Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mengupas Sejarah Kesenian Bantengan, Ternyata Sudah Eksis Sejak Zaman Kerajaan Singhasari

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 15 Mei 2024 | 19:24 WIB
Photo
Photo

RADAR MALANG - Kesenian Bantengan merupakan warisan budaya yang kaya akan sejarah dan makna mendalam bagi masyarakat Jawa.

Meskipun sering diasosiasikan dengan zaman modern, keberadaannya ternyata sudah eksis sejak zaman Kerajaan Singhasari.

Bagaimana asal usulnya?

Mari kita telusuri jejak sejarah Kesenian Pertunjukan Bantengan.

 

 

Jejak kesenian Bantengan awalnya sudah ada sejak zaman Kerajaan Singhasari yang didukung dengan adanya relief-relief di beberapa candi pernah menjadi pusat Kerajaan Singhasari. 

Di zaman Kerajaan Singhasari, Bantengan diyakini memiliki fungsi religius dan digunakan dalam upacara-upacara tertentu serta ritual adat.

Meskipun bentuk kesenian Bantengan pada Zaman Kerajaan Singhasari belum seperti sekarang yang menari dengan topeng kepala Bantengan, mereka melakukan gerakan tari yang diambil dari gerakan Kembangan Pencak Silat. 

Kemudian selama masa kolonialisme Belanda, ada seorang tokoh bernama Mbah Siran dikenal karena menciptakan topeng Bantengan menggunakan tanduk banteng di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Selanjutnya, pada masa Orde Lama, kesenian tradisional Bantengan mulai menyebar ke berbagai daerah pegunungan di Jawa Timur.

Hingga saat ini, kesenian tradisional Bantengan telah berkembang di beberapa daerah di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Mojokerto, Kota/Kabupaten Malang, Kota/Kabupaten Batu, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Pasuruan.

 

 

Pertunjukan Bantengan merupakan gabungan antara gerakan tari, olah kanuragan, musik, serta mantra yang mampu menciptakan suasana magis yang kental.

Di samping itu, pertunjukan juga melibatkan atraksi dengan hewan banteng yang diperankan oleh dua orang sebagai kepala dan ekor.

Dalam setiap pertunjukan, Bantengan menampilkan sepasang banteng jantan dan betina serta tokoh binatang lain seperti harimau dan kera.

Keunikan Bantengan terletak pada ketegangan yang dirasakan saat menyaksikan para pemain Bantengan mengalami peristiwa kalapan atau kesurupan.

Selain itu, atraksi ini mencakup para pemain yang memperlihatkan kekuatan tubuh mereka dengan dipecut, namun tidak mengalami luka, bahkan ketika mereka menggigit properti-properti kepala Bantengan, mereka juga tidak mengalami cedera.

Bantengan di Malang sering ditampilkan dalam berbagai acara hiburan, bersih desa, acara khitanan dan pernikahan hingga festival kesenian yang berhasil menarik perhatian masyarakat. (Megan Inez Ayu Sabrina)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#bantengan mberot #singhasari