MALANG RAYA – Salah satu andalan menuju program zero waste adalah pemanfaatan TPS3R (Tempat Penampungan Sementara Reduce, Reuse, Recycle).
Jika seluruh sampah bisa diolah di fasilitas tersebut, maka tidak perlu ada lagi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Kota Batu termasuk wilayah yang mayoritas sampahnya sudah diolah di TPS3R.
Kota Batu memang sempat dilanda problem sampah pada 2023 lalu, ketika TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Tlekung ditutup.
Timbunan sampah bermunculan di berbagai sudut kota.
Namun masalah itu perlahan bisa diatasi melalui optimalisasi TPS3R.
Hingga kini sudah ada 18 TPS3R yang tersebar di 18 kelurahan atau desa.
Baca Juga: Maksimalkan Pengelolaan Sampah, DLH Kota Malang Tambah TPS3R di Kelurahan Cemorokandang
Artinya, masih ada 6 kelurahan atau desa yang belum memiliki TPS3R.
Total sampah yang bisa didaur ulang di 18 fasilitas itu mencapai 40 ton per hari.
Saat ini, seluruh TPS di Kota Batu juga tidak difungsikan.
TPA Tlekung hanya menerima sampah yang diangkut petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu dari 21 ruas jalan. Jumlahnya 30 ton per hari.
Sebenarnya ada sampah yang dikelola pihak ketiga, tapi volumenya tidak terdata.
Kabid Pengelolaan Persampahan dan Pengelolaan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Vardian Budi Santoso mengatakan, kebanyakan TPS3R mengelola sampah dari masyarakat desa dan kelurahan.
Sementara hotel dan restoran bekerja sama dengan pihak ketiga untuk pengelolaan sampah.
”Tapi ada juga TPS3R yang bekerja sama untuk mengelola sampah hotel maupun restoran,” katanya.
Hingga kini masih ada enam desa atau kelurahan yang belum memiliki TPS3R.
Masalah utamanya adalah ketersediaan lahan.
Misalnya rencana pembangunan TPS3R di Desa Beji.
Kebetulan, lahan pemerintah yang akan dibuat TPS3R berada di dekat makam pendiri Kota Batu yaitu Mbah Batu.
”Polemik masih terjadi di sana,” ujar Vardian.
Di sisi lain, 18 TPS3R yang telah dibangun juga masih memiliki masalah.
Utamanya iuran yang harus dibayar tiap warga. Menurut Vardian, besaran ideal untuk mengoperasikan TPS3R adalah Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per KK per bulan.
Hal itu berdasar kajian dan studi banding yang telah dilakukan.
Baik di TPS3R Kota Batu maupun luar Kota Batu.
Baca Juga: TPS3R Oro-Oro Ombo Terbakar
Faktanya, saat ini iuran yang diterapkan pihak desa berbeda-beda.
Bahkan tidak semua warga membayar tepat waktu.
”Banyak kasus pemerintah desa minus dalam pengelolaan TPS3R.
Hal itu bisa membuat keberadaan TPS3R tak berlangsung lama,” ungkapnya.
Saat ini pihaknya sedang membuat rancangan iuran pembayaran TPS3R per desa atau kelurahan.
Ke depan, biaya pengelolaan sampah di TPS3R juga akan dibantu menggunakan dana APBD melalui mekanisme PAK. Besarannya sekitar 2 persen.
”Harapannya ini akan menjaga keberlangsungan TPS3R di Kota Batu,” katanya.
Kabupaten Malang Kekurangan Armada
Sementara itu, pemanfaatan (TPS3R) di Kabupaten Malang juga mampu mengurangi residu sampah.
Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sebanyak 39 ribu ton sampah berhasil dikurangi sepanjang 2023. Kalau dirata-rata per hari sekitar 108 ton.
Namun, jumlah itu masih jauh di bawah volume sampah di Kabupaten Malang yang mencapai 966 ton per hari. Hingga kini di Kabupaten Malang terdapat 50 unit TPS3R.
Sebanyak 17 di antaranya merupakan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Baca Juga: Sampah TPS3R Jalibar Naik Dua Kali Lipat
Sedangkan 33 lainnya dibangun menggunakan dana desa (DD).
”Biasanya sampah yang masuk ke TPS3R diolah menjadi barang-barang kesenian. Termasuk untuk vas bunga dan tas daur ulang,” kata Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang Ahmad Dzulfikar Nurrahman.
Salah satu TPS 3R yang sudah beroperasi adalah TPS3R Mulyoagung Bersatu.
Tempat itu memiliki luas sekitar 2.778 meter persegi dan melayani sekitar 12.000 KK.
Per hari mampu memilah sekitar 15 ton sampah dengan pengurangan sekitar 3 ton.
Sedangkan 12 ton yang berupa residu diangkut ke TPA.
Kabupaten Malang juga masih memiliki 40 TPS yang menampung sampah sebelum diangkut ke TPA.
Artinya masih sangat banyak sampah yang belum diolah.
Namun, Pemkab Malang memperkirakan timbunan sampah akan bisa kembali dikurangi tahun ini.
Mereka gencar melakukan aktivitas clean up.
Pada pertengahan Agustus 2024 sudah ada 140 titik clean up dengan total sampah yang dibersihkan sekitar 50 ribu ton.
Baca Juga: Nataru, Kiriman Sampah TPS3R Naik Dua Kali Lipat
Sampahsampah tersebut diangkut ke TPS terdekat untuk kemudian diangkut ke TPA.
”Sebisa mungkin masalah sampah bisa diselesaikan oleh semua layanan. Kalau bisa dilayani TPS3R terdekat, silakan. Kalau ada bank sampah terdekat, silakan. Kalau tidak ada sama sekali, DLH siap melayani,” ucap Afi.
Masalah lain yang dihadapi kabupaten Malang adalah kekurangan armada pengangkut sampah.
Dengan wilayah yang sangat luas, l mereka hanya memiliki 50 armada.
”Kebutuhan kami sangat banyak. Bisa mencapai sekitar 1.000 unit armada.
Namun, kami tetap mengoptimalkan armada yang ada,” pungkasnya.
Kota Malang Perlu Tambahan 20 TPS
Masalah berbeda dialami Kota Malang.
Kurangnya TPS mengakibatkan munculnya timbunan sampah di tempat yang tidak semestinya.
Pada saat yang sama, upaya menambah TPS baru kerap berhadapan dengan penolakan warga.
Saat ini di Kota Malang terdapat 37 unit TPS.
Jumlah itu tidak mampu menampung sampah yang dibuang masyarakat.
Tak sedikit warga yang membuang sampah tepi jalan.
Seperti di kawasan Jalan Muharto, Jodipan, dan Mojolangu.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang Noer Rahman menuturkan, 37 TPS sebenarnya sudah tersebar di lima kecamatan. Tapi itu belum cukup.
Idealnya, TPS tersedia di seluruh kelurahan.
”Di Kota Malang terdapat 57 kelurahan. Artinya masih kurang 20 TPS. Saat ini ada beberapa TPS yang melayani 3-4 kelurahan,” tutur Rahman kemarin.
Dia mengaku sudah berupaya mencari lahan untuk pengadaan TPS baru.
Namun kendala yang dihadapi justru berupa penolakan dari warga.
Mereka beralasan TPS bisa menimbulkan bau menyengat.
”Sekarang tidak ada warga yang mau di dekat rumahnya ada TPS. Memang bau, apa lagi saat musim hujan,” ungkapnya.
Yang juga disayangkan lagi, setelah menolak pendirian TPS di dekat permukiman, mereka tidak mau membuang sampah di TPS kelurahan lain.
Akibatnya timbul sampah liar yang berserakan di pinggir jalan.
”Dengan alasan lokasi TPS terlalu jauh, mereka buang sampah sembarangan di pinggir jalan,” imbuhnya.
Untuk mengatasi masalah itu, pihaknya berencana melakukan pendekatan yang lebih intens kepada masyarakat. Rahman juga berencana mengembangkan TPS tanpa bau.
”Dengan cara itu, mungkin ke depan jumlah TPS bisa bertambah,” tandasnya.
Untuk TPS3R (Reduce, Reuse, Recycle), di Kota Malang baru memiliki lima unit.
Yakni TPS3R Baleasri dan Basama di Kelurahan Bandungrejosari, TPS3R Velodrome di Kelurahan Madyopuro, TPS3R Bangkit di Kelurahan Buring, dan TPS3R Genting di Kelurahan Merjosari.
Lima fasilitas pengolahan sampah itu bisa mengurangi volume yang masuk ke TPA Supit Urang sebanyak 200 ton per hari.
Tahun depan ada rencana penambahan TPS3R di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang. (sif/yun/ adk/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana