Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ternyata Menghasilkan! Sekali Event Bantengan di Malang Raya Raup Puluhan Juta

Bayu Mulya Putra • Senin, 26 Agustus 2024 | 20:02 WIB

Bantengan di Kota Batu beberapa waktu lalu
Bantengan di Kota Batu beberapa waktu lalu

MALANG RAYA - Angka perputaran uang untuk satu event bantengan cukup tinggi.

Bisa menyentuh angka puluhan juta.

Ada beberapa instrumen yang masuk dalam perhitungannya.

Yang pertama tentu biaya untuk menyewa kelompok bantengan.

Dalam satu event, biasanya ada beberapa kelompok bantengan yang dilibatkan.

Bisa dua hingga empat kelompok Bisa juga lebih.

Baca Juga: P Mberot! Ini Jadwal Bantengan di Pakis dan Pagelaran Malang 22 Mei 2024

Instrumen berikutnya yakni transaksi di penjual dadakan atau pelaku UMKM.

Instrumen yang paling tinggi yakni pendapatan parkir.

Sudah menjadi kabar umum bila ongkos parkir di eventevent bantengan cukup tinggi.

Banderol terendahnya Rp 10 ribu untuk satu motor.

Semakin malam, biasanya banderol parkir bakal meningkat (selengkapnya baca grafis).

Infografis Kebutuhan Operasional Event Bantengan.
Infografis Kebutuhan Operasional Event Bantengan.

Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM) Suroso menjelaskan, besaran parkir yang didapat juga bergantung pada kelompok bantengan yang diundang.

Beberapa kelompok yang terkenal seperti Putra Mandala atau Satrio Mboys bisa mendatangkan ribuan penonton.

”Bisa 3.000 sampai 5.000 orang yang hadir (kalau mereka main),” kata dia.

Dengan tarif minimal Rp 10 ribu per kendaraan, panitia bisa mendapat sekitar Rp 50 juta.

Sejauh ini, berdasar pengamatnnya, kebanyakan mereka yang mengundang grup bantengan cenderung untung.

Sebab penonton pasti banyak dan pendapatan dari parkir bisa menutup semua pengeluaran. Di sisi lain, bantengan juga kesenian rakyat.

Karena itu tarif untuk mengundang mereka lebih terjangkau.

Mereka bisa mengundang grup bantengan mulai dari banderol Rp 1 juta. Matador Mletre, salah satu kelompok bantengan membanderol tarif berdasar jarak.

Djuwintono, bagian penasihat kelompok itu, menyebut bila tarifnya antara Rp 2 juta sampai Rp 5 juta.

Semakin jauh, banderolnya semakin tinggi.

Baca Juga: Cegah Klaim Daerah Lain, Bantengan 'Mberot' Lereng di Kabupaten Malang akan Didaftarkan ke HAKI

Untuk satu event, mereka bisa membawa sekitar 20 kostum bantengan, makanan, dan bedesan. ”Total crew bisa mencapai 70 orang,” kata dia.

Untuk pertunjukan bantengan yang dilakukan beberapa grup, biasanya akan dibagi dalam beberapa durasi.

Satu grup bisa perform selama 1,5 jam.

Mereka akan bermain di dalam arena yang sudah dipagari.

Untuk ukuran arena menyesuaikan lokasi. Ada yang berukuran 18 x 18 meter.

”Yang punya jaranan juga sekarang kebanyakan membentuk bantengan,” tambah Djuwintono.

Sebab warga yang punya acara seperti khitanan atau ulang tahun kini lebih memilih mengundang grup bantengan.

Di tempat lain, Ketua Paguyuban Bantengan Patak Putih Hadi Prayitno mengatakan, biasanya mereka hanya menarik biaya Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu jika melakukan pentas mandiri.

Kemudian, mereka bisa mendapat antara Rp 5 juta sampai Rp 7,5 juta dalam sekali manggung. ”Dalam satu bulan, kami bisa tampil lebih dari lima kali,” ucapnya.

Terutama jika bulan tertentu seperti Agustus.

Pendapatan kotor itu diputar untuk berbagai kebutuhan. Misalnya saja untuk kebutuhan konsumsi crew yang tampil.

Sebab, dalam satu kali tampil, personel yang ikut pertunjukan bisa mencapai 60 orang.

Selanjutnya ada kebutuhan perawatan alat dan properti penampilan.

Dari segi properti, mereka memiliki beberapa banteng. Dua di antaranya dibuat dari tanduk dari banteng asli.

Tanduk banteng tersebut ditemukan saat Mulyadi, pendirinya, masih muda.

Tanduk lainnya yang digunakan yakni tanduk sapi atau tanduk kerbau. Untuk alunan musik, mereka tetap mengusung instrumen khas Malangan.

Misalnya saja alat musik jidor, ketipung, suling, dan terompet.

”Kalau musiknya ya khas Malangan atau berdasar permintaan. Biasanya musik pencak,” jelas Hadi.

Kualitas Tanduk Tentukan Harga Bantengan

Paguyuban Patak Putih juga memiliki anggota yang khusus bertugas untuk mengurus properti bantengan.

Dia adalah Ngadiyono atau yang akrab disapa Bodong.

Lelaki asal Jalan Kemantren Gang II, Kelurahan Bandungrejosari, Sukun itu biasanya membuat kepala banteng.

Baca Juga: Ternyata Pasukan Mberot Sebanyak Ini! Malang Raya Punya 1.336 Grup Bantengan

Baik yang menggunakan tanduk sapi, tanduk kerbau, atau replika tanduk dari kayu.

”Untuk satu kepala banteng, harganya antara Rp 400 ribu sampai Rp 2 juta. Bergantung ukuran dan material yang digunakan,” kata Ngadiyono.

Lelaki berusia 54 tahun itu menyebut, yang paling mahal untuk pembuatan bantengan adalah material tanduk.

Harga sepasang tanduk bisa mencapai Rp 1 juta. Tanduk yang digunakan biasanya dari sapi Donggala, sapi Bali, sapi Kalimantan, sapi Jawa, atau kerbau.

Itu belum kayu untuk wajah banteng yang harganya sekitar Rp 400 ribu.

Harga tersebut untuk kayu dengan diameter 40 sentimeter dan panjang 60 sentimeter.

”Jenis kayunya bisa kayu dadap, kayu nangka, kayu sengon, atau kayu lainnya. Tapi yang paling enak kayu dadap, harganya sekitar Rp 400 ribu. Kayunya ringan dan tidak mudah pecah,” imbuhnya.

Untuk warna, Ngadiyono menyebut bila kebanyakan kepala banteng diberi warna hitam.

Bedanya hanya terletak pada ukiran ekspresi banteng.

Ada yang matanya dibuat menonjol atau segaris saja.

Sementara mulutnya dibuat seperti menggertak atau tersenyum.

”Kalau banteng Malangan biasanya giginya dibuat menggertak dan matanya menonjol, karena identik dengan banteng liar,” tutur pria yang sudah membuat replika kepala banteng sejak duduk di bangku SMP tersebut.

Di samping replika kepala banteng, Ngadiyono juga membuat bagian ekor.

Bagian ekor yang digunakan dari lidi.

Untuk satu ekor, dibutuhkan sekitar 20 batang lidi.

Selain membuat replika kepala banteng, Ngadiyono juga melayani orang-orang yang hendak melakukan perawatan pada bantengannya.

Biayanya sekitar Rp 200 ribu.

Di tempat lain, Pendiri Sanggar Panca Budhi Barata Agus Susanto mengatakan, dalam satu tahun terdapat bulanbulan yang ramai dan sepi acara bantengan.

Jika diratarata, biasanya tujuh bulan akan ramai, dan lima bulan berikutnya sepi.

”Kalau bulan Agustus seperti ini ramai acara bantengan. Dalam satu bulan bisa 21 hingga 24 acara bantengan di Kota Batu,” kata pendiri sanggar di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu itu.

Baca Juga: Segera Sahkan Perda Kabupaten Malang untuk Lindungi Kesenian Bantengan

Sedikit berbeda dengan di Kota Malang dan Kabupaten Malang, di Kota Batu umumnya ada satu event bantengan yang digelar secara serentak.

Seperti event Bantengan Nuswantara, awal Agustus lalu.

Untuk mengikuti eventevent semacam itu, tiap sanggar harus mengeluarkan biaya. Tiap grup bisa mengeluarkan Rp 200 ribu dalam sekali acara.

”Namun jika acaranya besar seperti Bantengan Nuswantara kemarin, satu sanggar bisa menghabiskan biaya hingga Rp 6 juta lebih,” tambah Agus.

Tingginya biaya yang dikeluarkan tergantung dengan jumlah anggota yang diajak. Minimal 20 anggota dan maksimal seluruh anggota sanggar.

Agus sendiri memiliki 78 anggota. Biaya itu dibutuhkan untuk beberapa kebutuhan.

Seperti kendaraan pengangkut sound yang bisa menghabiskan Rp 1,5 juta.

Belum lagi untuk sewa pemain musik dan kebutuhan konsumsi. (iza/mel/sif/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kesenian #Kota Malang #bantengan