingkan tahun lalu hanya 10 kejadian.
Sedangkan bulan ini (hingga pertengahan) kebakaran lahan sudah mencapai 21 kasus.
Kepala UPT Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Malang Agoes Soebekti menyampaikan, meningkatnya kebakaran lahan tak lepas dari dampak musim kemarau.
Dengan jarang terkena air hujan, lahan kosong yang biasanya ditumbuhi berbagai tanaman saat ini dalam kondisi sangat kering.
Hal itu mempermudah terjadinya kebakaran.
”Kadang ada masyarakat yang membakar sampah sembarangan. Kobaran api itu tertiup angin, akhirnya merembet ke mana-mana,” bebernya.
Jika memang warga terpaksa membakar sampah, Agoes mengimbau agar dipastikan api benar-benar sudah paham ketika meninggalkan area pembakaran.
Kekeringan Meluas ke Sembilan Desa
Kemarau panjang juga mengakibatkan kekeringan di Kabupaten Malang.
Hingga kini, kekeringan sudah meluas ke sembilan desa di empat kecamatan.
Yakni Desa Jabung dan Kemiri (Kecamatan Jabung), Desa Klampok (Kecamatan Singosari), Desa Sumbermanjing Wetan, Desa Kedungbanteng, dan Sumberagung (Kecamatan Sumawe), Desa Kalipare, Putukrejo, dan Kalirejo (Kecamatan Kalipare).
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan mengatakan, sejak awal Oktober, permohonan distribusi air bersih bertambah tiga desa.
Yakni Desa Kalipare, Putukrejo, dan Kalirejo, Kecamatan Kalipare.
Sehingga, distribusi yang sebelumnya diberikan ke enam desa, sekarang menjadi sembilan desa.
Total distribusi air per Sabtu lalu (14/10) mencapai se banyak 2,54 juta liter untuk 1.538 KK.
”Hampir setiap hari kami mendistribusikan air bersih dengan 3 hingga 4 rute pengiriman,” ujarnya.
Setiap desa mendapat alokasi yang berbeda.
Misalnya untuk Dusun Krisik, Desa Kemiri, mendapat alokasi 15.000 liter untuk 485 KK.
Untuk sementara, tanggap darurat kekeringan diperkirakan berlangsung sampai akhir Oktober.
Namun Sadono mengatakan bahwa distribusi air akan terus dilakukan hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.
Bahkan kalau berlangsung sampai melebihi batas waktu akhir Oktober, pihaknya tetap siap.
Kastuni, 63, salah seorang warga Dusun Krisik mengatakan, kekurangan air terjadi setiap tahun di tempatnya.
Padahal di dusun tersebut ada sumber yang mengalir.
Sayang, ketika kemarau panjang, alirannya semakin kecil dan tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.
”Setahu saya, setiap tiga hari sekali ada bantuan air dari pemerintah,” kata dia.
Karena usia dan faktor kesehatan, dia dibantu oleh putranya untuk mengambil air tersebut.
Sedangkan, masyarakat lain yang fisiknya masih kuat akan mengangkut air tersebut ke rumah masing-masing secara manual.
Air bantuan itu lebih banyak digunakan untuk mandi, masak, minum, dan wudu.
Kalau untuk cuci baju, masyarakat memanfaatkan sungai.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Pertanian (DTPHP) Kabupaten Malang Avicena Sani Putera mengatakan, daerah-daerah kekurangan air tersebut bukan termasuk sentra penghasil komoditas pangan.
Sehingga, kekurangan air tersebut tidak berpengaruh terhadap produksi tanaman pangan, utamanya padi.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang, tiga daerah dengan produktivitas terbaik adalah Kecamatan Sumberpucung, Pakisaji, dan Gondanglegi.
Hingga saat ini di tiga kecamatan tersebut masih belum ada laporan kekurangan debit air.
Di daerah lain seperti Kecamatan Lawang pun masih bisa melakukan panen padi.
Kemudian, di Kecamatan Dau dan Karangploso masih banyak padi yang sudah dalam fase vegetative atau fase pertumbuhan bibit padi.
”Setiap minggu, kami selalu monitor ke desa-desa melalui BPP (Balai Penyuluh Pertanian), belum ada keluhan kekurangan air,” ujarnya.
Memang ada beberapa daerah yang irigasinya mengalami penurunan debit air.
Tapi petani masih bisa mengatur air dan tercukupi, sehingga dampak kemarau panjang bagi sektor pertanian belum terlalu signifikan.
Contohnya yang diungkapkan, Sodiq, 64, petani di Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso.
Dia mengakui terjadi penurunan debit air.
Namun dia dan petani lainnya masih bisa mengatasi masalah itu dengan pengaturan irigasi.
”Kalau pukul 06.00-16.00 ke sawah yang padinya sudah hampir menguning. Pukul 16.00-06.00 ke sawah yang padinya baru tanam,” ujar Sodiq.
Menurutnya, padi yang baru ditanam lebih memerlukan banyak air agar cepat tumbuh dibandingkan dengan padi dewasa.
Kalau padi yang sudah dewasa hanya perlu air supaya tanahnya tidak kering.
Meski demikian, harga beras di Kabupaten Malang juga melonjak.
Hal itu diakui Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang Mahila Surya Dewi.
Saat ini pihaknya aktif melakukan monitoring melalui website pemantauan harga bahan pokok milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur.
Operasi pasar beras medium juga mulai dijadwalkan kembali setelah beberapa bulan berhenti.
Sebagai contoh, operasi pasar yang dilaksanakan di Kantor Kecamatan Karangploso beberapa waktu lalu.
”Waktu itu kami menggelontorkan 8 ton karung beras. Harganya Rp 50.750 per 5 kilogram,” kata Mahila.
Dengan harga tersebut, masyarakat bisa memperoleh beras medium dengan harga Rp 10.150 per kilogram. (adk/yun/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana